Hary Tanoesoedibjo : Raja Media dari Surabaya

Posted: Februari 5, 2013 in Balada Kehidupan

Hary TanoeJULUKAN “Raja Bisnis Multimedia” memang kian lekat pada Hary Tanoesoedibjo. Apalagi sejak mengambil alih PT Bimantara Citra Tbk, tahun 2000 lalu, pria kelahiran 26 September 1965 ini langsung mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Dan, mimpi itu terbukti.

Di bawah bendera PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), Hary membangun berbagai media. Tahun lalu, dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia, pendapatan iklan MNCN naik 21,49% menjadi Rp 5,37 triliun dari tahun sebelumnya Rp 4,42 triliun. Pendapatan iklan MNCN melampaui pertumbuhan rata-rata industri yang hanya 15%.

Saat ini, mayoritas saham MNCN dikuasai oleh Global Mediacom dan kemudi perusahaan dipegang Hary. Pada 17 Oktober 2011, perusahaan investasi asal Amerika Serikat yang berbasis di Los Angeles, Saban Capital Group membeli 7,5% saham MNCN.

Lantas siapa sebenarnya pria yang memiliki nama lengkap Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo ini? Nama pria yang baru berusia 48 tahun ini belakangan ini kian melejit setelah mengundurkan diri dari Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Dia adalah raja bisnis multimedia di Indonesia. Jaringan bisnis medianya tersebar, mulai dari televisi, televisi berbayar, radio, koran, majalah, situs online, sampai rumah produksi.
Hary Tanoe atau HT ini, adalah jebolan Carlton University, Kanada. Ia sering bermain saham di Bursa Toronto, lalu mengenal sejumlah investor kakap dunia. “Sejak kuliah, saya mulai berpikir bagaimana supaya mandiri. Saya dagang di Kanada waktu itu,” ujar Hary pada pelantikan BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Bandung, pertengahan tahun lalu.
Lulus dengan meraih gelar Master of Business Administration dari Carlton University, ia pulang ke Surabaya. Di kota kelahirannya ini, pada November 1989 Hary mendirikan perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama, dengan modal awal hanya Rp 200 juta, pinjaman dari sang ayah.
Tak berselang lama, ia mengadu peruntungan di Jakarta. Ia masukkan PT Bhakti Investama ke lantai Bursa Efek Jakarta (BEJ). “Tahun 1997, usaha saya go public. Lalu pada 1998 terjadi krisis. Tapi saya manfaatkan momentum itu karena saya memiliki keyakinan Indonesia akan besar,” kata Hary.
Jakarta ternyata membawa hoki bagi Hary. Perusahaannya mulai terlibat dalam kegiatan investment banking, merger, dan akuisisi. Beberapa perusahaan bermasalah dia akuisisi, lalu diperbaiki, dan dijual. Konon, ia jarang menggunakan dana sendiri dalam aksi akuisisi. Caranya, ia mencari dana dari publik, dengan menawarkan saham atau melalui konsorsium.
Lihat saja, dalam peralihan saham berpengaruh PT Bimantara Citra Tbk, awal tahun 2000. Saat masuk ke Bimantara, 2002, ia tidak membentuk konsorsium dan tidak melakukan pinjaman modal. Modalnya justru dari keuntungan kegiatan investment banking Bhakti Investama.
Sejak mengambil alih Bimantara, ia sudah berangan-angan ingin menjadi kampiun di bisnis media. Angan-angan itu ternyata bukan berupa khayalan. Tak sampai lima tahun, ia berhasil menguasai tiga stasiun televisi, yakni RCTI, TPI, dan Global TV. Saham MNC sendiri 99% awalnya dimiliki oleh Bimantara, grup usaha yang dulunya digenggam Bambang Trihatmodjo, putera mantan Presiden Soeharto.
Sejak memiliki Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Kini, ia memiliki puluhan media, baik elektronik maupun cetak. Tak hanya itu. Hary juga mendirikan rumah produksi, perusahaan rekaman, sampai agen periklanan.
Banyak orang mengakui, kunci sukses Hary terletak pada kemampuannya menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Lihat saja ketika ia membenahi Bimantara yang terbelit utang.
Namun, tak sedikit yang menduga, awal keberhasilan Hary lantaran ia punya akses modal yang tersebar di berbagai negara. Ia juga diisukan sempat mengundang fund manager George Soros untuk ambil bagian 14,5% saham Bhakti Investama. Soros, pemilik Quantum Fund, adalah orang yang sampai sekarang dituding sebagai tokoh di balik krisis moneter di Indonesia tahun 1998 lalu. Apapun itu, yang jelas, suami Liliana Tanaja Tanoesoedibjo ini, pernah dinobatkan sebagai ‘Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005’ oleh majalah Warta Ekonomi.
Kian Melejit

Hary Tanoe bukan lagi sekadar pengusaha besar, tapi bak politikus kenamaan. Sejak melepas jabatannya dari Partai Nasdem, dia menjadi rebutan sejumlah partai politik. Ada Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Hanura, yang siap menampung. Hingga akhir pekan lalu, Hary belum bersedia menerima pinangan tersebut.

