Manusia Triple dengan Dua Nilai

Posted: Oktober 24, 2013 in Balada Kehidupan

Yusak Anshori

Yusak Anshori

Menekuni berbagai profesi mulai dari pelaku usaha, dosen, penulis buku, sampai pada ketua dewan pariwisata dijalani Yusak Anshori secara bersamaan. Diantara semua profesi itu, dua nilai yang ia terapkan, yakni kejujuran dan disiplin.

Jalan hidup seseorang memang tidak bisa diterka, begitu pula yang dialami Yusak Anshori. Pria saat ini menjabat sebagai General Manager (GM) Surabaya Plasa Hotel dan dosen ini mengaku heran dengan jalan hidupnya. Bagaimana tidak, sejak kecil dia tidak pernah bercita-cita sebagai seorang guru atau pengajar.

Namun, nasib berkehendak lain. Yusak menjadi tenaga pengajar di berbagai universitas di Surabaya. “Dulu profesi yang saya tidak mau adalah guru. Tapi sekarang saya menjadi dosen,” katanya heran.

Yusak lahir dari keluarga pedagang. Orangtuanya merupakan pedagang sukses. Kendati begitu, prestasi yang ditorehkan Yusak tidak membuat mereka bangga. Menurut Yusak, meski sekarang sudah menjadi pengajar dan general manager, tapi orangtuanya menilai general manager bukan jabatan yang tinggi dibandingkan dengan pedagang.

Walau pun demikian, orangtua Yusak tidak memaksakan kehendaknya. “Orangtua saya membebaskan saya memilih profesi sesuai dengan kehendak saya. Mereka tidak pernah memaksa saya untuk jadi pedagang dan mendukung apa yang saya lakukan,” ungkapnya.

Sehingga dengan dukungan dari orangtuanya, Yusak sukses menjalani 3 profesi berlainan secara bersamaan. Selain sebagai GM Surabaya Plasa Hotel dan dosen, dia juga menjadi Ketua Dewan Pariwisata Jatim. Semua itu dijalaninya dengan dua nilai agar setiap profesi bisa dilakoninya dengan baik. “Tentu harus disertai dengan nilai kejujuran dan disiplin tinggi. Agar kita bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin,” ujarnya.

Apa yang dicapai Yusak saat ini bertolakbelakang dengan cita-citanya. Yusak berharap menjadi seorang diplomat. Maka dari itu, dia mengambil kuliah jurusan Hubungan Internasional (HI) di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.

Lulus dari UGM. Dia langsung mencari informasi mengenai cara menjadi diplomat. Ternyata, untuk mencapai itu, dia harus mengikuti pendidikan di SESDILU (Sekolah Staf Dinas Luar Negeri).

SESDILU merupakan salah satu pendidikan dan pelatihan (Diklat) diplomatik bagi para diplomat madya. Kurikulumnya dibuat secara teratur dan diperbarui untuk supaya sesuai dengan tantangan perkembangan terbaru dalam politik luar negeri dan hubungan internasional. Selain SESDILU ada pula SEKDILU (Sekolah Dinas Luar Negeri) bagi para diplomat junior dan SESPARLU (Sekolah Staf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri) bagi para diplomat senior.

“Waktu itu info info yang saya tahu mengikuti diklat SESDILU cuma dapat Rp 150 per bulan. Saya petimbangkan lagi antara terus mengikuti diklat atau memendam cita-cita saya. Dan saya lebih memilih pulang ke Surabaya,” jelasnya.

Sepulang dari Jakarta, Yusak menjadi pengangguran. Dia melamar kerja dari perusahaan satu ke perusahaan lainnya. Namun belum ada yang menjawab lamarannya. Tepat setahun dia menganggur sejak tahun 1991, nasibnya berbuah hoki. Dia diterima di hotel Hyatt Surabaya.

Dia diterima kerja sebagai telemarketing di hotel Hyatt. “Itu lamaran ke-200 dan waktu itu tepat saya jadi pengangguran selama setahun. Saya jadi pekerja harian yang siap diputus kerja kapan pun,” ingatnya.

Dua tahun berjalan, kesempatan lain menghampiri Yusak. Tahun 1993, hotel Radisson dibangun di Surabaya. Bagi Yusak, itulah kesempatan untuk memperbaiki karirnya. Lantas kesempatan itu tidak disia-siakan. Dia langsung mengirim surat permohonan kerja. Rupanya, nasib baik ada di dirinya.

