Isra’ Mi’raj, Peristiwa Penting Dalam Sejarah Nabi Muhammad SAW

Posted: Juni 16, 2012 in Pengetahuan

Isra Miraj merupakan peristiwa di mana Nabi Muhammad SAW, dalam suatu malam melaksanakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dengan bimbingan Malaikat Jibril pada waktu itu, ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Peristiwa Isra Mikraj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu
dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Ada sumber lagi yang menyebutkan peristiwa Isra dan Mi’raj berlangsung lailan (pada sepotong, bukan sepanjang malam) sehingga menjadi peristiwa yang sangat luar biasa. Karena, saat Isra dan Mi’raj, sekali-kalinya Allah SWT berfirman kepada beliau tanpa perantara Malaikat Jibril RA.

Isra Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Akan tetapi, dalam kitab Mukhtarul Ahadits An-Nabawiyah, dijelaskan bahwa perjalanan spritual Nabi Muhammad, diawali dengan ujian berat di mana beliau yang baru saja ditinggal wafat istri tercintanya, Siti Khodijah dan tak lama kemudian disusul kematian pamannya, Abu Tholib.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya “rahmah” Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. “warahamatii wasi’at kulla syaei”, demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam yang merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk “berjalan-jalan” (saraa) menelusuri napak tilas “perjuangan” para pejuang sebelumnya (para nabi). Bahkan dibawah serta melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di “Sidartul Muntaha”.

Pentingnya Isra Miraj Bagi Umat Muslim

Bagi umat muslim, peringatan Isra’ Mi’raj yang jatuh pada tanggal 17 Juni 2012 merupakan sebuah penghormatan serta cerminan cinta umat muslim kepada figur tauladan yang mempesona, yakni Nabi Muhammad Saw. Adanya ritualisme peringatan Isra’ Mi’raj bukan semata-mata kegiatan seremonial belaka, tetapi mempunyai arti penting dalam mengilhami nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman untuk menyempurnakan perjalanan hidup manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Bahkan, dikutip dari salah satu sumber seorang tokoh Muhammadiyah Din Syamsudin (2010) menilai bahwa masalah utama bangsa Indonesia adalah buta aksara moral. Apa yang dikatakan Din Syamsudin memang bukan tanpa alasan. Buta aksara moralitas yang mendera bangsa ini lebih berbahaya dibandingkan buta aksara huruf Latin dan Arab. Bukan hanya lapisan bawah dan kaum elite, bahkan kaum terdidik juga mengalami buta aksara moral.

Dalil Puasa Pada Isra’ Miraj

Tanggal 27 Rajab dipercaya sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Ternyata, ada sebagian orang yang berpuasa khusus di hari itu dengan alasan bahwa hari itu adalah hari Islam, di mana Allah SWT memberi anugerah besar kepada Rasulullah dengan Isra’ Mi’raj yang terjadi pada hari itu.

Syaikh Dr Yusuf Qardhawi dalam Fiqih Puasa menjelaskan berpuasa pada peringatan Isra Miraj sebenarnya tidak ada dalilnya dalam syariat puasa. Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk mengingat nikmat besar yang dianugerahkan kepada mereka, sebagaimana nikmat dalam Perang Ahzab.

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika datang pasukan-pasukan kepada kalian, maka Kami utus angin dan pasukan tak terlihat untuk menghancurkan mereka” (QS. Al Ahzab : 9)

Meskipun demikian, mereka tidak pernah mengingat hari-hari ini. Semua melupakan nikmat ini, tenggelam oleh nikmat syawal dan lain-lain.

Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata, “Para sahabat dan tabiin tak pernah mengkhususkan malam isra’ dengan amalan tertentu, tidak pula memperingatinya dengan acara tertentu. Oleh karena itu, tidaklah malam isra’ dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah.”

“Tak ada dalil yang diketahui tentang bulannya (terjadi isra’ mi’raj), tentang sepuluh harinya, apalagi hari H nya. Bahkan nukilan tentang itu semua terputus riwayatnya dan saling berselisih. Tak ada yang qath’i tentangnya dan tak ada syariat bagi umat Islam untuk mengistimewakan malam (27 Rajab) itu dengan shalat atau lainnya.”

Dengan demikian, meskipun malam 27 Rajab telah termasyhur sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, sesungguhnya tak ada dalil tentang itu.

