Pemilu 2014: Senjakala Partai Islam dan Kebangkitan Islam Politik?

Posted: Desember 22, 2013 in Pendidikan

MAARIF Institute, Jakarta, 17 Desember 2013. Setiap lima tahun sekali, bangsa Indonesia melaksanakan hajat politik besar; Pemilihan Umum Legisltaif dan Eksekutif. Tahun 2014 adalah pemilu ke-4 pasca reformasi. Selama itu pula pasang surut politik Indonesia terus berlangsung, termasuk didalamnya adalah politik Islam dan Islam politik di Indonesia.Dengan populasi muslim yang besar, maka membincang mengenai masa depan politik Islam dan Islam politik di Indonesia adalah perkara yang tak sederhana, terutama menjelan pemilu 2014. Tak berlebihan jika menyebut, pasang surutnya dinamika politik Islam di Indonesia akan menentukan nuansa dan petapolitik Indonesia lima tahun kedepan.

Dalam peta politik Islam kontemporer, terutama pasca reformasi, kontestasi antara kelompok Islam politik (Islam formalis) dan politik Islam (Islam substantif) terus terjadi dan berjalan dinamis. Kelompok Islamis adalah kelompok umat Islam yang menginginkan penerapan syariat Islam secara formal, meyakini Islam sebagai keyakinan hidup (belief system) yang sempurna, dan mencita-citakan berdirinya sistem Islam atau Islamic state. Menurut Pemimpin Redaksi Jurnal MAARIF, Ahmad Fuad Fanani, “Kelompok ini bisa berbentuk ormas seperti MMI, HTI, dan Tarbiyah, namun bisa juga dalam bentuk partai Islam seperti PPP dan PBB yang hingga kini getol untuk memerjuangkan penerapan syariat Islam secara formal dalam Konstitusi Indonesia ketika amandemen UUD 1945 tahun 2002 lalu”.

Di sisi lain, kelompok politik Islam substantif, cenderung menyerukan pemahaman dan aspirasi politik Islam yang lebih moderat. Kelompok ini direpresentasikan oleh organisasi Islam moderat Muhammadiyah dan NU. Pada bagian lain, kelompok ini juga diwakili oleh partai-partai yang berbasiskan organisasi Islam, tapi berdasarkan visi kebangsaan, seperti Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa. “Hingga hari ini, organisasi Muslim terbesar di Indonesia yang diwakili oleh Muhammadiyah dan NU tidak menyetujui penerapan syariat Islam secara formal di level negara seperti pencantuman Piagam Jakarta. Kelompok ini juga menyatakan bahwa Pancasila adalah Dasar Negara Indonesia yang wajib dijaga oleh seluruh komponen bangsa.” Jelas Fuad.

Kelompok Islam substantif ini juga diwakili oleh sebagian aktivis Islam yang aktif di berbagai organisasi sekuler dan partai nasionalis. Di sini tampak bahwa ada pergeseran Muslim Indonesia terkait dengan aspirasi politiknya. Mereka berpikir bahwa aspirasi politik Islam bisa disalurkan lewat partai lain yang bervisi inklusif dan kebangsaan. Aspirasi politik Islam tidak identik dengan partai Islam. Fenomena ini sebetulnya bukanlah hal yang baru, tapi sudah dimulai di Partai Golkar semenjak era 1980 an ketika partai ini banyak merekrut para aktivis Islam sebagai pengurus dan kadernya. Jargon Cak Nur yang menyatakan: Islam Yes, Partai Islam No!, banyak menjadi inspirasi dan legitimasi dalam fenomena ini.

Terkait dengan partai Islam, berbagai survei terakhir Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Network, Lembaga Survey Indonesia, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan suara partai Islam diperkirakan akan semakin merosot ke bawah. Bahkan, jika Pemilu digelar pada hari ini, ada beberapa partai Islam yang kemungkinan besar tidak lolos electoral threshold (ambang batas suara). “Hal itu dikarenakan performa partai Islam semakin hari semakin memudar yang dikarenakan konflik internal yang susah diselesaikan, fenomena korupsi para pimpinannnya, maupun kekaburan visi dari partai Islam bisa dibandingkan partai nasional lainnya. Tidak heran jika suara partai Islam terus menurun dan tidak mengalami perkembangan yang menggembirakan. Pada level calon pemimpin nasional pun, dalam banyak survei terakhir, juga tidak tampak ada pimpinan partai Islam yang popularitas dan elektabilitasnya tampil secara meyakinkan.” Jelas Burhanuddin Muhtadi, Pengajar FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.

Rendahnya elektabilitas partai Islam tidak kemudian menurunkan posisi penting Islam dan peta politik Indonesia hari ini. Seperti temuan Sunny Tanuwidjaya dalam risetnya tahun 2010, Political Islam and Islamic Parties in Indonesia: Critically Assessing the Evidence of Islam’s Political Decline bahwa isu-isu Islam politik kini juga menjadi perhatian serius oleh partai-partai nasionalis. Hal itu misalnya tampak pada fenomena dukungan partai-partai nasionalis terhadap agenda perda-perda syariat di berbagai daerah. Juga pada dukungan partai-partai di parlemen terhadap undang-undang yang menjadi aspirasi umat Islam seperti UU Sisdiknas tahun 2003, UU Anti-Pornografi, RUU Zakat, dan sebagainya. Meskipun warna undang-undang itu masih bisa diperdebatkan apakah mewakili suara moderat atau justru mewakili kaum Islamis, tapi jelas bahwa ada warna Islam yang dimainkan.

Jelang tahun 2014 semakin menunjukkan bahwa ekspresi politik Islam tidak tunggal. Dinamika politik Islam dan Islam politik teruslah bergulat. Pada momen-momen politis inilah, keduanya bertarung dan bertaruh untuk memerjuangkan agenda politiknya. Temuan riset dan survei terbaru terkait dengan Islam politik dan Politik Islam itulah yang mendasari terbitnya Jurnal MAARIF Vol. 8 No. 2 Desember 2013 tentang Ekspresi Politik Umat Islam.

Sementara itu untuk mendedah dan mencandra masa depan Partai Islam dan Islam Politik di Pemilu 2014, digelarlah diskusi yang menghadirkan Drs. Lukman Hakim Saifuddin (Wakil Ketua Umum PPP), Burhanuddin Muhtadi, MA (Pengajar FISIP UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia) dan Ahmad Fuad Fanani, MA (Pemimpin Redaksi Jurnal MAARIF). Diskusi ini dibuka dengan pidato kunci oleh Wakil Ketua MPR RI Drs. Hajriyanto Y Thohari, MA. Acara diskusi dan peluncuran Jurnal MAARIF ini terlaksana atas kerjasama FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Harian Sinar Harapan dan MAARIF Institute for Culture and Humanity.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s