Uhuru, Handknit for Everybody

Posted: Maret 17, 2014 in Balada Kehidupan

4a5a45be80183a2d6d72b17758bdab03Rina. Begitulah dia akrab disapa rekan-rekannya. Wanita kelahiran Kendal Jawa Tengah ini memilih resign dari jurnalis karena tertantang untuk menggeluti usaha sendiri. Dia sebelumya menjadi jurnalis di republika.co.id.

Menurut wanita bernama lengkap Rina Tri Handayani ini, menjadi jurnalis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Namun menjadi pengusaha lebih menyenangkan lagi. Niatan membuka usaha di bidang rajutan ini sudah diimpikannya sejak lama. Karena belum siap, dia memilih bekerja menjadi jurnalis dulu. Setelah resign, dia langsung fokus ke usaha itu.

Rina menjual karya tangannya seperti scarf sangat murah. Untuk sebuah handmade dengan tingkat keindangan yang sangat tinggi, Rina menjualnya seharga Rp 75 ribu. Bandingkan dengan sebuah bros rajutan di sebuah outlet aksesoris yang dibanderol dengan harga lebih mahal.

Handmade atau kreasi tangan selama ini, menurut Rina kurang mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Tidak ada penghargaan spesifik yang diberikan pemerintah kepada pelakunya. Kondisi ini berbeda dengan di Jerman dan Jepang atau beberapa negara maju lainnya. Kata Rina, di negara maju itu untuk tak perlu menawar untuk mendapatkan sebuah handmade.

Untuk memulai usaha handknit ini, Rina menilai harga terjangkau merupakan strategi efektif untuk melakukan promosi. Menurutnya, yang terpenting produk handknit buatan tangannya sudah mulai dikenal pasar. Untuk melakukan promosi, dia memajang produknya di Blackberrmy Messenger. Diluar dugaan, banyak teman-temannya memesak topi dan syal yang dipajang itu.

Dari situ, dia selalu memberikan ruang pada produknya untuk mejeng jadi DP (display picture). “Banyak yang bertanya, aku mulai kebanjiran order meski belum mempunyai outletnya,” katanya.
Setahun kemudian, outlet itu akhirnya menjadi nyata berbekal “menjilat” orang tua dan sebuah kepercayaan seorang teman yang sangat baik hati juga kabogoh yang selalu mendukung aku. Menempati sebuah ruko di Jalan Pesantren 192B Cimahi-Bandung, di sini bisa belajar merajut, membuat sendiri rajutan yang diinginkan atau memesan rajutan tangan termasuk menyediakan perlengkapan dan pernak-pernik rajut plus bisa belanja handknit yang ready stok.

Sebelum outlet berdiri, dia tak sungkan menyatakan mimpi rumah rajut. Hingga akhirnya, setiap perkataan yang katanya adalah do’a tersebut diijabah. Kawan kost menawarinya ikut pameran dalam Bandung Communities Network di Bandung Indah Plaza, meski hanya berbagi stand, tentu dia tak mau melewatkan kesempatan. Pameran yang menjadi ajang pameran pertama berhasil menambah jaringan. Jaringan, tak bisa dipungkiri itu salah satu kunci utama bisnis. Berkat jaringan, tak hanya di Bandung produk Uhuru sampai di Jakarta, Jogjakarta, Solo, dan siap mengepakkan sayap di luar Pulau Jawa. Rajutan tangan yang dihasilkan di antaranya scarf/syal, sepatu dewasa/anak/bayi, sweater, rompi, topi, dan lainnya.

Memiliki rumah rajut adalah impian sejak tangannya mulai aktif menari merangkai benang menjadi produk rajutan. Mimpi itu terus melambai-lambai menarik dirinya untuk menggapainya. Lulus kuliah dari Universitas Gadjah Mada, mimpi itu terasa mendekat, namun dia yang merupakan lulusan Jurusan Kehutanan tak dapat restu dari orang tua. Alhasil, panggilan ke Kalimantan Barat membuatnya harus menerima kenyataan rumah rajut tertunda. Bertekad mengumpulkan modal itulah niatnya.

“Gulungan benang-benang untuk merajut ikut terbang ke Pulau Kalimantan. Aku tak menyerah, hobi itu terus aku geluti di sela-sela pekerjaan sebagai staf riset di sebuah perkebunan swasta. Aku terus merajut karena aku suka. Tidak terbesit keinginan menjual kreasi rajutan, produk itu hanya berpindah tangan,” ujarnya.

“Senior yang sudah dianggapnya kakak yang kebetulan suka main voli, aku berikan semacam gelang yang biasa dipakai para pemain voli atau basket tentu dari rajutan. Ia begitu suka, aku pun puas. Tak cukup itu, di sana beberapa kali aku membuat sepatu bayi sebagai hadiah temanku yang memiliki bayi mungilnya juga beberapa aksesoris seperti headband, sarung tangan, dan syal untuk temanku. Sampai akhirnya, seorang teman menawariku untuk ikut stand pesta rakyat yang rutin diadakan masyarakat Dayak…tapi aku harus menunggu tahun depan,” lanjutnya.

Harapan itu pupus karena Rina segera dipindah ke cabang di Tulungagung, Jawa Timur. Sama halnya di Borneo, dia terus merajut, kini dia membuat topi. Topi yang kemudian begitu disukai salah seorang kawannya asal Ternate, lalu diambilnya. Dia pun sumringah sebab karyanya ternyata disukai. Ia pun pulang kampung di Purwokerto, sekembali dari rumahnya, ia bercerita topi khas pendaki itu diminta anak lelaki sulungnya dan sebuah mug cantik dihadiahkan untukku sebagai barternya.

Setelah setahun, dia memutuskan pindah kerja, kini dia mencoba perantauan di Ibu Kota Jakarta sebagai jurnalis. Mimpi itu tetap tergenggam, mengumpulkan modal untuk rumah rajut, karena menurutknya sudah kecil kemungkinan untuk minta modal setelah saat itu tidak diberi. Benang-benang dan perlengkapannya kembali mengikuti kemana dia melangkah. Di sinilah, step itu dimulai. Suatu hari, adia teringat karib sewaktu kuliahnya yang sudah memiliki putra semata wayang. Perantauan membuatnya tak pernah berjumpa dengannya yang berada di Jogja. “Aku memberikan paket topi dan syal untuk toodler dengan sepenuh hati. Kemudian, paket itu aku potret lantas menjadi DP di ponselku. Luar dugaan, jadilah hadiah rajutan itu menjadi berkah buatku untuk mulai berbisnis tanpa toko offline yang selama ini aku idam-idamkan. Dari situlah, aku mulai melayani pesanan. Aku makin bersemangat dan aku semakin yakin menjadi enterprenuer setelah keluar sebagai jurnalis.” kata dia.

Pada akhirnya, Bandung adalah kota perantauan yang akhirnya dia pilih untuk membuka impian rumah rajut yang kemudian diberi nama Uhuru, handknit. Kenapa Uhuru? Uhuru merupakan puncak Kilimanjaro, the world’s highest free-standing mountain. Sebab dia tak bisa meninggalkan basic kecintaan terhadap alam dan agar dia terus mengingat filosofi seorang climber. Seorang climber akan terus menggapai puncak meski jalannya berliku.

Usaha yang digeluti Rina ini selaras dengan hobinya. Sejak kecil, dia hobi merajut. Kadang, jika ada temannya sedang ulang tahun, dia menghadiahkan hasil rajutannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s