Harga Kedelai di Jatim Alami Gejolak

Posted: Agustus 28, 2013 in Bisnis dan Ekonomi

ANTARA/ Saiful Bahri Pekerja menunjukkan kedelai impor asal AS di UKM pembuatan tahu Desa Teja Barat, Pamekasan, Jatim, Jumat (23/8). Harga kedelai impor naik dari Rp 7.500 per kg menjadi Rp 8.500 per kg akibat merosotnya nilai rupiah terhadap dolar sehingga harga jual tahu tempe terpaksa dinaikkan sekitar 11 persen.

ANTARA/ Saiful Bahri
Pekerja menunjukkan kedelai impor asal AS di UKM pembuatan tahu Desa Teja Barat, Pamekasan, Jatim, Jumat (23/8). Harga kedelai impor naik dari Rp 7.500 per kg menjadi Rp 8.500 per kg akibat merosotnya nilai rupiah terhadap dolar sehingga harga jual tahu tempe terpaksa dinaikkan sekitar 11 persen.

SURABAYA-Harga kedelai di Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir ini terus mengalami gejolak. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Di sisi lain, tingginya permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan yang mencukupi.

Mengutip data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) di Jawa Timur, harga kedelai lokal sejak awal pekan lalu (26/8) mencapai Rp 8.260 per kg, sedangkan kedelai impor Rp 8.700 per kg. Sebelumnya harga kedelai berkisar antara Rp 7.200 per kg sampai Rp 7.800 per kg.

Kenaikan harga tersebut diakui Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Budi Setiawan disebabkan oleh pukulan ekonomi mulai dari akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sampai pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Importir kedelai banyak yang mengeluh karena biaya produksi mereka naik, sehingga akan mempengaruhi harga,” kata Budi, Selasa (27/8).

Di samping itu, Budi mengungkapkan kenaikan harga kedelai juga dipicu oleh kenaikan harga kedelai dunia. Dalam posisi ini, Budi mendesak agar pemerintah pusat segera memberi kelonggaran kepada Perum Bulog untuk segera melakukan importasi kedelai. Sebab, produksi kedelai lokal tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar.

“Sekitar 75 persen pasokan dipenuhi kedelai impor. Maka itu, Bulog harus segera merealisasi impor kedelai ini secepatnya. Selama ini tindakan cepat Pemerintah kurang, sehingga dimanfaatkan spekulan. Dalam hal ini Pemerintah tidak memiliki stok,” jelasnya.

Menurut Budi, kebutuhan kedelai di Jawa Timur mencapai 550 ribu ton per tahun, sementara produksinya masih berkisar diangka 400 ribu ton per tahun. Produksi kedelai dari Jatim, lanjut Budi, memberi kontribusi 43 persen terhadap produksi nasional yang mencapai 856 ribu ton.

Karena itu, agar gejolak harga kedelai tidak merembet ke harga bahan pokok lainnya, Pemerintah Pusat diharapkan segera melakukan intervensi dengan menerapkan kebijakan mengurangi atau menghapus bea masuk (BM) kedelai. “Kebijakan lainnya yaitu mensubsidi koperasi. Ini langkah mendesak. Tapi harus ada kesepatakan bahwa subsidi diberikan selama jangka waktu tertentu,” lanjutnya.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s