GELARAN WISUDA UK PETRA KE-63, LEPAS 482 WISUDAWAN

Posted: Februari 21, 2013 in Pendidikan

Surabaya, 20 Februari 2013-Sejumlah 482 wisudawan akan dilepas dalam acara wisuda UK Petra ke-63 yang akan digelar Sabtu tanggal 23 Februari 2013 bertempat di Auditorium UK Petra. Wisuda UK Petra kali ini dibagi menjadi dua shift, dimulai pukul 09.00-12.00 WIB dilanjutkan pada shift yang kedua dimulai pada pukul 14.00-17.00 WIB. Wisuda ke-63 UK Petra ini diikuti oleh mahasiswa program strata satu atau S1 sebanyak 469 mahasiswa serta program pasca sarjana 13 orang.

Ada yang istimewa dalam wisuda kali ini, akan diwisuda lulusan angkatan pertama dari Magister Manajemen sejumlah 9 orang. Shift satu pelaksanaan wisuda akan menghadirkan 230 wisudawan dari Program Manajemen Perhotelan, Internasional Bisnis Manajemen (IBM), Akuntansi Pajak, Akuntansi Bisnis, Manajemen Pemasaran, Manajemen Keuangan, Sistem Informasi Bisnis, Teknologi Informasi, Program Studi Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Arsitektur, Teknik Informatika dan Magister Manajemen. Dalam shift kedua acara wisuda akan diikuti oleh 252 wisudawan dari Program Manajemen Pariwisata, Manajemen Bisnis, Program Studi Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Sipil, Sastra Tionghoa, Sastra Inggris, Ilmu Komunikasi dan Pasca Sarjana.

Prosesi wisuda kali ini menghasilkan tujuh wisudawan cumlaude program S-2 dan 76 wisudawan cumlaude S-1. Wisudawan dari program S-1 yang berhasil meraih predikat cumlaude dengan IPK tertinggi 3,97 berhasil digenggam oleh Felycia Eri Putri Suparno, mahasiswi Program Akuntansi Bisnis dengan judul skripsinya “Analisa Hubungan Antara Intensitas Persaingan, Ukuran Perusahaan, Organisasi Pembelajaran dengan Penggunaan Sistem Informasi Akuntansi Pada Sektor Ritel di Surabaya” sedangkan Sesilya Kempa dari Magister Manajemen berhasil memperoleh IPK 3,93.

Berikut beberapa profile wisudawan ke-63 UK Petra :

Merliana Tjondro

Minimnya fasilitas rekreasi yang edukatif membuat mahasiswi Program Studi Arsitektur ini mengangkat tentang fasilitas rekreasi yang berbau sains namun fun bertajuk Wahana Rekreasi Edukatif Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia di Surabaya.

Konsep desain fasilitas ini adalah Fun Play Area untuk mendukung konsep pembelajaran Fun Learning dalam bangunan. Menurut mahasiswi peraih IPK 3,91 ini sangat memungkinkan untuk diterapkan di kota Pahlawan, sebab sebagai kota terbesar nomor dua di Indonesia masih belum mempunyai fasilitas seperti ini. “Konsep Fun Play Area disesuaikan dengan pengertian Fun menurut setiap kalangan usia. Pembagian zona berdasarkan karakteristik pengguna dan karakter belajar tiap kalangan usia, yang dibagi dalam zona anak (Discovery zone), zona remaja (Challenge zone), dan zona orang dewasa (Practical zone)”, urai gadis yang lahir pada 6 Maret 1990 ini.

Yohana Natalia Cahyono Tjio

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat mengganggap penting kehadiran hutan bakau. Dan fakta yang terjadi saat ini adalah pengolahan daerah hutan bakau masih belum terwujudkan dan belum bisa dikembangkan dengan baik oleh pemerintah maka dari itu Yohana membuat TA bertajuk “Pusat Edukasi Ekosistem Hutan Bakau di Surabaya”.

“Perancangan ini dibuat sebagai tanggapan untuk mewadahi aktivitas pembudidayaan hutan bakau dan keanekaragaman ekosistemnya yang dapat melibatkan masyarakat dalam proses pembangunannya sehingga minim biaya”, urai mahasiswi Arsitektur peraih IPK 3,62 ini. Pusat Edukasi Ekosistem Hutan Bakau ini merupakan fasilitas yang dibuat dengan pendekatan ekologi arsitektur untuk menjawab permasalahan utama yaitu merancang sebuah fasilitas yang dapat mengenalkan hutan bakau dan ekosistemnya bukan dari segi materi saja, namun dari arsitektur dan kondisi lingkungan sekitar sebagai wadah dari edukasi itu sendiri yaitu dengan mendalami tiga aspek yaitu material, konstruksi dan Passive Design.

Riyan Wicaksono

Batik. Siapa yang tak tahu warisan kebudayaan bangsa Indonesia ini ?. Sejak 2009 yang ditetapkan sebagai warisan dunia ini kemudian membuat bermunculannya motif batik. Salah satunya batik Probolinggo, namun sayang tak banyak tahu tentang batik ini maka pria Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ini mengangkat TA mengenai “Perancangan Film Dokumenter Batik Probolinggo”.

Mengapa film dokumenter? “Karena dengan membuat sebuah dokumentasi menggunakan film dokumenter, maka pesan maupun informasi yang ada dapat tersampaikan dengan lengkap melalui gambar dan suara. Sebuah Film dapat menyampaikan pesan tanpa terpaut jarak dan waktu sehingga masyarakat diluar kota Probolinggo yang ingin mencari tahu dan mengenal batik Probolinggo tidak perlu harus datang ke Probolinggo namun bisa mendapatkan informasinya melalui film tersebut”, ujar pria IPK 3.3 ini.

Indra Setyadi

Tugas Akhir berjenis foto yang bercerita (esai foto) yang diangkat oleh Indra mengenai “Perancangan Buku Esai Fotografi Penambang Batu Piring di Kabupaten Jember” ini berhasil meraih nilai A.

Kabupaten Jember terkenal akan hasil tambang berupa batu piringnya yang menembus pasar lokal maupun ekspor. Cerita tentang ironi kehidupan penambang batu piring di Kabupaten Jember tersebut merupakan tema yang menarik untuk dijadikan esai fotografi yang disajikan dalam format kumpulan foto (buku). “Diharapkan melalui buku esai foto, dapat disampaikan pesan yang diambil dari kehidupan para penambang, seperti kerja keras, semangat, pantang menyerah, dan tetap bersyukur walau dalam keadaan apapun”, ungkap mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s