Surabaya Post, Kecil Tapi Menggigit

Posted: April 3, 2014 in Pengetahuan

Koran Surabaya Post lebih minimalis daripada koran pada umumnya, tapi tidak menghilangkan esensinya.

Koran Surabaya Post lebih minimalis daripada koran pada umumnya, tapi tidak menghilangkan esensinya.

Selamat Ulang Tahun ke-61 untuk Harian Surabaya Post. Terbit sejak tahun 1953, sampai kini kau tetap mempertahankan untuk jadi satu-satunya koran sore di Jawa Timur. Koran legendaris. Begitulah pembaca fanatikmu menjulukimu.

Hari ulang bukan untuk hura-hura, bukan pula sekadar mengirim bunga ucapan atau kue sebagai tanda persahabatan. Ulang tahun adalah pengingat, bahwa kau pernah dilahirkan, dan setiap yang lahir akan mati (shut down). Tapi, saya yakin kau tidak akan mati dengan cepat. Walau kenyataannya dua kali pernah mati suri. Semoga matimu itu menjadi pengalaman berharga agar di kehidupan berikutnya kau tetap abadi.

Saya sebagai orang yang tak tahu banyak sejarah tentangmu, hanya prihatin ketika ada kabar bahwa kamu (Surabaya Post) mati suri atau tak terbit lagi sejak awal Maret 2014. Peristiwa ini sangat disayangkan dan seakan-akan mengulang lagi peristiwa 1 Mei 2002 lalu. Surabaya Post tidak terbit selama 3 bulan. Penyebabnya juga sama, defisit keuangan.

“Sejarah berulang dengan pelaku berbeda.” Demikian beberapa personil Surabaya Post memasang status di profil Blackberry Messenger (BBM)-nya.

Rata-rata mereka gelisah ketika isu akan ditutupnya Surabaya Post mulai menyeruak ke permukaan. Ada yang resign, ada pula yang tetap bertahan dan terus berusaha mencari cara agar Surabaya Post tetap terbit. Kesabaran mereka memang saya acungi jempol. Bagaimana tidak, dengan kondisi tanpa kepastian (tentu tanpa pendapatan) para personil Surabaya Post masih loyal. Hingga akhirnya, meski keterbatasan personil perjuangan mereka membuahkan hasil. Ya, Surabaya Post kembali terbit pada 1 April 2014.

Tetapi ada yang berbeda dengan perwajahan dan ukuran dari Surabaya Post edisi sebelumnya. Mungkin, inilah yang mereka sebut sebagai kejutan di hari ulang tahunnya. Dan mereka berhasil mengejutkan saya, mungkin juga pembaca lainnya. Ukuran Surabaya Post edisi terbaru ini lebih minimalis daripada ukuran koran pada umumnya, tampil modis, jika dibandingkan hampir sama dengan ukuran buletin. Namun ukuran bukan parameter untuk dijadikan acuan. Yang terpenting ialah isinya (konten).

Menurut saya, gebrakan Surabaya Post edisi baru pasca tidak terbit ini penuh dengan kreasi, inovasi, dan isi yang “menggigit”. Sama halnya dengan cabe rawit, kecil tapi pedas. Hehe…

Saya yang awalnya enggan membaca isi dari artikel Surabaya Post secara keseluruhan. Beberapa faktor yang menjadi pemicu ialah karena malas, terlalu banyak koran yang harus saya baca, dan Surabaya Post sendiri menyajikan isi yang kurang greget. Namun kondisi ini berbeda setelah saya menerima koran Surabaya Post pada 1 April di sore harinya. Surabaya Post edisi itu seakan-akan menghipnotis saya untuk membaca seluruh artikel di masing-masing rubrik. Bahasa yang dipakai lebih halus dan tidak lagi menjadi koran antagonis. Seperti yang belakangan ini diterapkan oleh redaksi. Ibarat dalam sandiwara, Surabaya Post sekarang menjadi koran tritagonis, yang menjadi penengah dalam suatu konflik atau permasalahan yang ada dipublik, dan tidak mengesampingkan nilai-nilai jurnalistik seperti yang diamanatkan UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Sanggupkah Bersaing ?