Yusak diterima di Radisson Hotel sebagai reservation staff (clerk) yang tugasnya adalah mencatat dan memproses seluruh pemesanan kamar secara akurat sekaligus mempromosikan produk hotel serta menciptakan & menjaga citra hotel yang baik melalui pemberian pelayanan yang maksimal. “Saya harus mengejar ketertinggalan itu karena tidak pernah bekerja di hotel,” katanya yang saat ini masih aktif di Kagama (Keluarga Besar Alumni Gajah Mada).

Kemudian, karir Yusak mulai menanjak. Tahun 1994 dia dipromosikan menjadi reservation manager. Setahun berikutnya, dia dipindahtugaskan ke Jogjakarta lantaran Radisson Hotel membuka cabang di Jogjakarta.

Yusak dipromosikan di Radisson Jogjakarta menjadi front office. Dia mengganggap semua yang didapatnya adalah jalan nasib yang harus ia syukuri. Dari Jogjakarta-lah, karir Yusak semakin menanjak. Dia sampai dipromosikan menjadi resident manager.

“Di Radisson Jogjakarta general managernya berasal dari kewarganegaraan Inggris. Pada tahun 1998, karena krisis ekonomi dan dollar AS terhadap rupiah menguat, maka GM kembali ke negara asalnya. Sebab gaji dengan nilai dollar cukup tinggi. Sehingga perusahaan memilih saya menjadi GM,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Yusak kembali lagi ke Surabaya dengan jabatan yang sama. Dia menjadi GM Radisson di Surabaya. Kata Yusak, GM Radisson di Surabaya mengundurkan diri sehingga dia ditarik untuk menggantikan posisinya.

Iklim persaingan hotel yang berbeda di tiap wilayah menjadikan Yusak mencari strategi-strategi bagaimana meningkatkan okupansi (tingkat hunian kamar). Hasilnya, setelah Yusak masuk okupansi bisa ditingkatkan dari sebelumnya di bawah 40% menjadi di atas 40%.

Kendati demikian, Yusak merasa capaiannya tersebut belum maksimal. Untuk itu, pada tahun 2004 dia kembali melanjutkan studi Magister Manajemen Stratejik (S2) di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

“Tahun 2005 lulus. Tidak lama kemudian saya menempuh S3 di universitas yang sama. Tahun 2009 lulus dengan predikat cum laude. Setelah itu saya diminta mengajar. Pertamakali menjadi Dosen Luar Biasa Magister Manajemen, lalu di Pasca Sarjana STIE PERBANAS Surabaya, Magister Manajemen Teknologi (MMT) ITS, Universitas Petra, dan Universitas Ciputra,” terangnya.

Sebagian besar jam mengajar Yusak di beberapa universitas di atas jam 18.00 WIB dan weekend, sehingga profesinya tersebut tidak mempengaruhi jam kerjanya sebagai GM. “Dari berhubungan dengan dunia akademis itu saya berusaha mengiplementasikan teori ke praktek. Saya justru lebih mantap dengan itu,” katanya.

Kesibukan Yusak ternyata tidak hanya sebagai tenaga pengajar. Dia juga pernah tercatat sebagai ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) perwakilan Surabaya dari tahun 2003 sampai 2005.

Keluar dari PHRI, dia lalu dipercaya menjadi ketua Casa Grande (asosiasi para GM dari Hotel- Hotel berbintang dan golf course) Jawa Timur periode 2005-2010, juga merangkap sebagai ketua Surabaya Tourism Promotion Board (STPB). Dan sekarang dia juga menjadi ketua Ikatan Alumni MM Unair.

Sayang Keluarga

Seabrek jabatan dan kesibukannya itu tidak membuat Yusak lupa akan tugasnya sebagai suami dan ayah bagi dua orang anaknya. Setidaknya, semingggu sekali dia menyempatkan diri mengajak keluaranya makan bersama di luar.

Dia mengaku beruntung memiliki keluarga yang mengerti pada kesibukannya. Apalagi, sekarang dua anaknya sudah dewasa. Anak yang pertama bernama Hanbila Labila Ghassani sudah duduk di bangku SMA. Sedangkan anak pertamanya, Hobus Qhasmal Tsahif masih kuliah.

“Jadi meski jarang berkumpul dengan keluarga pada hari-hari biasa, saya menebusnya di akhir pekan dengan mengajak mereka berkumpul bersama. Mereka sudah paham tentang kesibukan saya,” tutur pria kelahiran Kediri, Oktober 1967 silam ini.

