Puisi yang Baik Harus Jujur dan Berangkat dari Realita

Posted: Februari 22, 2014 in Pendidikan

Pengurus dan anggota FAM Cabang Surabaya bersama sejumlah murid SD di Surabaya dalam acara Kopdar ke-16 di kota itu.

Pengurus dan anggota FAM Cabang Surabaya bersama sejumlah murid SD di Surabaya dalam acara Kopdar ke-16 di kota itu.

SURABAYA – Seperti apa puisi yang baik itu? Pertanyaan ini sering mengundang kegelisahan para penulis pemula yang baru memulai ‘karir’ kepenulisannya. Bahkan, tak sedikit yang urung melangkah lantaran takut puisi karya mereka dianggap tidak bermutu oleh pembaca.

“Tapi kerisauan itu dijawab tuntas oleh narasumber yang hadir mengisi Kopdar ke-16 FAM Cabang Surabaya, Ahad (16/2) lalu di Surabaya,” ujar Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya lewat siaran persnya, Kamis (20/2).

Dia menyebutkan, pada pertemuan yang bertempat di Balai RW Wisma Kedung Asem Indah Surabaya itu, hadir seluruh pengurus dan anggota FAM Cabang Surabaya. Sebagai pembicara menampilkan penyair dan penulis Surabaya, di antaranya Fileski, Ken Hanggara, dan Wildan Taufiqurrahman.

Menurut Fileski, puisi yang baik adalah yang tetap berpijak pada realita sekalipun membuka ruang untuk berimajinasi. Dia mengumpamakan puisi sebagai sebuah potret, gambaran realita, tetapi dikemas dengan kata-kata berestetika.

Pendapat lain disampaikan Ken Hanggara, bahwa puisi yang baik itu harus jujur. Jangan sibuk dengan kata-kata indah karena yang paling penting adalah diterimanya pesan-pesan yang terkandung di dalam puisi kepada pembaca. Sedangkan menurut Wildan Taufiqurrahman, puisi itu seperti ruh manusia.

“Sehingga antara penulis dan puisinya harus menyatu. Dengan kata lain, puisi yang baik adalah yang bisa mempresentasikan penulisnya,” ujar Wildan.

Dikatakan lagi oleh Fileski, seorang penyair besar sekelas Putu Wijaya (mungkin) tak pernah juara dalam lomba-lomba puisi. Tapi perjalanan waktu mengantarkan beliau sebagai salah seorang tokoh sastra berpengaruh yang dimiliki negeri ini.

“Artinya, sebuah perlombaan, apa pun hasilnya, jangan dijadikan titik akhir perjalanan karya kita. Tetaplah berproses dan terus berproses hingga titik akhir kehidupan kita di alam fana,” katanya filosofis.

Selain membahas puisi, pertemuan itu juga diisi dengan kegiatan menulis puisi spontan bertema ‘Bencana Alam di Negeriku’ yang diperuntukkan bagi beberapa murid SD yang hadir di kesempatan tersebut.

“Dari sini bisa diketahui adanya potensi-potensi besar dari generasi penerus di jalur literasi yang harus terus dibina,” kata Yudha Prima, Koordinator FAM Cabang Surabaya.

FAM Cabang Surabaya salah satu kepengurusan FAM Indonesia yang aktif menggelar berbagai kegiatan kepenulisan. Baru-baru ini FAM Cabang Surabaya juga mengundang penyair D. Zawawi Imron dalam sebuah dialog sastra di kota itu. (rel)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s