Konsorsium Pembaruan Agraria Kutuk Kekerasan Pada Petani

Posted: September 14, 2013 in Hukum & Kriminal

“MENGUTUK KERAS TINDAKAN KEKERASAN DAN INTIMIDASI YANG MENGAKIBATKAN JATUHNYA KORBAN JIWA DARI PETANI INDRAMAYU”

Kekerasan serta upaya-upaya pelemahan gerakan tani dalam memperjuangkan hak-haknya semakin menjadi-jadi. Kekerasan dan intimidasi berbuntut meninggalnya seorang petani dari Serikat Tani Indramayu (STI). Kejadian ini semakin membuktikan alfanya perlindungan negara terhadap petani dan ketidakberpihakan negara terhadap petani dan kelompok lemah.

Konflik agraria mulai memanas di Indramayu, akibat reaksi rencana pembangunan waduk Bubur Gadung oleh petani yang tergabung dalam STI (25/08). Para petani sebenarnya tidak menolak pembangunan waduk bubur gadung, selama ada pelibatan dari para petani, peninjauan bersama dan tidak merampas tanah garapan petani yang telah produktif selama 30 tahun menghidupi mereka.

Dalam aksi damai STI, 25 Agustus 2013, Terjadi kericuhan karena penyerangan sejumlah preman dengan lemparan batu, bongkahan kayu dan pukulan kepada petani. Kekerasan serta intimidasi membabi buta yang disaksikan oleh aparat keamanan berbuntut terbakarnya satu buah alat berat di lokasi pembangunan waduk. Dua puluh dua orang petani luka-luka dan empat puluh sembilan sepeda motor petani dirusak preman dan aparat kepolisian. Tak cukup sampai di situ, aparat yang seharusnya netral dalam penanganan konflik agraria dan berkewajiban mengamankan keselamatan rakyat, justru menyeret, memukuli serta menangkapi petani hingga menetapkan lima orang petani dan pendampingnya sebagai tersangka.

Menyikapi upaya kriminalisasi petani, 3000-an petani Indramayu meninggalkan sawah dan ladang mereka menuntut pembebasan lima orang kawan mereka yang ditahan oleh aparat Kepolisian (31/08). Para petani beserta KPA juga telah melaporkan tindakan kekerasan dan intimidasi dari aparat dan preman ke Divisi Humas Mabes Polri, dan telah diterima oleh Kepala Bagian Analisa dan Evaluasi Mabes Polri Kombes Pol Rusli Hedyaman, di Kantor Divisi Humas Mabes Polri. Bukan hanya itu para petani juga sebenarnya sudah melaporkan dan meminta agar Komnas HAM untuk turun langsung ke wilayah konflik agraria di Indramayu untuk mencegah insiden kekerasan terulang terhadap petani.

Namun malang tak dapat ditolak, Rabu (11/09/2013) aparat kepolisian, TNI dari kesatuan ARHANUD, Kodim Indramayu, Perhutani, Pemuda Pancasila serta sejumlah preman yang berjumlah seratusan orang menyisir basis-basis STI dan melakukan intimidasi hingga menyebabkan empat gubuk rusak, satu sepeda motor terbakar dan enam petani mengalami pemaksaan untuk keluar dari keanggotaan STI serta mendapat ancaman pembakaran gubuk. (Kronologis terlampir).

Penyisiran basis-basis STI di Indramayu oleh aparat dan preman berbuah nestapa, seorang petani bernama Wargi (45), dari Basis Sukaslamet meninggal dunia akibat kerasnya intimidasi dari penyisiran aparat ke basisnya. Almarhum meninggalkan dua orang anak dan seorang istri. Sehari-hari beliau. Bukan hanya itu puluhan petani hingga saat ini (13/09) masih mengalami trauma berat akibat intimidasi aparat beserta preman. Atas rangkaian kejadian dan tewasnya seorang petani STI, Konsorsium Pembaruan Agraria menyatakan sikap:
1. Mengutuk keras aksi penyisiran, tindakan kekerasan dan intimidasi oleh aparat kepolisian serta preman terhadap para petani Indramayu, hingga berbuntut tewasnya seorang petani bernama Wargi (45).

