Kadin Ajak Masyarakat Kurangi Pola Konsumtif

Posted: Februari 7, 2014 in Balada Kehidupan

Deddy Suhajadi

Deddy Suhajadi

Warga Indonesia dikenal sebagai warga yang cenderung konsumtif ketimbang produktif. Tidak salah, jika produk impor terus ‘menyerbu’ negeri ini. Tengok saja, data Badan Pusat Statistik mencatat, impor non migas RI pada Desember 2013 mencapai 15,46 miliar dollar AS atau setara Rp 185,5 triliun. Nilai tersebut mengalami peningkatan 2,04 % dari posisi November 2013.

Hal ini mengundang keprihatinan dari Deddy Suhajadi. Makanya, pria yang akrab dipanggil Deddy ingin mengajak masyarakat mengekang pola konsumtif dan meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, negara Indonesia tidak dijadikan tempat menjual barang-barang impor.

“Orang sini kebanyakan tergiur produk luar negeri. Salahnya kita disini itu. Mulai sekarang ayo kita jangan konsumtif tapi produktif. Kalau bisa, jual produk kita sampai ke luar negeri,” katanya di sela-sela “Rapat Pimpinan ( RAPIMPROV ) Kadin Jawa Timur 2014”.

Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Kadin ini juga merasa khawatir, pola konsumtif masyarakat terhadap produk impor akan semakin tinggi ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diterapkan pada tahun 2015 nanti. Apalagi, kesiapan dan keahlian beberapa sektor utamanya. yakni Usaha Kecil Menengah (UKM) belum terasah dengan baik. Sehingga produk dalam negeri diperkirakan akan sulit bersaing dengan produk negara-negara lain.

Satu-satunya jalan yang harus diambil ialah maju serempak menghadapi MEA dengan melatih sekaligus memberikan keteladanan tentang bagaimana menghadapi MEA 2015. Caranya dengan meningkatkan kerjasama, baik dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupetan/kota maupun dengan pengusaha.

“Ayo kita bikin kegiatan di tempat masing-masing. UKM itu dilatih supaya pada saatnya tidak kaget bahwa kondisi tahun 2015 seperti ini. Kalau misalnya di tahun 2015 ada industri asing masuk kemudian tenaga kerjanya dari asing juga, itu sah-sah saja. Sama, semua lini seperti itu, bahkan sopir taksi atau bidan tenaga kerja bisa juga dari asing,” tegasnya.

Dari pengalamannya, Deddy menceritakan bahwa tahun 1997-1999, Indonesia dihadapkan pada situasi krisis moneter. Banyak perusahaan skala besar jatuh. Dan pada saat itu, yang masih survive ialah perusahaan yang kecil-kecil.

“Artinya di saat itu kita punya pengalaman bahwa roda ekonomi yang mestinya diputar oleh perusahaan besar ternyata berasal dari UKM yang kecil-kecil. Akhirnya Indonesia selamat. Kita secara ekonomi bisa bangkit lagi karena roda UKM kecil itu masih berputar,” ujarnya.

Begitupun disaat rupiah melemah terhadap dollar AS seperti sekarang, usaha yang masih menggelinding ialah sektor usaha kecil. Makanya tahun ini, Deddy menginisiasi agar setiap daerah memiliki produk unggulan.

“Kita jangan jalan sendiri-sendiri agar bisa memenuhi pasar dalam negeri sendiri yang terbuka lebar. Kita harus bergandengan, sehingga bussiness to bussiness (b to b) antar provinsi bisa menyemarakkan pasar domestik dan ekonomi kita lebih tangguh,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s