Ini menjadi pertanyaan sulit bagi personil Surabaya Post yang masih loyal saat ini. Meski secara konstitusional (maaf bahasa agak dalam. hehe) Surabaya Post yang terbit saat ini tidak banyak diakui oleh personil Surabaya Post era-Abd Aziz (pendiri Surabaya Post), namun hadirnya kembali Surabaya Post ini bagai angin segar bagi publik yang butuh informasi yang akurat dan cepat. Juga perlu dicermati oleh punggawanya di tengah sengitnya bisnis media saat ini.

Sekarang ini saja, Surabaya Post harus mampu bersaing dengan seteru klasiknya, Jawa Pos. Belum lagi kiprah koran lokal lainnya seperti Harian Surya (Kompas Group) yang terus merengsek naik. Di bawah Harian Surya, ada Harian Surabaya Pagi, Radar Surabaya, Memorandum, Harian Bhirawa, Duta Masyarakat, Harian Bangsa, Berita Metro, serta koran lainnya.

Meski Surabaya Post pernah berjaya di era 90-an dan menjadi ikon koran berpengaruh di Jawa Timur, bahkan tingkat nasional, apapun itu personil saat ini jangan terkecoh oleh kejayaan masa lalu. Eranya sudah berganti. Saya akui, koran pagi lebih mudah berkembang daripada koran sore. Makanya, di beberapa wilayah tiras koran sore mulai memudar. Tidak menutup kemungkinan juga banyak yang sudah gulung tikar.

Ancaman lain yang wajib diwaspadai Surabaya Post adalah agresivitas portal. Pengguna internet di negeri ini tiap tahun bertambah, hitungan matematisnya sampai puluhan juta. Sehingga upaya mengembalikan kejayaan Surabaya Post akan terasa berat.

Apalagi, koran sore sering kalah dari sisi waktu, masa jual dan distribusi yang sangat pendek. Menurut Syirikitsyah (mantan wartawan Surabaya Post) yang ditulis dalam blognya sirikitsyah.wordpress.com , ”Koran sore sulit populer di wilayah luar kota karena jarak tempuh yang panjang. Pasar koran sore yang paling utama memang dalam kota, the city paper”.

Akan tetapi, Syirikitsyah juga menulis bahwa dalam hal isu atau berita, koran sore selalu lebih dahulu, lebih cepat, dalam menangkap dan menyebarkannya kepada pembaca. Yang disampaikan adalah kabar terbaru, berita hari ini, bukan gambaran lengkap dari sebuah peristiwa berita.

Ini ibarat cambuk demi perubahan. Pengalaman pernah shut down tahun 2002 lalu harus menjadi referensi untuk mencari kiat-kiat mengatasi defisit keuangan dengan mendatangkan iklan dan memperbanyak langganan. Disinilah perlu tangan dingin dari seorang pimpinan yang mumpuni. Tidak mungkin Surabaya Post mendapatkan suntikan modal tiap bulan tanpa ada niatan untuk bangkit. Memang sejak Juli 2002, Surabaya Post mendapatkan suntikan “amunisi” dari pengusaha Jatim Ariyanto. Namun, itu tidak bisa menolong Surabaya Post. Sehingga Surabaya Post kembali ditutup sementara.

Sebelum dibangkitkan lagi, terjadi sengketa merk Surabaya Post dengan manajemen lama. Karena itu, sebelum mendapatkan keputusan sah dari pengadilan, Surabaya Post untuk sementara pada 6 November 2003 berganti nama menjadi Surabaya News yang juga terbit sore hari. Respon pasar terhadap harian ini juga baik.

