Modal Rp 2,5 Juta, Sukses Bawa Astra Mendunia

Posted: Desember 26, 2012 in Balada Kehidupan

display FOUNDING FATHERS williemMeski raganya sudah tiada, William Soeryadjaya atau yang biasa disapa Oon William masih dikenang banyak orang. Jasanya menciptakan pengusaha handal dan menciptakan lapangan kerja masih membekas sampai kini. Siapa sangka, dalam mendirikan Astra, dia hanya bermodalkan Rp2,5 juta.

PT Astra International Tbk (ASII) kini menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang banyak memiliki anak usaha. Keberadaan Astra tak terlepas peran pendirinya yaitu William Soeryadjaya. Sayang, pada 2 April 2010 dalam usia 86 tahun dia harus meninggalkan tugas-tugasnya di dunia menghadap sang Pencipta.

Astra yang hingga semester III-2012 lalu mencetak laba Rp 14,7 triliun, ternyata modal awalnya hanya Rp 2,5 juta saat didirikan 20 Februari 1957. Dalam buku ‘Man of Honor Kehidupan, Semangat dan dan Kearifan William Soeryadjaya’ disebutkan, pada waktu pendirian tersebut, Astra hanya bermodal 2.500 saham.

Berdirinya Astra merupakan salah satu titik tonggak Oom William sebagai seorang pengusaha. Sebelumnya ia kerap jatuh bangun dan gagal menggeluti usaha berdagang, bahkan waktu kecil ia sempat putus sekolah ketika usai 19 tahun. Ia kemudian banting setir menjadi pedagang kertas di Cirebon. Selain berdagang kertas, William muda juga berdagang benang tenun di Majalaya. Tak begitu lama, ia beralih menjadi pedagang hasil bumi, seperti minyak kacang, beras, dan gula.

Dari perolehan hasil berdagang itu, William muda lalu melanjutkan studinya ke Belanda, dengan masuk ke Middlebare Vakschool V/d Leder & Schoen Industrie Waalwijk, sekolah industri yang mengajarkan penyamakan kulit. Begitu kembali ke Tanah Air tahun 1949, William mendirikan industri penyamakan kulit, yang kepengurusannya dia serahkan kepada seorang kawannya. Tiga tahun kemudian, William mendirikan CV Sanggabuana, bergerak di bidang perdagangan dan ekspor-impor. Cuma balanya, dalam menggeluti bisnis ini, ia ditipu rekannya. Beliau rugi jutaan rupiah.

Lima tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1957 bersama dengan Tjia Kian Tie, adiknya, dan Lim Peng Hong, kawannya, William membeli perusahaan kecil yang tak aktif berbasis ekspor-impor, lokasi kantornya di Jalan Sabang No 36 A, Jakarta. William dan para mitranya langsung mengganti perusahaan tersebut menjadi Astra. Nama Astra ini berasal dari mitologi Yunani yang artinya dewi terakhir yang terbang ke langit, dan menjadi bintang terang.

Sebagai pengusaha yang visioner, Oom William menambahkan kata ‘International’ sehingga menjadi PT Astra International. Pada waktu itu William ada keinginan agar perusahaan barunya ini bisa berkiprah secara global. Sedangkan Kian Tie, mengusulkan agar ada simbol perusahaan yang mewakili nama perusahaan yang cukup mentereng tersebut. Maka muncullah logo bola dunia, sebagai logo perusahaan mereka.

William pun ingin memberi kesan perusahaanya sebagai perseroan yang berbobot, walaupun pada awalnya Astra yang ada di sebuah toko sempit di Jalan Sabang ini hanya memiliki 4 karyawan. Kadang, bila musim hujan tiba toko itu tak lepas dari kebanjiran.

Pada mulanya bisnis William hanya bergerak dalam pemasaran minuman ringan merek Prem Club, lalu ditambah dengan mengekspor hasil bumi. Dalam perkembangan berikutnya, lahan garapan usaha Astra meluas ke sektor otomotif, peralatan berat, peralatan kantor, perkayuan, dan sebagainya. Astra tumbuh bak “pohon rindang”, seperti yang ditamsilkan William sendiri.

