Menyesuaikan dengan Lingkungan di Kota Pahlawan

Posted: Februari 12, 2014 in Balada Kehidupan

DSC_2392Ada peribahasa menyebutkan, “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, yang artinya haruslah mengikuti atau menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita. Sekiranya demikian yang digambarkan Ida Bagus Gede Mardawa, kepada Surabaya Post, sore kemarin (10/2).

Maklum saja, IBG Mardawa baru saja mengemban jabatan sebagai General Manager PT PLN Distribusi Jatim. Sebagai pendatang baru di Kota Pahlawan ini, pria asli Bali ini masih menyesuaikan dengan pola hidup di Surabaya. Cuma, dia mengaku sebagai kota Metropolis, penyesuaian itu tidak memerlukan waktu lama.

“Kehidupan di Jawa secara umum hampir sama dengan Bali. Di Bali dikenal sebagai kota pariwisata, disini kota metropolis. Dan saya senangnya disini orangnya akomodatif gampang bergaul. Tapi tantangannya lebih besar,” ujar mantan GM di PT PLN (Persero) Distribusi Bali ini.

Karena tantangan itu pula, selama 4 hari sejak kepindahannya sejak hari Jumat (7/2) pekan lalu, Mardawa belum sempat menjelajahi beberapa destinasi wisata kuliner yang dikenal di Kota Surabaya. Seperti “Rawon Setan” misalnya, sampai kini dia belum singgah ke kuliner tersebut. Kesibukan menjadi alasan utamanya.

“Rutinitas saya kebanyakan di kantor sehingga belum sempat menjelajahi kuliner di Surabaya. Pagi jam 7 masuk kantor, lalu jam 19.00 pulang. Jadi pulang sudah capek,” katanya.

Terkait dengan tantangannya sebagai GM baru di lingkungan PT PLN Distribusi Jatim, diakui Mardawa memang tidak mudah dalam sekejap untuk mengembangkan program baru. Apalagi, Jatim dikenal sebagai kota industri dan perdagangan yang memiliki kemajuan yang cukup pesat.

Ditambah, tiap tahunnya di tataran PLN, kantor PLN Distribusi Jatim selalu menjadi center of ceremonial. Artinya sejumlah penghargaan diraih, diantaranya dua karya inovasi yakni “Robot CJDW” hasil ciptaan putra-putra PLN dari APJ Mojokerto dan “Pole Mounted Circuit Breaker” (PMCB) yang diciptakan oleh putra-putra PLN dari APJ Madiun dan Situbondo menyandang juara I pada lomba karya inovasi yang diselenggarakan oleh PLN pusat.

“Yang pasti siapapun memimpin PLN yang harus diprioritaskan, pertama gimana caranya pasokan listrik cukup, dan harus hidup. Kalau mati cepat hidupnya. Itu yang paling inti. Lalu sistem pembayarannya terbuka, semua dilakukan dengan melalui chanel-chanel perbankkan, sehingga tidak ada lagi tindak kecurangan. PLN itu sistem. Tidak bisa saya masuk sebagai GM kesini lalu sistem itu diubah lagi,” jelasnya.

Namun, dia mengaku akan menggunakan strategi ISOk-E (Image, Service, Operating Performance Execellent) demi membangun PLN Jatim lebih baik lagi. Gebrakan baru ini bertujuan meminimalisir semua keperluan listrik yang begitu besar di Jatim. Diakuinya, Jatim adalah wilayah baru baginya. Sangat berbeda dengan wilayah-wilayah yang ia kerjakan sebelumnya.
“Sekarang beban puncak di Jatim adalah 4.425 Mega Watt, sedangkan untuk pembangkitnya sendiri ada sekitar 8.670 Mega Watt. Jadi bisa dikatakan saya ini masih belajar di daerah baru, apalagi Jatim masih memiliki cadangan sekitar 2.173 Mega Watt,” ujarnya.
Mardawa menjelaskan, sebagian besar pembangkit listrik di Jatim memang sangat berpotensi, sehingga pihaknya akan lebih bijak dalam menggunakan sumber pembangkit yang lumayan besar ini untuk didistribusikan.
Menurutnya, pada prinsipnya, dia harus melayani masyarakat dan tidak ada target khusus. Namun, secara utama dia lebih mengedepankan soal pelayanan. “Seperti halnya sistem penyambungan dengan menggunakan call center,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s