Jabatan adalah Amanah dan Tantangan

Posted: Juli 22, 2013 in Balada Kehidupan

Ir. Kardani, MM

Ir. Kardani, MM

Di awal menjabat sebagai Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Ir Kardani MM sudah dihadapkan pada setumpuk pekerjaan. Dia harus membawa perubahan pada sektor perikanan dan kelautan yang lebih unggul dan tertata. Bagaimana strateginya? Berikut penuturan pria kelahiran Malang ini di ruangannya, pekan lalu.

Kardani tidak menyangka jalan hidupnya bakal berhubungan dengan sektor perikanan. Padahal, ditilik dari akademisnya, dia merupakan lulusan Fakultas Peternakan di salah satu universitas negeri di Malang. Dia menganggap apa yang diemban saat ini adalah garis Tuhan yang patut disyukuri.

Menjadi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur merupakan sebuah amanah sekaligus tantangan baginya. Dinas Kelautan dan Perikanan merupakan salah satu Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKDP) Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang memiliki tugas mengembangkan sektor perikanan dan menjaga kelestarian wilayah pesisir dan pulau-pulau di Jawa Timur.

Lembaga ini memiliki 4 bidang, yaitu bidang tangkap, bidang pengolahan dan pemasaran perikanan, bidang pesisir dan pulau, serta bidang ikan budi daya. Meski berlatar belakang pendidikan di bidang peternakan, tentunya Kardani tidak ingin dinilai gagal dalam tugasnya.

Saat pertamakali mengemban jabatan sebagai kepala dinas, Kardani langsung membenahi sektor-sektor yang kurang produktif. Seperti di sektor budi daya. Kardani mulai mengembangkan budi daya sidat. Ikan sidat atau dalam bahasa latinnya anguilla rostrata merupakan makanan favorit warga Jepang.

Menurut Kardani, pembudidayaan sidat teramat sulit karena belum ada teknologi di Indonesia yang mampu membudidayakannya. Karena, ikan yang mirip belut tersebut punya cara hidup yang unik. Saat kecil sidat hidup di laut, sedangkan bila akan bertelur sidat berada di sungai.

Karena terbatasnya produksi, harganya pun terbilang mahal. Satu kilogram sidat mencapai Rp 125 ribu sampai Rp 200 ribu. “Kita masih dalam tahap menangkap benih lalu dibesarkan. Kita akan membiakkannya,” katanya.

Selain itu, Kardani mengintensifkan pengembangan kepiting dan rajungan serta ikan gabus. Pasalnya, Jawa Timur belum mampu memenuhi permintaan kepiting yang cukup tinggi. Hasil budi daya yang ada hanya sebatas memenuhi pasar lokal. Sementara permintaan kepiting di pasar internasional belum bisa terpenuhi. “Permintaan kepiting tinggi, tapi pembudidaya tidak bisa memenuhinya karna pasokan terbatas,” ujarnya.

Problema lain yang dihadapi bapak dari 3 orang anak ini adalah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang berimbas langsung terhadap nelayan di Jawa Timur. Bagaimana tidak, kenaikan solar dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 5.500 per liter membuat nelayan mengeluarkan biaya operasional yang lebih besar.

Belum lagi kuota solar untuk nelayan masih kekurangan, dan hasil tangkapan yang tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, Kardani mengajukan ke pemerintah pusat agar mengevaluasi kuota Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN). Adapun solar paket dealer nelayan di Jawa Timur yang masih beroperasi saat ini ada 24 SPDN, yang diantaranya berada di Muncar, Prigi, Trenggalek dan Sendangbiru, dan Malang.

Tampaknya Pemerintah Pusat merespon dengan baik. Tiap bulan sekali, dilakukan evaluasi kuota solar untuk nelayan di setiap SPDN. Rata-rata volume satu SPDN diberi kuota 130 kilo liter (KL) per bulan. Ke depan, Kardani ingin melakukan kerjasama dengan pihak swasta untuk menyediakan fasilitas yang lebih bagus kepada nelayan.

Di samping itu, dia ingin nelayan tidak hanya mengandalkan solar. Nelayan diharapkan beralih ke gas. “Tahun depan kita terapkan. Menggunakan gas akan memangkas biaya sebesar 30 persen,” katanya. Sebetulnya sebanyak 200 gas alam terkompresi (Compressed natural gas/CNG) sudah disalurkan ke nelayan. Sayang, setelah beroperasi selama 2 hari, program itu mandek. Alasannya stok gas tidak ada.

