’Perang Proxy’ Korut-Korsel

Posted: April 10, 2013 in Politik dan Pemerintahan

Pekan kemarin Korea Utara menaikkan status ‘keadaan perang’ dengan Korea Selatan. Iklim politik Semenanjung Korea semakin panas setelah Korea Utara menegaskan akan menyerang pangkalan Amerika Serikat dan Korsel jika terus melakukan provokasi.

Jika benar perang itu meletus, maka akan mengulang perang di masa silam. Perang antar dua Korea pernah terjadi dari 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953, adalah sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang ini juga disebut “perang yang dimandatkan” (bahasa Inggris proxy war) antara Amerika Serikat dan sekutu PBB-nya dan komunis Republik Rakyat Cina dan Uni Soviet (juga anggota PBB). Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan termasuk Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.

Sekutu Korea Utara, seperti China, menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet (sekarang Rusia) yang menyediakan penasihat perang dan pilot pesawat, dan juga persenjataan, untuk pasukan China dan Korea Utara. Di Amerika Serikat konflik ini diistilahkan sebagai aksi polisional di bawah bendera PBB daripada sebuah perang, dikarenakan untuk menghilangkan keperluan kongres mengumumkan perang.

Pada 25 Juni 1950, artileri telah diluncurkan, tank-tank dan pasukan infanteri militer Korea Utara mulai menyerang Korea Selatan, sebuah kawasan di selatannya berseberangan haluan secara politik, yang hanya dipisahkan garis imajiner 38˚. Lalu 4 Januari 1951, tentara Korea Utara yang dibantu China berhasil menguasai Seoul.

Selanjutnya pada 27 Juli 1953 – Amerika Serikat, China, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan saat itu, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.

Pada 60 tahun kemudian, tepatnya 26 Maret 2010, kapal perang Korea Selatan Cheonan tenggelam. Korsel menaruh curiga pada Korut. Hubungan kedua negara memanas. Dan 24 November 2010, Korut melakukan serangan artileri ke pulau Yeonpyeong yang menjadi markas militer Korsel.

Sejak perang 1950-1953, Korea Utara dan Korea Selatan tak pernah mengalami perang terbuka dan total, hanya ada serangkaian perang terbatas. Meskipun kedua negara memiliki dukungan negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia), tetap saja tak pernah terjadi perang berskala dan intensitas besar maupun massif. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa perang kedua negara bersaudara ini adalah perang Proxy, atau perang yang tak melibatkan kekuatan utama yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Perang tahun 1950-1953 berakhir dengan tanpa kemenangan, kecuali angka korban jiwa yang signifikan di kedua belah pihak. Ketika itu, politik global masih bipolar, Amerika Serikat dan Uni Soviet, perang masih dalam tataran perang militer, kemajuan tekonologi dan peradaban dunia tak sepesat sekarang. Ketika beragam permasalahan bilateral kedua negara bersaudara ini makin kerap terjadi, bisa saja pihak yang merasa terdzalimi, akan melakukan perlawanan. Siapa yang menzalimi dan terdzalimi tentu subyektif bagi kedua negara. Hal sekecil apapun bisa saja menjadi pemicu perang.

Kini, kedua negara ini diambang perang. “Mulai saat ini, hubungan Utara-Selatan akan memasuki keadaan perang. Semua isu menyangkut Utara dan Selatan akan ditangani dengan kondisi perang itu,” demikian laporan kantor berita resmi Korut KCNA, seperti dilansir Reuters, Sabtu (30/3) kemarin.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, pada Jumat (29/3), telah menandatangani surat perintah untuk bersiap siaga agar dapat melakukan serangan kapan saja ke pangkalan militer AS. “Seluruh pasukan artileri termasuk unit roket strategis dan unit artileri jarak jauh telah disiapkan di bawah kesiapan tempur kelas A,” demikian pernyataan komando tertinggi militer Korut yang biasa disebut Korean People’s Army (KPA), seperti dilansir AFP.

Kekuatan di Belakang Kim Jong-un

Kim Jong-Un, anak pasangan Kim Jong-il dan Ko Young-Hee. Seperti kakaknya, Kim Jong-Chul, Jong-Un juga disekolahkan di luar negeri. Jong-Chul mengenyam pendidikan di sebuah sekolah internasional di Swiss.