Setelah selang beberapa waktu, keputusan pengadilan keluar dan Surabaya News berganti nama lagi menjadi Surabaya Post. Saat itu, investor yang berani masuk ialah Abdurahman Junaid Bawazier (pengusaha garmen yang juga pemilik perusahaan pasta gigi Siwak F) dan Harijanto Tedjo (pengusaha kemasan karton) dengan kepemilikan saham 55%. Sisanya 35% dimiliki pendiri (mantan karyawan) dan 10 % milik karyawan (wartawan). Pada terbitan perdananya, Surabaya Post pasca tutup mencetak 25 ribu ekslempar untuk para pelanggan. Sebuah hasil prestasi yang cukup menakjubkan pada tahun 2002 itu.

Hanya saja, seiring lajunya bukan berarti tidak muncul masalah. Surabaya Post kembali diterpa defisit keuangan. Urusan ini menjadi sangat vital bagi setiap perusahaan, tak terkecuali Surabaya Post.

Dari hasil penelusuran saya, berkali-kali Surabaya Post mengalami defisit keuangan. Defisit keuangan Surabaya Post mulai terasa sejak bulan November 2001 yang ditandai dengan keterlambatan gratifikasi bulan November, keterlambatan Tunjangan Hari Raya (THR) 2001, keterlambatan gaji karyawan bulan Januari hingga April 2002, krisis kertas dan krisis bahan produksi lainnya. Krisis keuangan inipun membuat beberapa saluran telepon ditutup hingga ancaman pemutusan saluran listrik.

Namun berangsur-angsur defisit keuangan itu bisa ditekan pada bulan Maret 2002. Salah satu upaya menekan defisit yang dibarengi dengan semakin menipisnya bahan baku kertas itu disiasati dengan mengurangi jumlah halaman, dari 20 halaman menjadi 16 halaman.

Lalu, defisit itu lagi-lagi menghantui Surabaya Post. Dikutip dari portal tempo.co yang diunggah pada Sabtu, 15 Maret 2014 pukul 16:36 WIB, Surabaya Post kembali tutup karena kondisi keuangannya defisit. Para karyawannya sejak Januari 2014 hingga Februari lalu tidak lagi menerima gaji bulanan. Untuk efisiensi, mulai 1 Januari 2014 edisi Minggu dihentikan. Inilah tantangan !!

Oya, untuk menyegarkan ingatan saja bahwa Surabaya Post adalah surat kabar untuk semua golongan. Fokus pemberitaannya adalah isu-isu nasional, isu-isu lokal di provinsi Jatimdan juga membahas tentang isu internasional. Harian ini juga memberitakan event lokal, berita olah raga, dan lain-lain. Harian ini berkantor pusat di Ruko Rich Palace Kav. H19–20, Jl. Mayjend. Sungkono 149–150, Surabaya.

Harian Sore Surabaya Post mempunyai visi ‘mempertahankan warisan budaya’ dan mempunyai andil besar dalam menggalang dan mempertahankan derasnya pengikisan situs sejarah. Termasuk pembongkaran gedung-gedung bersejarah yang punya nilai cagar budaya.

Harian Sore Surabaya Post, pernah mengalami masa jayanya, dengan tirasnya sebanyak 90 ribu eksemplar, setiap harinya. Bahkan ketika terjadi Perang Teluk, tahun 1991, tirasnya bahkan melonjak jauh hingga menembus 120 ribu eksemplar. Begitu pula, pada saat surat kabar Harian Sore Surabaya Post, bekerja sama dengan Kanwil Depdikbud Jawa Timur, menerbitkan suplemen tabloid koran pelajar ‘Bekal’. Tabloid koran pelajar Jawa Timur ‘Bekal’ ini diharapkan merangsang para siswa dan guru di Jawa Timur, untuk gemar membaca dan menulis. Sehingga mereka (para siswa dan guru) tidak hanya disuruh membaca saja, tapi juga diberi ruang/rubrik tersendiri guna ikut menulis.