Tak hanya punya jaringan bisnis media. Bisnis Hary juga menyebar ke mana-mana. Dia juga menggarap bisnis jasa keuangan, tambang, dan portfolio investment.

Di bidang jasa keuangan, PT Bhakti Capital Indonesia Tbk yang kini menjadi PT MNC Kapital Indonesia Tbk mengasuh MNC finance, bank, ansuransi, sekuritas, dan lain-lain. Adapun di bidang pertambangan, Hary mengelola area tambang batu bara di Kalimantan dan Sumatra plus lapangan migas di Papua. Sedangkan portfolio investment mengasuh MNC Sky Vision, PT Global Transport service, dan lain-lain.

Jalan Tol dan Resor

November tahun lalu, kegiatan bisnis Hary genap berusia 13 tahun. Ulang tahun kelompok bisnis ini ditandai dengan mencaplok semua jalan tol yang dibangun dan dikelola oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) milik Bakrie Group senilai Rp 3 triliun.

Hanya saja, hingga tenggat waktu akhir transaksi Desember lalu, MNC Group belum menuntaskan pembayaran lantaran terganjal beberapa hal. Salah satunya, soal pengambilalihan fasilitas kredit sindikasi perbankan dan jaminan perusahaan (corporate guarantee).

Asal tahu saja, ELTY menjual dua jenis aset miliknya. Pertama, adalah anak usaha mereka, PT Bakrie Toll Road (BTR) yang memiliki lima konsesi jalan tol, yakni Ciawi-Sukabumi, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Batang-Semarang dan Pasuruan-Probolinggo. ELTY mematok harga lima konsesi jalan tol itu sebesar Rp 2 triliun. Kedua, ELTY juga menjual kepemilikan aset di Lido Resort senilai Rp 1 triliun. ELTY menjual kedua aset tersebut dalam satu paket kepada MNC Group pada akhir tahun 2012.

Di Lido Resort yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat ini, Hary berencana membangun taman hiburan sekelas Disneyland. “Ini akan menjadi kebanggaan Indonesia,” katanya beberapa waktu lalu.

Proyek yang akan dibangun di atas lahan seluar 1.000 hektar akan dimulai tahun ini. Hary memastikan, taman hiburan ini akan mengalahkan Universal Studio dan Disneyland yang ada di luar negeri. “Bukan seperti sekarang. Orang-orang, keluarga pergi liburan ke Disneyland, Universal. Kita jadikan destination,” tambah Hary.

Hary tak puas hanya sampai di sini. PT MNC Land Tbk (KPIG), perusahaan properti miliknya, pekan lalu mengumumkan akan membangun kawasan pariwisata terpadu Mandalika Resort di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Untuk membangun kawasan pariwisata ini, MNC menggandeng PT Gobel International, perusahaan yang dikendalikan Rachmat Gobel.

Pada tahap awal, MNC akan membangun hotel dan resor, lapangan golf, permukiman golf, serta permukiman di kawasan pantai. Proyek itu dibangun di atas lahan seluas 164 hektar. Untuk membuat Mandalika Resort sebagai resor ramah lingkungan kelas atas, MNC menggandeng Grup Club Mediterrannee (Club Med). Reputasi Club Med sebagai salah satu satu operator hotel dan resor andal telah diakui dunia internasional.

Beli Bank

Yang tak kalah spektakuler adalah rencana Hary yang akan melakukan ekspansi di bisnis keuangan. Lewat PT Bhakti Capital Indonesia Tbk (BCAB) yang kini menjadi PT MNC Kapital Indonesia Tbk, dia akan membeli dua bank devisa. Kabarnya, bank yang dilirik itu adalah Bank Windu Kencana dan Bank Bumi Putera.

Menurut Hary, dengan memiliki bank, MNC Kapital bisa lebih leluasa melakukan sinergi bisnis keuangannya. “Ini bukan ambisi Hary Tanoe, tapi strategi bisnis,” katanya beberapa waktu lalu. Saat ini MNC Kapital telah memiliki usaha sekuritas, asuransi, serta manajer investasi.

Bagi pengusaha seperti Hary, bisnis perbankan memang cukup menjajikan. Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa, negeri ini merupakan pasar jasa keuangan yang sangat besar. Selain itu, bisnis perbankan juga sangat menguntungkan. Bayangkan, saat ini net interest magin (margin bunga bersih) perbankan di Indonesia berkisar antara 4%-5%. Sebuah angka yang sulit diperoleh industri perbankan mana pun.

