Tuntutan UMK Ganggu Iklim Usaha di Jatim

Posted: November 22, 2013 in Bisnis dan Ekonomi

SURABAYA-Kalangan pengusaha Jawa Timur menilai permintaan buruh terhadap kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) sekitar 50% akan mengurangi minat investor untuk menanamkan modalnya di Jawa Timur. Lebih dikhawatirkan lagi, industri padat karya yang sudah ada akan ‘kabur’ dari Jawa Timur. Akibatnya pengangguran tak bisa dihindari lagi.

Catatan saja, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah pengangguran di Jawa Timur pada Agustus 2013 mencapai 871 ribu orang atau 4,33 % dari total jumlah angkatan kerja yang tercatat 20,14 juta orang. Dibandingkan dengan Agustus 2012, jumlah pengangguran di Jatim hanya dikisaran 813 ribu orang atau 4,12% dari angkatan kerja yang mencapai 19,90 juta orang.

Lonjakan angka pengangguran yang cukup besar sepanjang Agustus 2012 hingga Agustus 2013 tersebut menurut Kepala Badan pusat Statustisk (BPS) Jatim, Sairi Hasbullah salah satunya dipicu oleh banyaknya pengurangan tenaga kerja pada perusahaan besar.

PT Gudang Garam misalnya, telah merumahkan sebanyak seribu karyawannya pada Juli 2013. Selain itu, unjuk rasa buruh yang menuntut kenaikan upah juga menyebabkan sentimen negatif terhadap jaminan keamanan dan investasi biaya tinggi yang akhirnya menyebabkan investor merelokasi investasinya ke tempat lain.

Untuk menghindari itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah membuat keputusan yang tepat terkait dengan UMK, sehingga bisa membangun industri padat karya secara berkesinambungan. “Jadi pemerintah harus melihat situasi ini bukan berdasarkan tuntutan buruh saja. Pengusaha juga butuh jaminan dari pemerintah agar usaha mereka terus berjalan,” kata Katua Apindo Jatim, Alim Markus kepada wartawan di Surabaya, Senin (18/11).

Menurut Alim, tuntutan buruh yang meminta kenaikan upah di atas 10% atau sekira Rp 2,2 juta sangat memberatkan kalangan pengusaha, terlebih industri yang menyerap banyak tenaga kerja (padat karya). Apindo, kata dia, hanya sanggup menaikkan UMK di ring I Jatim dari Rp 1,7 juta menjadi Rp 1,914 juta per bulan.

“Itu kenaikan berdasarkan hitung-hitungan kami sudah sebesar 10 %. Angka Rp 1,914 juta sudah ideal. Jika kenaikan lebih dari itu atau sampai Rp 2,2 juta, otomatis akan ada PHK massal,” ujarnya.

Selain itu, Alim mengaku bila UMK di ring I sebesar Rp 2,2 juta tetap dipaksakan, investor di Jatim akan banyak menutup usahanya. Bahkan, tak sedikit yang akan pindah lokasi (relokasi).

Sekadar menambahkan, di ring I Jawa Timur sendiri, urutan pertama UMK tertinggi ialah Kabupaten Mojokerto dengan besaran Rp 2.2426.000, disusul Gresik Rp 2.376.918, Sidoarjo Rp 2.348.000, Kabupaten Pasuruan Rp 2.311.689, lalu Surabaya mengusulkan Rp 2,2 juta.

“Usulan UMK ini sangat tidak realistis. Angkanya melebihi UMK di Jakarta. Mestinya di Jatim lebih rendah daripada Jakarta karena inflasinya lebih tinggi di Jakarta. Pengusaha juga mau untung. Kalau industri tidak diberi untung, bagaimana mereka bertahan,” katanya Alim yang juga menjadi Presiden Direktur PT Maspion ini.

Wakil Ketua Apindo Jatim, Ridwan Hartono Sugianto menambahkan, kenaikan upah yang dinilai tidak realistis tersebut mengancam investasi di Jatim. Sekarang ini industri sudah terseok-seok oleh berbagai macam kenaikan komponen operasional perusahaan seperti kenaikan tarif dasar listri (TDL) dan bahan baku.

“Kondisi kita sebetulnya sudah di ujung tanduk. Tapi kita masih bisa bertahan untuk menjaga imej di masyarakat agar perusahaan kita tidak dikatakan bangkrut. Karenanya kita melakukan subsidi silang dan mencari peruntungan di lain bisnis seperti merambah ke bisnis properti,” katanya.

Dia berasalan, industri padat karya sudah tidak menarik lagi bagi investor dikarenakan sebagian besar cost perusahaan dialokasikan untuk upah buruh. “Kenapa invetsor enggan masuk ke industri padat karya, karena dia menjual perusahaannya saja tidak cukup untuk bayar pesangon karyawannya,” ujarnya.

Di sisi lain, dia mengaku dampak lain dari kisruh UMK ini ialah kurangnya minat investor untuk masuk ke Jatim. “Kita susah payah menggaet beberapa investor dari luar negeri, terutama dari China. Belakangan mereka membaca situasi di Indonesia tidak ada kepastian hukum dan sering ada demo, terpaksa mereka menunda. Tapi pada dasarnya mereka tidak menunda melainkan membatalkan,” jelasnya.

Ungkapan senada diutarakan Wakil Ketua Bidang Pengupahan Apindo Jatim, Johnson Simanjuntak. Dia menyatakan tahun lalu saja dengan upah Rp 1,2 juta masih banyak pengusaha yang tidak mampu membayar sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub).

Apalagi dengan kenaikan UMK sebesar Rp 2,2 juta, maka pengusaha siap menutup pabriknya. “PHK besar-besaran sudah di depan mata. Kami ingin gubernur jangan berpikir 2-3 tahun ke depan. Tapi lihat sampai 10 tahun ke depan,” ujarnya.

Menyikapi silang pendapat itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, Jamhadi menghimbau agar pabrik-pabrik yang tak mampu membayar UMK sebesar Rp2,2 juta agar merelokasi pabriknya keluar dari ring I.

“Dari pada terjadi PHK massal, lebih baik pabrik relokasi di luar ring I, tetapi masih berada dalam Jatim. Kalau pabrik masih mampu membayar UMK Rp 2,2 juta, silakan tetap di ring I,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, sudah ada 3 pabrik yang keluar dari Surabaya. Pabrik tersebut berasal dari industri padat karya seperti industri alas kaki dan industri tekstil yang memiliki jumlah tenaga kerja sampai 1000 orang.

Kadin Surabaya sendiri merasa keberatan dengan UMK sebesar Rp 2,2 juta. Kadin hanya mengajukan besaran UMK sebesar Rp 1,970 juta. Namun terlepas dari itu, Jamhadi memperingatkan bahwa pada tahun 2015 nanti Indonesia akan memberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean atau Asean Economic Community (AEC). Dalam komunitas itu, ada arus barang dan orang.

“Jangan sampai nanti adanya Asean Community pabrik di Indonesia mengambil tenaga dari luar. Karena upah buruh di luar Indonesia lebih murah tapi produktivitasnya tinggi. Misal di Myanmar, disana upah buruh hanya Rp 600 ribu, di Vietnam Rp 900 ribu. Belum lagi kita bicara Thailand. Semua barang Hitech dan mobil dikerjakan disana,” jelasnya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s