Kemudian, dalam tulisannya Mohammad Sofwan menerangkan ketika memperjalankan hamba-Nya dengan peristiwa Isra, Allah SWT membuka kesempatan yang sama kepada seluruh manusia untuk bisa mencapai derajat kemuliaan. Karena, seluruh manusia sama-sama bisa menjadi hamba Allah SWT.

Berbeda seandainya yang diperjalankan adalah seorang nabi, tidak semua orang bisa menjadi nabi; atau seorang kaya, tidak semua orang bisa menjadi orang kaya; atau ulama, tidak semua orang bisa menjadi ulama; atau keturunan nabi, tidak semua orang lahir sebagai keturunan nabi.

Tidak ada alasan bagi seseorang untuk membanggakan ilmu dan hartanya, karena ilmu dan harta adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan. Hendaknya bersyukur ketika semua itu membuatnya menjadi hamba Allah SWT yang sebenarnya.

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Isra’ [17]: 1).

NB : Diolah dari berbagai sumber

Komentar
  1. akiadnani mengatakan:

    Dua sumber hukum atau sumber berita, dalam dunia Islam, pada awalnya hanya Alquran (kata-kata atau lisan Rasulullah) pada zaman-zaman berikutnya, setelah Rasulullah meninggal, muncul sumber-sumber yang dipaparkan oleh para sahabat dengan menyandarkan bahwa cerita atau ungkapan itu berasal dari Rasulullah, Dari situlah munculnya hadits. Bila penulisan wahyu, yg kemudian di juluki mushaf, baru terjadi pada kekahalifahan Utsman bin Affan (sekitar th 21 H), maka penulisan Alhadits muncul setelah khalifah Umar bin Abdul Aziz l kepada imam Maliki,terbentukalah Kitab Almawtha . Lalu th 150H (tahun meninggalnya Imam Hanafi dan tahun kelahiran Imam Syafi’ie), setelah imam Syafie menjadi ‘Ulama maka sejak tiu Alhadits ditetapkan sebagai sumber hukum yg kedua setelah Alquran . Nyatanya, sekarang kalau ngaji ttg Alquran, namun haditsnya tidak muncul,kayanya kurang afdhal. Artinya Alhadis sudah papak atau sejajar dg Alquran. Alhadits mengalami pembaharuan, lantaran banyak hadits palsu berkeliaran. Hadits muncul sejak konflik politik pada zaman perpindahan kekuasaan dari khalifh Utsman kepada Khalifah Ali. Penyisiran hadits palu baru terjadi pada era Bukhari atau Muslim, shingga banyak hadits yg dipseudo, atau dibatalkan kemudian hadits-hadits tsb., disebut dhaif atau munkar. Ketika sampai kepada hadits ttg Isra Mi’raj yg banyak diriwayatkan oleh Shaih Bukhari dan Muslim melalui sahabat Anas bin Malik (plus sanad-sanadnya sekitar 3 hingga 5 orang, dari Rasulullah hingga Bukhari atau Muslim). Pertanyaannya: Kkira-kira pada tahun berapa hadits yg menceriterakan bahwa Rasulullah itu Isra dan atau Mi’raj? Sekali lagi, tahun berapa hadits isra dan Mi’raj itu sampai kepada terbentuknya kitab hadits tsb? Jadi bukan bertanya ttg kapan peristiwa Isra Mi’rajnya, karena kalau bertanya tentang terjadinya Isra Mi’raj, jelas banyak versinya. Kemudian, kita boleh bertanya pula , sudahkan hadits isra-miraj yg panjang lebar tsb., dikonfirmasikan atau distubstitusi dg Alquran?. Selaraskah kisah itu dengan kandungan ayat-ayat Allah/mushaf Alquran? Sedangkan dalam kisah isra Miraj itu sendiri, Anas bin Malik tidak mencantumkan satu ayat Alquranpun di dalamnya. Adapun QS17:1 atau QS53:1-18 diseret para ulama untuk menjastifikasi keyakinannya kpd kisah tsb., Mengapa kita mencoba membuktikannya melalui penelusuran ayat-ayat Allah, langsung saja percaya tanpa reserve, tanpa kritisi atau taklid buta? Tidak terfikirkankah bila hadits tersebut termasuk Israiliyyat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s