CMARs Jelaskan Penyerangan Syiah di Sampang

Posted: Mei 12, 2013 in Pengetahuan

Sampang 07052013 pk.12.00Intimidasi terhadap Syi’ah Sampang Madura tidak pernah usai. Pasca penyerangan pada 26 Agustus 2012 oleh massa anti Syi’ah, usaha penghilangan kelompok Syi’ah terus dilancarkan. Fenomena ini, menjadi cermin negara tidak punya itikad baik untuk menyelesaikan permasalah konflik Sampang.

Pada tanggal 4 Mei 2013, isu demonstrasi massa Anti Syi’ah semakin kuat. Sekitar pukul 21.00 WIB Center for Marginalized Communities Studies (CMARs) Surabaya mendapatkan informasi melalui Blackberry Messanger (BBM) tentang rencana penyerangan yang dilakukan massa demonstrasi pada hari Selasa, 7 Mei 2013. Pasca Roies Alhukama oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, isu penyerangan semakin kuat terdengar. Ironisnya, tidak ada usaha serius dari pemerintah untuk memahamkan kepada warga Anti Syi’ah tentang Hak Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan bagi setiap warga negara.

Ketidakseriusan dari pemerintah, menyebabkan demonstrasi massa Anti-Syi’ah termanifeskan. Pada tanggal 7 Mei 2013 massa Anti Syi’ah melakukan demonstrasi kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang. Massa mendatangi kantor DPRD pada sekitar pukul 10. 50 WIB. Mereka mengunakan 30 kendaraan, terdiri atas truk dan mobil jenis bison.

Pada pukul 11.15 pendemo memasuki kota Sampang dengan menyuarakan mengusir terhadap Ust. Tajul Muluk bersama jamaahnya keluar dari Madura. Mereka memarkir semua kendaraan di alun-alun Sampang, sekitar 50 meter dari tempat pengungsian di GOR Sampang. Tentu saja pengungsi merasa terintimidasi dengan aksi demonstrasi tersebut, mengingat trauma mereka terhadap penyerangan 2011 dan 2012 lalu. Dengan pengawalan dari pemerintah seadanya, mereka secara leluasa berteriak-teriak. Sesuai dengan selebaran yang mereka sebarkan, tertulis koordinator lapangan bernama Fathur Rosi, SH. Sampai berakhirnya aksi massa, CMARs belum dapat mengonfirmasi siapa sebenarnya Fathur Rozi tersebut.

Setelah beberapa saat melakukan orasi, pada pukul 12.00 WIB sebanyak 20 pendemo diterima masuk oleh anggota DPRD Sampang. Mereka menyampaikan tuntutannya tentang penolakan terhadap keberadaan Ust. Tajul Muluk dengan jamaahnya di Sampang Madura. Selain itu, mereka juga meminta pemerintah untuk segera mengusir pengungsi dari GOR Sampang.

Pukul 13.30 WIB, massa bergerak menuju kantor Bupati Sampang. Di sana mereka berorasi dan menyebarkan kebencian terhadap jamaah Syiah Sampang. Lagi-lagi, Bupati Sampang menerima 10 orang perwakilan massa demonstran untuk menyampaikan pendapat mereka.

Berdasarkan kejadian ini, Center For Marginalized Communities Studies (C-MARS) meminta keseriusan pemerintah untuk lebih serius menyelesaikan konflik Sampang Madura. Selain itu, C-MARs juga menuntut:
1. Mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk memberi jaminan keamanan terhadap pengungsi Syiah di Sampang Madura.
2. Menyesalkan sikap DPRD Sampang yang dengan mudah menerima sejumlah 30 orang demonstran, di sisi lain selama ini pengungsi tidak mendapatkan pelayanan yang layak dari DPRD Sampang.
3. Mendesak DPRD Sampang untuk menolak permintaan demonstran. Alasan pertama, sejak penyerangan tahun 2011, Tajul Muluk sudah berada di luar Sampang. Ia saat itu bertempat tinggal di Malang karena pengusiran oleh Kepolisian. Meski begitu, massa anti-Syiah tetap menyerang jamaah Syiah di Omben. Tahun 2012, Tajul Muluk juga tidak berada di rumahnya, ia saat itu berada di LP Sampang karena kriminalisasi keyakinan. Tetapi massa tetap membabi-buta menyerang jamaah Syiah di Omben. Artinya, keberadaan Tajul Muluk di Omben bukan alasan utama penyerangan jamaah Syiah Sampang. Penyerangan jamaah Syiah di Sampang murni dikarenakan adanya ujaran kebencian yang dilembagakan dan dibiarkan bergulir seperti bola salju. Jika pemerintah dan aparat kepolisian dengan tegas menangkap pelaku penyebar kebencian, maka persoalan ini bisa dengan mudah diselesaikan.
4. Mendesak Bupati Sampang untuk menolak permintaan demonstran dengan alasan yang sama seperti poin ke-3.
5. Mendesak Mahkamah Agung untuk menahan Roies Alhukama, karena proses hukum masih dalam upaya kasasi, dan belum in-cracht. Jika Roies Alhukama tidak ditahan, maka potensi penyerangan terhadap pengungsi Syiah Sampang akan terus terjadi.

Iklan
Komentar
  1. Siapa yg menabur angin akan menuai badai.siapa yg pertama menebar kebencian?.syiah yg memulai,dengan menebar kebencian kepada sahabat nabi.hingga saat ini.kami ahlussunnah tidak pernah ridho melihat syiah ada di lingkungan kami.kalo perlu usir mereka ke iran sana.hingga tidak ada lagi orang2 syiah di indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s