Memasuki usia 13 Tahun, Otda dan Desentalisassi belum maksimal

Posted: Juli 16, 2013 in Politik dan Pemerintahan

13 tahun pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi di Indonesia, belum menghasilkan pencapaian yang maksimal. Hal ini dikatakan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman dalam sambutannya pada pertemuan regional forum rektor Indonesia Se-Sumatera di Aula Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Medan, Sabtu (6/7).

Menurut Irman, dari tahun 1998 pasca reformasi hingga tahun 2013 atau hampir 13 tahun lamanya Indonesia telah melaksanakan desentralisasi dan otonomi daerah. Namun, kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia semakin meningkat.

“Ini ditunjukkan dengan indeks Rasio Gini yang terus meningkat dari 0, 30 pada tahun 1999 menjadi 0, 42 tahun 2013 ini. Artinya kesenjangan sosial dan ekonomi di negara kita justru makin parah dan sudah mendekati situasi lampu merah, sebab keberhasilan kita ternyata juga mendorong terjadinya disparitas yang kian meningkat,” terang Irman.

Lanjutnya, masa lima tahun pertama Otonomi Daerah dapat dikatakan sebagai era pancaroba dan setelah itu seharusnya dapat memasuki era konsolidasi yang menunjukan arah yang jelas. Faktanya, ketimpangan antar daerah tidak semakin baik. Dimana dalam 10 tahun terakhir angka
distribusi PDRB antar pulau di Indonesia berada dalam situasi timpang, dalam hal ini Pulau Jawa tetap mendominasi.

“Total PDRB negara kita sebanyak 54,7 persen disumbangkan ke pulau jawa, sekitar 27 persen berasal dari Pulai Sumatera, 9,8 persen dari Pulau Kalimantan, dan sisanya 10 persen berasal dari kawasan di Indonesia Timur yakni Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua,” jelasnya.

Sampai saat ini, masih terdapat 183 Kabupaten tertinggal dari 409 Kabupaten di Indonesia, atau
sekitar 45 persen dari seluruh kabupaten. Dan 70 persen dari semua kabupaten tertinggal ada di Indonesia bagian Timur.

Di sisi lain, terang Irman, ketimpangan dalam pembangunan infrastruktur antar daerah menyebabkan sistem ekonomi di negara kita tidak terintegrasi dengan baik. Di saat negara kita telah mengintegrasikan diri melalui berbagai kerjasama regional dan internasional seperti AFTA, APEC dan berbagai kesepakatan WTO, di dalam negeri sendiri terjadi disintegrasi ekonomi.

“Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya disparitas harga berbagai komoditas antara satu daerah dengan daerah lain. Seperti harga minyak goreng di NTT tiga kali lipat dari harga di pulau Jawa, begitu juga harga semen di Papua yang harganya 15 hingga 20 kali dari harga semen
di pulau Jawa,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, suatu daerah harus kreatif dan inovatif serta partisipatif dalam mengembangkan potensi daerah masing-masing sesuai dengan keunggulan lokal.

“Melalui otonomi daerah, setiap daerah berpeluang menjadi pusat keunggulan atau center of excellence, sesuai dengan potensi yang dimilikinya masing-masing daerah,” ujar Irman.

Untuk itu, Irman menilai, pembenahan bagi kelemahan pelaksanaan reformasi dan otonomi daerah memainkan peranan yang penting. Pemberdayaan masyarakat menjadi faktor utama penentu keberhasilan mewujudkan otonomi daerah dan desentralisaasi perlu memberdayakan
masyarakat.

“Untuk mewujudkan cita-cita itu diperlukan penegakan hukum demi kepastian politik dan ekonomi, kedua otonomi daerah harus didesain ulang dengan memperkuat otonomi pada tingkat provinsi bukan kabupaten/kota, ketiga, adanya penyempurnaan terhadap mekanisme pemilihan kepala daerah, keempat, membangun pusat pertumbuhan secara merata diseluruh indonesia, kelima, membangun sistem integrasi nasional serta keenam, meningkatkan daya saing daerah untuk bersaing dalam skala domestik maupun dunia.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia Prof Laode M Kamaluddin mengatakan kriteria pemimpin nasional mendatang haruslah sosok yang paham makna dan tujuan otonomi daerah sert amampu menerapkan kebijakan pembangunan yang merata dari Sabang hingga Merauke.

“Kita butuh pemimpin yang tidak Jakartasentris, memiliki rekam jejak (track record) yang baik. Paling tidak, calon pemimpin nasional itu harus sedikit catatan negatifnya,” ujar dia.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s