Tersandung Masalah

Namun, berbagai langkah bisnis Hary bukan tanpa masalah. Berkali-kali, dia sempat berurusan dengan aparat hukum terkait bisnisnya. Tahun 2004, misalnya, Hary terjerat kasus penerbitan Negoitable Certificate Deposit (NCD) fiktif senilai US$ 28 juta.

Transaksi jual beli surat berharga itu dilakukan antara PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) milik Siti Hardijanti Rukmana (Tutut) dengan Drosophila Enterprise milik Hary Tanoe. Dalam perjalannya, CMNP diambil alih Hary. Transaksi NCD itu diperantarai PT Bhakti dengan menggunakan peran Unibank. Tahun 2009, Abdul Malik Jan melaporkan Hary ke Bareskrim Polri. Namun, kasus ini sudah tak terdengar lagi.

Masalah bisnis dengan Tutut lainnya juga berujung pengadilan. Sebagai pemilik TPI, putri pertama Pak Harto itu kesulitan dana dan mengeluarkan obligasi konversi Rp 150 miliar. Hingga jatuh tempo pada 2002, TPI tidak sanggup mencicil utang dan ditolong oleh PT Berkah Karya Bersama milik Hary. Kedua belah pihak kemudian saling menggugat di pengadilan, berebutan kepemilikan TPI. Namun hingga kini TPI berada dipelukan Hary dan berubah menjadi MNC TV.

Kasus lainnya adalah Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum), proyek Kementerian Kehakiman dan HAM tahun 2001. Dalam membangun Sisminbakum, negara tak punya dana. Kementerian lantas menggandeng PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD), di mana pemegang sahamnya adalah Hartono Tanoesudibjo yang juga komisaris PT CMNP. Kejaksaan Agung menyatakan, uang akses fee Sisminbakum yang dipungut SRD harus masuk ke kantong negara, walaupun statusnya sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Hary pernah diperiksa sebagai saksi oleh Kejaksaan Agung untuk kasus ini pada Oktober 2010. Namun pada 31 Mei 20012, Kejaksaan Agung mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) kasus ini. Pertimbangan Kejaksaan Agung mirip dengan isi pertimbangan Mahkamah Agung yang memutuskan bahwa tidak ada unsur kerugian negara dalam proyek Sisminbakum.
Media di bawah kendali MNCN:
Penyiaran
Televisi
PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI)
PT Global Informasi Bermutu (Global TV)
PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (MNCTV)
PT Sun Televisi Network (Sindo tv)

Radio
PT MNC Networks (Global Radio, V Radio)
PT Radio Trijaya Shakti (Sindo Trijaya Radio)
PT Radio Prapanca Buana Suara
PT Radio Mancasuara
PT Radio Swara Caraka Ria
PT Radio Efkindo
PT Radio Citra Borneo Madani
PT Radio Suara Banjar Lazuardi
PT Radio Cakra Awigra
PT Radio Suara Monalisa (Radio Dangdut Indonesia)
PT Radio Mediawisata Sariasih

Lain – Lain
Media Nusantara Citra B.V.
MNC International Middle East Limited
MNC International Limited
Linktone Indonesia
MNC Pictures FZ LLC

Media cetak
PT Media Nusantara Informasi (Harian Seputar Indonesia)
PT MNI Global (Genie, Mom & Kiddie, Realita)
PT Hikmat Makna Aksara (Sindo Weekly)
PT MNI Entertainment (HighEnd, HighEnd Teen, Just for Kids Magazine)

Agensi periklanan
PT Cross Media Internasional
PT Mediate Indonesia
PT Multi Advertensi Xambani
PT Citra Komunikasi Gagasan Semesta

Manajemen artis
PT Stars Media Nusantara

Musik
Perusahaan rekaman
Impact Music Record
Rumah produksi
PT MNC Pictures
SinemArt
MD Entertainment
E-Motion Entertainment
Layar Production

Situs online
PT Okezone Indonesia
Okezone.com
Sindonews.com

Saluran MNC
MNC News
MNC Entertainment
MNC Lifestyle
MNC Business
MNC International
MNC Muslim
MNC Sport
MNC Comedy
MNC Drama
MNC Movies
MNC Fashion
MNC Infotaiment
MNC Shop

Segera Berdiri Tahun 2013
MNC Kid
MNC Valentine
MNC Era Baru
MNC Vasantham
MNC Art
MNC Rohani
MNC Golf
MNC Teens

Sumber : inilah.com

Iklan
Komentar
  1. dwihono berkata:

    Yth.Bapak Hary Tanoesuedibiyo
    di Jakarta

    Dengan hormat, saya siap mendukung Bapak sebagai calon wakil Presiden, bersama dengan rekan sepropesi kami di Palembang.
    Alamat Kami di SMA Nusa Bangsa Palembang, Jln.RW.Monginsidi No.34 Kecamatan Kalidoni Telp.0711-5625033 Plembang dan Nama saya Dwihono No.Contak persond saya : 081294479356
    Tks. Bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s