Pekerjaan Yusak semakin banyak setelah dia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pariwisata Jawa Timur pada tahun 2010. Amanah yang diemban sampai sekarang ini cukup berat. Sebab, dia harus mampu mengondisikan semua stakeholder bidang pariwisata agar memiliki mindset yang sama.

Hal itu dinilai cukup sulit tanpa peran dari kepala daerah setempat. “Kepala daerah harus mampu menjadi tuan rumah yang baik untuk menarik pangsa pasar wisata. Menarik maksudnya mengadakan even yang sifatnya internasional,” katanya.

Menurut Yusak, badan promosi wisata di Jatim belum berjalan dengan baik. Pendukung wisata seperti objek, akses, dan promosi sejauh ini tidak dimaksimalkan. Seharusnya badan promosi melakukan promosi destinasi melalui 3 hal, yakni roadshow, fun trip, dan trade show.

“Roadshow menargetkan segmen. Cari wisman (wisatawan mancanegara) dari kota yang memiliki direct flight ke Surabaya. Shanghai misalnya. Kita promosi kesana dengan mengundang wartawan disana untuk memperkenalkan wisata kita. Kemudian trade show, yaitu pasar wisata yang biasanya diadakan di Singapura. Terakhir fun trip, yakni mengundang media asing kesini,” jelasnya.

Wisman, jelas Yusak, memiliki karakter yang berbeda. Wisman dari Asia misalnya, selain Jepang dan Korea, memiliki karakter suka belanja. Sedangkan wisman dari Eropa dan Amerika lebih kepada wisata budaya seperti bangunan kuno, reog, dan budaya lokal. “Itu yang menjadi daya tarik bagi mereka. Sehingga strategi pemasaran sesuai dengan segmen,” katanya.

Tidak dipungkiri, dengan meningkatnya kunjungan wisman ke Jatim bisa berimbas terhadap okupansi hotel. Namun demikian, dia ingin merebut segmen tamu hotel bukan hanya dari wisman. Melainkan market korporasi dan pemerintahan. Dalam mencapai itu, dia menerapkan strategi logika terbalik.

“Jadi kalau kompetitor kami ke Barat, kami ke Timur. Mereka ke atas, kami ke bawah. Tidak lupa juga kami terus berinovasi setelah inovasi kami ada yang meniru. Kami optimalkan sumber daya manusia (SDM) sebagai aset perusahaan, karena SDM kita juga memiliki talenta,” pungkasnya. ins

Ingin Terus Berbagi Ilmu Lewat Buku

Menulis bagi Yusak Anshori merupakan aktivitas yang menyenangkan. Kesibukan dan padatnya jadwal tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Sampai kini, sudah 6 tulisan yang dia bukukan.

Menurut Yusak, percuma memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi tetapi tidak berbagi. Hal inilah yang mendasarinya untuk tetap menulis. Saat ini dia sedang menyiapkan buku barunya tentang strategi entrepreneurship. “Prosesnya masih 30 % karena saya lebih mementingkan konten dan kualitas. Semoga akhir tahun bisa selesai,” kata Yusak yang enggan menyebut judulnya.

Sebelumnya, buku hasil pemikiran Yusak sudah ada di deretan rak toko buku. Buku-buku itu diantaranya “Sparkling Surabaya : Pariwisata Dengan Huruf L”. Buku karya Yusak bersama dengan Dewa Gde Satrya ini menggambarkan kompleksnya pariwisata kota Surabaya. Buku ini sudah diluncurkan secara resmi pada 31 Agustus 2008 silam di Balai Kota Surabaya.

Dalam buku itu disebut tentang pengembangan pariwisata di lima bagian Surabaya, yaitu Surabaya Utara, Surabaya Selatan, Surabaya Barat, Surabaya Timur, Surabaya Barat, dan Surabaya Pusat. “Ini tergambar dari lima bintang di kata Sparkling Surabaya. Masing-masing bintang memiliki warna yang mempunyai filosofi sendiri,” jelasnya.

Pria berkacamata ini menceritakan, terbitnya buku ini diawali dari kesadaran akan pentingnya sebuah city branding. Brand atau citra ini menjadi sangat penting bagi pengembangan pariwisata kota karena menentukan posisinya sebagai destinasi wisata.

Selain itu, dia juga menulis buku ”Manajemen Strategi Hotel” dan buku “Tourism Board : Strategi Promosi Pariwisata Daerah”. Buku ini ditulis berawal dari banyaknya daerah (provinsi/kabupaten/kota) yang menanyakan bagaimana rnembentuk Tourism Board seperti yang telah dilakukan oleh kota Surabaya.

