Dari Hobi, Berbuah Rezeki dan Prestasi

Posted: Januari 18, 2014 in Balada Kehidupan

h.ali_bandri_1Menyelam sambil minum air. Begitu kata H Ali Badri menjawab pertanyaan seputar hobinya memelihara perkutut Jumat pekan lalu. Bagaimana tidak, dengan hobi itu, dia bisa menghasilkan income hingga miliaran rupiah per bulan, dan juga segudang prestasi.

Direktur Utama PT Alam Madura Teduh ini mengaku hobi memelihara perkutut sejak duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD). Hobi itu muncul sejak sering main ke rumah pamannya. Kebetulan, pamannya saat itu memelihara banyak perkutut. Dari situ, lalu pada tahun 1991, Abah Badri, sapaan akrabnya, mulai memberanikan diri beternak perkutut.

“Modal awalnya sekitar Rp10 miliar,” kata pemilik Alib Bird Farm ini.

Saat ini, anggota DPD REI Jatim bidang advokasi ini memelihara sekitar 2.000 perkutut dari 98 kandang yang diternak di rumahnya yang ada di kawasan Jalan Gadung Surabaya. Hebatnya lagi, perkutut peliharaannya ditaksir banyak pehobi burung yang datang dari dalam dan luar negeri. Menurut dia, satu perkutut bisa terjual sampai Rp 400 juta.

“Itu perkutut yang usianya sudah matang. Ada yang telurnya saja bisa laku Rp 50 juta sampai Rp 60 juta,” lanjutnya.

Tidak hanya diminati penggemar, Abah Badri mengatakan perkutut miliknya sering mengikuti lomba di tingkat provinsi hingga internasional. Sejumlah penghargaan pun pernah diraihnya. Salah satunya diantaranya ialah kejuaraan nasional (Kejurnas) Perkutut di Tasik tahun 2012 silam. Sebelumnya, tahun 2011 burung Abah Badri yang bernama Caesar juga meraih juara pertama Lomba Perkutut Indonesia (LPI).

Dari hobi yang mendatangkan hoki dan prestasi ini, dia lalu dinobatkan sebagai Ketua Dewan Juri Nasional Persatuan Peternak Pecinta Perkutut Indonesia (P3SI). “Saya dijadikan ketua dewan juri nasional P3SI karena saya mengerti perkutut, dan saya menjadi pemain lama di perlombaan perkutut,” ujarnya.

Meski sudah menyandang banyak prestasi dan malang melintang di dunia perkutut, namun Abah Badri tetap rendah hati. Dia lebih mengedepankan program kebersamaan dalam pengembangan ternak perkututnya.

“Jadi sesama peternak tidak boleh saling menjatuhkan, apalagi ada monopoli dengan menghalalkan segala cara. Karena ini adalah sifat yang tercela yang hanya ingin duduk sendiri. Kita harus bersama-sama melestarikan seni ini,” katanya.

Di usianya yang sudah 50 tahun lebih ini dia ingin menikmati hidup dengan cara bekerja santai di rumahnya sambil beternak perkutut. Dia tidak sendirian memelihara ribuan perkututnya, melainkan dibantu oleh 5 orang karyawannya.

Abah Badri ingin serius menekuni ternak burung perkutut. Sejauh ini, perkutut peliharaannya sudah menghasilkan piyik-piyik berkualitas lomba dan juga untuk bahan ternak.

“Piyik-piyik itu merupakan hasil perkawinan silang antara perkutut lokal dengan luar negeri. Misal perkutut dari Indonesia dikawin silang dengan perkutut dari Thailand, sehingga hasilnya bagus. Kalau cuma lokal saja keturunnya tidak bagus dan jarang peminatnya,” jelasnya.

Hobi lain yang digandrungi Ketua Ikatan Keluarga Madura (Ikamra) adalah pacuan kuda. “Kuda pacu saya tinggal 6 ekor yang sekarang ada di Tretes Mojokerto. Kuda-kuda itu saya sewakan dan sering menjadi champion. Namun saya jarang lihat kuda-kuda pacuan saya karena saya lebih ’gila’ perkutut,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s