“Karena barangnya mahal. Sekarang dialihkan kembali ke LPG biasa. Dulu dengan menggunakan CNG bisa hemat 40 persen,” jelasnya.

Rentetan prestasi dan program yang tidak berjalan sesuai harapan tidak menjadikan Kardani pesimis . Biasanya dia membuat program skala prioritas. Tujuannya agar memilah program mana yang urgent, dan dipending sementara.

Sebagai orang yang sudah kenyang dengan birokrasi, dia paham betul kapan program yang sudah dicanangkannya akan diekskusi. Tentu, Kardani dalam menerapkan kebijakan tidak sembarangan. Dia banyak belajar dari jabatan yang pernah diemban sebelumnya.

Saat pertama kali masuk di Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Kardani langsung beradaptasi dengan baik. Sebelumnya, dia bergelut di bidangi koperasi sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur tahun 2000.

Dua tahun kemudian atau tahun 2003, ia diangkat menjadi Asistan III Pemprov Jawa Timur. Dan terakhir dia dipercaya oleh Gubernur Jawa Timur sebagai pemegang kendali Dinas Perikanan Jawa Timur pada tahun 2006.

Kardani bertutur, usai lulus dengan predikat sarjana peternakan, dia langsung mengabdikan diri di Departemen Koperasi di Surabaya pada tahun 1981. Dia dipercaya sebagai Kepala Departemen Koperasi Surabaya . Namun jabatan itu hanya berlangsung selama 5 tahun. Pasalnya, dia lagi-lagi dimutasi di Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Koperasi dan Peternakan selama 2 tahun sejak tahun 1986.

“Satelah itu saya mengikuti pendidikan Sekolah Kepemimpinan Tingkat Menengah (SPAMEN) di Jakarta sampai tahun 1996,” katanya. Lulus dari Spamen, Kardani mengaku tidak punya waktu berleha-leha. Dia diangkat menjadi Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Koperasi di Makassar. Sampai akhirnya dia kembali ke Jawa Timur.

Satu hal yang ingin dia capai dalam jabatannya sebelum memasuki masa pensiun adalah membantu nelayan atau pembudidaya ikan agar mudah mengakses permodalan di Perbankan. Dia menilai, sejauh ini nelayan atau pembudidaya masih kesulitan mendapatkan permodalan. Kondisi ini dipengaruhi oleh usaha nelayan atau pembudi daya dianggap belum bankable. Selain itu, para petambak belum memiliki agunan.

Oleh sebab itu, dia terus mendorong petambak agar mensertifikasi lahannya. Dengan sertifikasi itu, petambak bisa mengoptimalkan potensi lahannya dengan menghasilkan sedikitnya 60 ribu ton ikan per hektar tiap tahunnya.
Sebenarnya akses permodalan dari Perbankan ini menurut Kardani sudah dirasakan nelayan sejak tahun 2009 silam. Namun belum mencakup semua nelayan dan petambak di Jawa Timur. Dengan dukungan sertifikasi, setidaknya akan ada jaminan penyaluran kredit perbankan secara mudah dengan tingkat bunga tidak lebih dari 13 persen.

Kardani menambahkan, pihaknya akan memaksimalkan kualitas hasil ikan tangkap. Inisiatif ini berdasarkan keadaan. Dia marasa terenyuh melihat nelayan mengalami kerugian. Padahal tidak jarang nelayan meninggalkan keluarganya pergi melaut berhar-hari.

Menurut Kardani, untuk meringankan beban nelayan pihaknya memberikan bantuan berupa Palkanisasi, yaitu bantuan dengan membuatkan pendingin di kapal nelayan dari bahan fiberglass. Palkanisasi dilaksanakan di lima kabupaten, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Malang dan Lumajan. “Karena dana terbatas, tahap awal per kabupaten mendapatkan 10 unit,” ujarnya.

Program kedua adalah bantuan box es ukuran besar. Dan program yang ketiga adalah bantuan mobil berpendingan yang digunakan untuk mengangkut ikan dari sentra produksi ke sentra penjualan. “Ada tiga mobil yang akan operasikan di Pacitan, Trenggalek dan Sendang Biru,” ujarnya.

Nama : Ir. Kardani, MM.
Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 13 November 1954
Nama Istri : Ida Tugaswari
Anak : Rio Wibisono (29)
Dina M. (27)
Rinda Kumaswari (26)
Pendidikan : SMA St Louis Surabaya
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang
Magister Manajemen, Universitas Brawijayya Malang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s