Keberhasilan Astra ketika itu, diakui William, tidak terlepas berkat ada kebijaksanaan Pemerintah Orde Baru, yang memberi angin sejuk kepada dunia usaha untuk berkembang. Salah satu contohnya tahun 1968-1969, Astra diperkenankan memasok 800 kendaraan truk merek Chevrolet. Kebetulan, saat itu pemerintah sedang mengadakan program rehabilitasi besar-besaran. Saking banyaknya yang membutuhkan, kendaraan truk itu laris bak pisang goreng. Apalagi, ketika itu terjadi kenaikan kurs dollar, dari Rp 141 menjadi Rp 378 per dollar AS. “Bisa dibayangkan berapa keuntungan kami,” ujar Oom Willem. Sejak itu pula Astra kerap ditunjuk sebagai rekanan pemerintah dalam menyediakan berbagai sarana pembangunan.

Ciptakan banyak enterpreneur

Oom Wiliam bisa disebut sebagai bapak entrepreneur Indonesia. Melalui dirinya banyak lahir pengusaha-pengusaha papan atas bahkan tak sedikit yang masuk daftar Forbes sebagai orang terkaya di dunia.

Para pengusaha-pengusaha yang ia lahirkan bukan hanya dari orang-orang di luar lingkaran Grup Astra. Namun banyak juga yang lahir dari para mantan anak buahnya yang sukses berbisnis setelah pensiun.

Semangat dan dan Kearifan suami dari Lily Anwar ini disebutkan banyak profesional Astra pada generasi pertama tahun 1960-an, generasi kedua era tahun 1970-an banyak yang menjadi pengusaha sukses setelah keluar dari Astra.

Misalnya Benny Subianto, karirnya di Astra telah membawanya menjadi 14 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2011. Kekayaan Benny mencapai US$ 1,05 miliar atau sekitar Rp 9 triliun, dengan posisi jadi orang terkaya ke-1.140 di dunia.

Karir Benny di Astra dimulai dari United Tractors hingga menjadi dirut, ia juga pernah di Astra International Tbk. Kiprah bisnisnya dimulai ketika ia pensiun dari Astra, ia bersama Garibaldi Tohir, Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno mendirikan PT Adaro Energy Tbk di bidang batubara. Benny juga pendiri dan Presdir PT Persada Capital Investama.

“Wah kalau dia sih orang Madura terkaya sedunia,” ujar William bercanda saat Benny masih menjadi karyawan di Astra dikutip dari buku Man of Honor.

Ternyata banyolan Oom William, menjadi kenyataan setelah 30 tahun berikutnya. Kenyataan ini ada anggapan bahwa William bukan hanya piawai dalam berbisnis namun juga pandai meramal nasib orang lain.

Hal yang sama pun terjadi dengan Teddy P Rachmat, senior Benny di Astra ini sempat dinobatkan sebagai orang terkaya ke-11 di Indonesia versi Forbes 2011. Teddy memiliki kekayaan hingga US$ 1,3 miliar atau setara Rp12,61 triliun (1 dolar AS Rp9,700).

Teddy setelah pensiun dari Astra, mendirikan Grup Triputra menjalankan bisnis batubara, agroindustri, manufaktur, dan dealership motor.

Lain cerita dengan Edwin Soeryadjaya, putra Oom William ini juga seorang yang juga masuk daftar orang terkaya versi Forbes. Edwin punya kekayaan US$ 1,6 miliar atau Rp15,52 triliun peringkat orang terkaya ke-6 di Indonesia versi Forbes 2011.

Dalam buku itu juga disebutkan masih ada nama-nama mantan ‘anak buah’ Oom William yang sukses menjadi pengusaha, antaralain Teddy Tohir, Subagio Wirjoatmodjo, Hagianto Kumala, Budi Setiadharma, Tigran, Budi S. Pranoto, Danny Walla, Tossin Himawan, Rahadi Santoso, Charlo Mamora. “Beliau memiliki sifat kebapakan dan mengayomi, serta membantu karyawannya untuk sukses,” kata Benny Subianto. dtc, ins

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s