Sehingga buku tersebut bisa menjawab pertanyaan yang sering muncul seiring dengan banyaknya pemerintah daerah yang ingin membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) atau yang juga dikenal dengan istilah Tourism Board.

Lalu dia juga menulis buku ”Surabaya, Enaknya Kemana?” , “Lombok, Enaknya ke Mana?” dan terakhir “Keeksotisan Batik Jawa Timur” yang ditulis bersama Adi Kusrianto.

Source : Surabaya Post

Biodata :

KARIR :
• General Manager Surabaya Plaza Hotel (2001 – Sekarang)
• General Manager Radisson Yogya Plaza Hotel (1998 – 2001)

AKADEMIS :
• Dekan – Fakultas Entrepreneurial Business Universitas Ciputra (2011- Sekarang).
• Dosen Pasca Sarjana STIE PERBANAS Surabaya (2008 – Sekarang).
• Dosen Luar Biasa Magister Manajemen Universitas Airlangga (2006 – 2011).
• Dosen Luar Biasa Magister Manajemen Teknologi (MMT) ITS (2010-Sekarang).
• Academic Advisor Manajemen Perhotelan Universitas Airlangga (2009-Sekarang).

PENDIDIKAN :
Formal
• Sarjana Hubungan Internasional (S1), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1992).
• Magister Manajemen Stratejik (S2), Universitas Airlangga, Surabaya (2004).
• Doktor Ilmu Ekonomi (S3) Lulus Cum Laude, Universitas Airlangga, Surabaya (2009).
Non Formal :
• Building Business Features, Radisson University, Sydney, Australia (1994).
• Key Revenue Management, Radisson University, Sydney, Australia (1996).
• Cornell Hotel Administration Simulation Exercise, Regency Hotel School South Australia (2003).
• Riset Pemasaran, PPM Institute of Management, Jakarta (2005).
• Analisa Data Bisnis, PPM Institute of Management, Jakarta (2005).
• Strategic Business Analysis, Prasetya Mulya Business School, Jakarta (2005).
• Strategic Marketing for Hotels & Restaurants, Cornell – Nanyang University,Singapore(2006).
• Certified Strategic Execution Professional (CSEP), GML Performance & Consulting, Jakarta (2009).
• Fundamentals of Hotel Investment and Financing Decisions, Cornell – Nanyang University,
Singapore (2010).

ORGANISASI :
• Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (Depari) Jawa Timur (2010-Sekarang).
• Executive Director East Java Carnival Board (JAC Board) 2011.
• Advisor Surabaya Tourism Promotion Board (2010 – Sekarang).
• Executive Director Surabaya Tourism Promotion Board (2005-2010).
• Ketua Casa Grande (Asosiasi Hotel Berbintang dan Golf Clubs) Jawa Timur (2005-2009).
• Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Surabaya (2001-2005).
• Ketua Penelitian dan Pengembangan DPD PHRI Yogyakarta (1997-2001).

PENGHARGAAN:
• Gubernur Jawa Timur di bidang Pendidikan, Perhotelan, Pariwisata dan Seni Budaya (2007).
• Walikota Surabaya atas Promosi kota Surabaya pada Stakeholder Pariwisata & Wisatawan
Domestik dan Mancanegara (2008).
• Pariwisata Award Kategori Leading Practitioner dari Lembaga Masyarakat Peduli Pariwisata
Jawa Tengah (2011).

BUKU YANG DIHASILKAN:
• Buku ”Sparkling Surabaya: Pariwisata dengan huruf L” bersama Dewa Gde Satrya, Penerbit
Bayumedia, Malang, 2008.
• Buku ”Manajemen Strategi Hotel”, Penerbit Putra Media Nusantara, Surabaya, 2010.
• Buku ”Tourism Board: Strategi Promosi Pariwisata Daerah”, Putra Media Nusantara,
Surabaya, 2010.
• Buku ”Surabaya, Enaknya Kemana?” (SEK), Elexmedia (Gramedia Group), Jakarta, 2011.
– Buku ”Lombok, Enaknya Kemana?”, Elexmedia (Gramedia Group), Jakarta, 2011.
• Buku ”Keeksotisan Batik Jawa Timur” Elexmedia (Gramedia Group), Jakarta, 2011.

KEGIATAN LAINNYA:
• Aktif menulis artikel di beberapa media cetak.
• Menjadi pembicara tentang Pariwisata, Manajemen Perhotelan, Manajemen Strategi,
Manajemen Pemasaran, Human Capital, Intellectual Capital, Knowledge Management, dan
Entrepreneurship di tingkat Nasional, Regional, dan Internasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s