Jadikan 8 Mei sebagai Hari Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia!

Posted: Mei 12, 2013 in Pengetahuan

Rezim Neoliberal Sengaja Membiarkan Kasus Marsinah Kadaluarsa!

Salam rakyat pekerja,

Tanggal 8 Mei 2013, kasus Marsinah genap 20 tahun terbengkalai. Kasus pembunuhan secara keji
di masa pemerintahan militeristik Orde Baru itu, tidak pernah dituntaskan oleh rezim neoliberal saat ini. Padahal kasus yang dialami Marsinah ini telah menjadi catatan ILO (Organisasi Buruh Internasional), dikenal dengan Kasus 1713. Selain itu, Marsinah juga memperoleh penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1993 karena keberaniannya memperjuangkan hak buruh.

Marsinah memimpin para buruh di tempat kerjanya, di PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur untuk memperjuangkan kenaikkan upah pokok dari Rp 1.700 per hari menjadi Rp 2.250. Selain itu, Marsinah juga memperjuangkan kepentingan para buruh perempuan, yang menuntut cuti haid, cuti hamil, dan lain sebagainya. Marsinah kemudian dipanggil ke Markas Komando Rayon Militer (Koramil) setempat, karena memimpin aksi buruh di tempat kerjanya. Beberapa kawan sekerjanya bahkan dipanggil paksa karena terlibat dalam aksi-aksi itu. Hal tersebut sebenarnya menunjukkan, bahwa militer memang benar-benar berpihak dan berada di belakang pemilik modal untuk memberangus buruh yang melakukan perlawanan.

Namun karena keberaniannya itu juga lah yang akhirnya membuat aparatus militer rezim Orde
Baru merasa penting untuk menghilangkan nyawa Marsinah. Bahkan didapatkan bukti, sebelum meninggal Marsinah mengalami penyiksaan yang begitu hebat. Marsinah ditemukan meninggal di sebuah gubuk di hutan Wilangan, Kabupaten Ngajuk, Jawa Timur dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Vagina, tulang pinggul, dan lehernya hancur, perutnya luka tertusuk sedalam 20 sentimeter, sekujur tubuhnya penuh memar, lengan dan pahanya lecet.

Kasus ini pun tidak pernah diselesaikan oleh pemerintahan setelah Orde Baru hingga hari ini, selama 20 tahun. Besar kemungkinannya, rezim Neoliberal membiarkan kasus ini kadaluwarsa dengan sendirinya, sehingga kasus ini tidak bisa diganggu gugat lagi di kemudian hari. Para pelakunya pun bebas berkeliaran hingga saat ini.

Namun apakah perjuangan Marsinah dalam membela kaum buruh di Indonesia telah selesai?
Kenyataannya masih banyak permasalahan yang dialami buruh/pekerja di masa saat ini. Selain permasalahan upah murah, yang dulu juga diperjuangkan oleh Marsinah, para buruh di masa sekarang juga menghadapi kriminalisasi, sistem kerja kontrak, outsourcing, pembrangusan serikat, bahkan kasus yang terakhir adalah penyiksaan dan perbudakan terhadap para buruh. Pelecehan seksual dan diskriminasi gender terhadap para buruh perempuan juga masih kerap terjadi hingga saat ini. Artinya, perjuangan Marsinah untuk memperjuangkan hak buruh, khususnya buruh perempuan belumlah selesai.

Kriminalisasi dan penyiksaan yang dialami oleh Marsinah, bukan hanya dialami oleh kaum buruh di saat sekarang. Rakyat pekerja pada umumnya, seperti petani, nelayan, pedagang kecil, masyarakat adat, dan yang lainnya juga mengalami hal yang serupa. Kriminalisasi, penyiksaan, dan bentuk kekerasan lainnya hampir terjadi dimana-mana, berbarengan dengan konflik-konflik agraria yang kerap kali terjadi di masa sekarang. Artinya, dengan tidak dituntaskannya kasus Marsinah oleh rezim neoliberal atau malah membiarkan kasus Marsinah kadaluwarsa, bukan hanya berdampak pada kaum buruh saja. Namun hal ini juga akan melanggengkan praktik kriminalisasi dan penyiksaan yang selalu dialami oleh rakyat pekerja lainnya.

Tidak ada satupun partai politik yang bercokol di parlemen saat ini, berbicara mengenai pentingnya penuntasan kasus Marsinah. Hal ini terbukti dengan diabaikannya kasus Marsinah hingga 20 tahun. Artinya juga, partai-partai politik, elit politik, dan rezim neoliberal memang sengaja membiarkan kasus Marsinah kadaluwarsa dan dipeti-eskan. Hal ini justru akan semakin melanggengkan berbagai praktik kriminalisasi dan penyiksaan, yang selalu dialami oleh rakyat pekerja. Hal ini juga menunjukkan, bahwa partai-partai politik yang menguasai parlemen atau yang akan mengikuti kontes Pemilu 2014, justru berpihak kepada pemilik modal dan selalu berusaha menyengsarakan rakyat pekerja.

Oleh karena itu, kami dari Partai Rakyat Pekerja menyatakan sikap:
1. Menjadikan setiap 8 Mei, tanggal dimana Marsinah gugur, sebagai HARI PERJUANGAN BURUH PEREMPUAN INDONESIA. Hal ini adalah untuk menegaskan adanya kejuangan buruh perempuan. Karena buruh perempuan tak sekedar hadir, tak sekedar buruh, dan tak sekedar perempuan, melainkan buruh perempuan adalah ibu yang berjuang melahirkan anak, adalah buruh yang keringatnya dihisap kapitalis, dan adalah pejuang dalam perjuangan buruh di Indonesia. Setiap tanggal 8 Mei harus diingat adanya Marsinah sebagai pedoman perjuangan untuk menggerakkan semangat buruh-buruh perempuan yang sebagian masih malas berlawan.
2. Menjadikan Marsinah sebagai PAHLAWAN BURUH INDONESIA, karena keberaniannya memperjuangkan hak-hak buruh, khususnya buruh perempuan di masa Orde Baru.
3. Pengabaian rezim neoliberal terhadap kasus Marsinah menunjukkan, bahwa rezim ingin melanggengkan praktik-praktik penindasan terhadap rakyat pekerja, baik dalam bentuk kriminalisasi maupun penyiksaan.
4. Bangun kekuatan politik alternatif dari gerakan rakyat pekerja untuk menumbangkan rezim neoliberal dan melawan sistem neoliberalisme.
5. Kapitalisme-neoliberal telah gagal untuk mensejahterakan rakyat, dan hanya dengan SOSIALISME-lah maka rakyat akan sejahtera

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s