Etiket

Posted: Maret 12, 2014 in Pengetahuan

Orangtua saya dulu mengajarkan formula sederhana mengenai etiket makan. Mereka berkata, “Ingat, left itu terdiri dari 4 huruf, seperti halnya food. Sementara right terdiri dari 5 huruf, sama halnya dengan drink. Jadi, selalu letakkan makanan di sebelah kiri, serta minuman di sebelah kanan. Jangan dipindah-pindah, nanti minumanmu bisa terminum orang lain dan kamu akan terlihat tidak tahu aturan.”

Nyatanya tidak semua orang mendapatkan pelajaran berharga mengenai etiket sehari-hari. kita kerap melihat, orang-orang ‘berpangkat’ sekalipun, tidak mengindahkan etiket, misalnya  berbicara terlalu keras, makan sambil mengeluarkan suara, tidak mengindahkan tata cara makan, bahkan bersendawa tanpa rasa bersalah.

Bila kita melihat orang dengan sengaja tidak mengindahkan etiket, kita tentu akan sulit merespek orang tersebut, apalgi bersimpati padanya. Orang seperti ini tampil tidak sopan karena bersikap tanpa memperhatikan lingkungan, serta kebutuhan atau perasaan orang di sekitarnya.

Bagaimana individu bisa sukses berelasi, bernegoisasi bila ia tidak bisa memberi kesan positif pada orang lain? Sebaliknya orang yang peka lingkungan, tentu akan berupaya untuk mengobservasi orang lain di sekitarnya, memperhitungkan dampak dan sikap tindakannya.

Di masa di mana tatap muka semakin langka, etiket semestinya malah tidak diabaikan. Kita harus pandai-pandai memanfaatkan momentum bertemu muka. Bayangkan saja, bila kita sudah susah-susah membuat janji dengan seseorang untuk bertemu, kita jadi terkesan tidak menganggap penting orang tersebut. orang yang mengindahkan etiket, senantiasa mengecek apakah dirinya sudah bersikap pas kepada setiap orang yang kita temui.

Penampilan seseorang memamg kita akui akan memengaruhi cara kita memandang orang tersebut. Namun, penampilan saja tidak kuat untuk dijadikan ‘topeng’. Bila individu berpenampilan keren, tetapi sikapnya merendahkan orang lain, senang bergosip.

Sebaliknya ada seorang ekskutif lembaga yang sangat bergengsi, berpakaian bisa sesuai dengan peranny saja, tetapi dikenal simpatik dan terhormat karena awareness-nya pada lingkungan. Beliau sangat memperhatikan siapun yang ia temui, membuat orang merasa bahwa ia sangat ingat diri kita.
Dengan jabatan yang tinggi seperti itu, ia masih merespons sms, e-mail dalam waktu di bawah 24 jam. Ia pun hadir dalam setiap event yang diangap penting oleh karyawan. Ia juga mengungkapkanbahwa bertanya adalah suatu seni. Kemampuan bertanya untuk memahami suatu situasi atau menanyakan keadaan kelaurga lawan bicara, atau untuk memahami suatu siatusi, membuat ia terkesan penuh perhatian, dan tidak berorientasi pada diri sendiri.

Life be not so short but there is always time for courtesy.
(Samuel Mulia : Kompas, 30 November 2013).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s