Pasca mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Kim Jong-il yang meninggal dunia pada 17 Desember 2011 lalu, banyak pihak meragukan masa awal kepemimpinan Kim Jong-un. Kim Jong-il telah lama mempersiapkan anak kelimanya ini sebegai generasi penerus. Kim Jong-il mempunyai lima anak, dimana Kim Jong Un adalah anak bungsu. Kedua kakak laki-lakinya tidak terpilih karena dicap sebagai playboy malas. Oleh ayahnya Kim Jong Un disebut sebagai ‘penerus besar untuk revolusi’.

Para pejabat intelijen di Korea Selatan dan Washington yang berhasil mengumpulkan data intelijen biografi Kim Jong Un, menggambarkannya, Kim muda sebagai seorang pemuda dengan tinggi badan sedang, agak kelebihan berat badan dan rentan terhadap tekanan darah tinggi serta menderita diabetes. Data intelijen terpenting menonjol adalah sifat dan karakternya yang sangat mirip dengan ayahnya. Tegas, kejam dan keras.

Tampaknya, setelah melihat perkembangan Korut dalam 2 tahun terakhir ini, Kim Jong Un telah membuktikan apa yang diungkap data intelijen itu. Kim Jong Un kini tampil dengan gaya seorang pemimpin besar Korea Utara. Ciri khas performance-nya, pipi montok berisi, rambut yang dipotong pendek, dengan tatapan matanya yang keras. Kim Jong Un terlihat sangat mirip dengan kakeknya Kim Il-sung, pendiri Korea Utara, yang masih sangat dihormati di Korea Utara sebagai dewa. Lalu siapa kekuatan di balik Kim Jong Un?

Sejumlah pengamat menggambarkan bahwa Jang Song-taek sebagai kekuatan di balik takhta di Korea Utara setelah kematian “Pemimpin Tercinta” Kim Jong-il. Namun siapakah Jang Song-taek? dan mengapa ia tampak punya pengaruh lebih di “Kerajaan Pertapa” itu ketimbang Kim Jong-un, putra Kim Jong-il yang masih 27 tahun dan penerus dinastinya itu?

Menurut para pengamat, Kim Jong-un, yang dijuluki sebagai “Penerus yang Agung” oleh media Korea Utara, telah dipersiapkan untuk mengambil alih Korea Utara, tetapi dipandang sebagai terlalu muda, belum teruji, dan belum siap untuk melangkah ke panggung besar sendirian.

“(Kim) berusia 28 tahun pada 8 Januari, dan meskipun dia menyandang gelar jenderal, Korea adalah masyarakat yang memerhatikan usia dan senioritas,” kata Scott Snyder dari lembaga think tank Dewan Hubungan Luar Negeri AS. “Jadi, gagasan dari orang yang berusia 28 tahun yang juga komandan militer sulit bagi orang luar untuk memahami dan masih harus dilihat apakah itu pada kenyataan awet.”

Jang berusia 65 tahun dan merupakan bagian dari lingkaran dalam Kim Jong-il. Sejumlah orang menggambarkan dia sebagai tangan kanan “Pemimpin Tercinta” itu. Sejumlah pengamat mengatakan, ia telah bertindak sebagai mentor bagi Kim muda sejak ayahnya menderita stroke pada 2008, dan mungkin telah bertindak sebagai caretaker.

Namun, menurut para pakar Korea Utara kepada MSNBC, hubungan Jang dengan dinasti Kim tidak seluruhnya positif atau mulus. Ia semula disingkirkan dari koridor kekuasaan ketika ia mencoba untuk menikahi adik Kim Jong-il, yaitu Kim Kyong-hee. Tahun 1972, dia menikahi Kim Kyong-hee dan kemudian menjadi Wakil Ketua Komisi Pertahanan Nasional atau orang nomor dua dalam jajaran komando di Korea Utara. Demikian lapor MSNBC.

Namun antara tahun 2003 dan 2006, ia tampaknya telah mengecewakan Kim Jong-il. Diduga, menurut MSNBC, yang mengutip situs militer GlobalSecurity.org, itu karena ia berusaha menghimpun kekuatan. Ia kembali hilang dari pandangan publik.

“Dalam satu hal, biografi (Jang) mengingatkan saya pada Deng Xiaoping,” kata analis Marcus Noland kepada MSNBC. “Mereka terus menyingkirkannya ke pedesaan dan ia terus datang kembali.”

Jang kembali tahun 2007. Ia, lapor harian Korea Selatan Chosun Ilbo, mengepalai pos pengamanan publik di Partai Buruh.

tabel data kekuatan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s