Apa yang Harus Dilakukan?

Sudah saatnya setelah berganti manajemen Surabaya Post kembali ke tetirahnya seperti era kejayaannya. Di balik nama Surabaya Post memang ada Bakrie, tapi tetap mengutamakan objektivitas. Pimpinan redaksi (pimred) selayaknya jatuh ke anak ideologis Surabaya Post. Dia yang memiliki reputasi baik selama menjadi jurnalis, kemampuan lobinya sudah terbukti dan memiliki relasi luas baik dari kalangan pengusaha dan birokrasi, serta seniman.

Figur yang demikian memang tidak mudah didapatkan, di tengah pesimisme mantan pengendali Surabaya Post era-Abd Aziz. Meski ada, itupun tidak mudah beradaptasi karena intervensi dari pemilik mayoritas saham dalam hal ini Bakrie.

Ingat, Surabaya Post saat ini dianggap oleh pelopornya bukan Surabaya Post era 80-an. Nama yang sekarang ada hanya mewarisi nama besar saja, tapi dengan manajemen dan kualitas yang sudah sangat berbeda dari sang pelopor.

Saya tidak tahu siapa saja tokoh Surabaya Post itu. Yang saya kenal kapabilitasnya sudah teruji dalam membesarkan media diantaranya Erfandi Putra dengan jaringan media Globalnya, Lucky yang saat ini menjadi Pimred Beritajatim.com, Arif R Rachman, Sapto yang di merdeka.com, dan beberapa pelopor Surabaya Post tempo dulu.

Bagi saya pribadi, Surabaya Post tetaplah Surabaya Post tanpa membedakan rezim. Surabaya Post adalah rumah ilmu pengetahuan. Terbukti, beberapa alumnusnya diterima di beberapa media dan perusahaan bonafit.

Kendati demikian, terbitnya kembali Surabaya Post ini selaiknya mengikuti tren dan melakukan perbaikan internal dan eksternal. Tanpa itu, terbit kembali merupakan pilihan sia-sia. Berapa pun biaya yang dikucurkan mungkin sama seperti kasus lumpur Lapindo, akan terkuras habis tak berbekas. Lenyap tak terekam, karena memang masyarakat yang akan dilayani dan masyarakat yang akan menerima informasi dari Surabaya Post sudah berbeda, sudah berganti generasi, sudah berbeda kebutuhan.

Dulu tag line Surabaya Post “lebih cepat dari dunia dalam berita” paling favorit. Kini semuanya sudah berubah. Kebesaran nama dan manfaat Surabaya Post kini ada di dalam sanubari masing- masing. Tentu dalam menyikapinya juga berbeda-beda bergantung dari tiap individunya.

Sekarang Surabaya Post mengusung tagline “Spirit Muda”. Membidik pasar anak muda yang digaungkan disaat peluncuran perdana Surabaya Post kemarin akan mustahil tercapai. Anak muda sekarang sudah berganti tren, dari cetak ke digital. Sarana utama untuk mendapatkan informasi berasal dari sosial media yang sudah banyak dirambah oleh media online. Jawa Pos juga jauh hari sudah menyediakan rubrik yang khusus untuk anak muda seperti Deteksi.
Lebih baik Surabaya Post memiliki segmen tersendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat di sore hari. Atau membuat ceruk baru yang tak dimiliki koran lain. Pasar bisa direkayasa asal kita kreatif. Ini tugas dari orang marketing dan reporter kelas handal.
Orang produksi (redaksi) tahu barang yang bagus, tapi orang marketing tahu bagaimana membuat ceruk, dan orang sales tahu cara membuat barang laku, orang kreatif (desain) tahu bagaimana membuat barang menarik. Mka itu, tetaplah bersinergi antar divisi Surabaya Post. Kibarkanlah benderamu !!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s