2. Mendesak agar KOMNAS HAM untuk turun langsung ke lapangan untuk mencegah meluasnya aksi kekerasan dan intimidasi serta jatuhnya korban jiwa di Indramayu.

3. Tangkap, Adili dan Usut Tuntas kasus penganiayaan, kekerasan serta intimidasi petani yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

4. Membebaskan lima pejuang agraria serta para petani yang dikriminalisasi dan ditahan di Polda Jabar karena mempertahankan hak-haknya yaitu.

5. Meninjau ulang proyek-proyek MP3EI yang telah merampas kedaulatan rakyat atas tanah dan airnya.

6. Mendesak dilaksanakannya REFORMA AGRARIA SEJATI demi penyelesaian konflik agraria sevara nasional yang telah banyak menimbulkan korban jiwa serta menyengsarakan kaum tani, buruh dan nelayan.
Jakarta, 13 Maret 2013.

Kronologis Penyisiran (intimidasi, teror) yang Dilakukan oleh Polisi, Tentara, Preman dan Perhutani
Pada Rabu 11 September 2013
1. Pukul 09.00:
Banyak aparat yg terdiri dari Polisi, Tentara, preman dan Perhutani (Sekitar 100 lebih) berkumpul di Bojong Raong.

2. Pukul 10.30:
Sekitar 50 orang (polisi, tentara dsb) mendatangi sekretariat STI yg beralamat di Desa Bojong Raong, mereka mengambil gambar di dalam sekretariat STI, ada yang diluar sambil menakut-nakuti warga.

3. Pukul 12.00:
Sekitar 100 aparat berkumpul di Balai Desa Suka Slamet, kemudian mereka melanjutkan keperempatan Tanjung Jaya.

4. Pukul 13.00:
Mereka mendatangi rumah Bapak Yaman di Plasa Koneng dan mereka menunjuk-nunjuk bahwa dia adalah ketua basis STI Plasa Koneng, mereka melanjutkan lagi ke Cibenoang, Sandrem, Punduan 1 dan Punduan 2.

5. Pukul 14.00:
Mereka datang ke Biting, dua aparat dibantu tokoh masyarakat yakni lurah Jadi dan kasun mencoba menakut-nakuti warga.

6. Pukul 14.30:
Polisi, Tentara dan preman serta perhutani mendatangi gubug Bapak Ratim, mereka merusak pintu gubug dan terpal sebagai penutup depan rumah disobek oleh mereka, ketika pengerusakan gubug terjadi, Bapak Ratim kehilangan emas seberat 10,5 gram berupa gelang dan uang tunai sejumlah Rp. 4.150.000, setelah itu mereka mendatangi gubug Ibu Tenah dan mengancam apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggal gubug tersebut, maka gubug tersebut akan dibakar.

7. Pukul 15.30:
Mereka melanjutkan perjalanannya ke Tegal Sapi, mereka menemui dan mengancam Pak Cahyono apabila dalam waktu 5 hari tidak meninggalkan gubug, maka gubug tersebut akan dibakar.

8. Pukul 16.00:
Mereka kembali melanjutkan perjalannya ke Pasir Torok, mereka kembali melakukan pengerusakan terhadap gubug warga, yakni gubug Pak Sardilan, atap gubug dilempari pakai kayu dan mengancam Bapak Sardilan untuk keluar, mereka ini terdiri dari polisi, tentara, mandor dan Pemuda Pancasila.

9. Pukul 23.00:
Oknum tak bertanggung jawab membakar gubuk Pak Tarsana, Petani Penggarap STI Di Basis Tegal Sapi. 1 Sepeda Motor milik petani juga terbakar.

Korban intimidasi: Bapak Yaman, Bapak Ratim, Ibu Tenah, Bapak Cahyono, Bapak Sardilan, Bapak Tarsana (Semua adalah Petani Serikat Tani Indramayu)
Korban Materil: emas seberat 10,5 gram; dan uang sebesar Rp. 4.150.000, 3 gubuk petani rusak, 1 sepeda motor terbakar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s