Fiksi, Jalan Lain Ungkapkan Fakta

Posted: April 17, 2014 in Pengetahuan

(1) Kita semua tahu bahwa jurnalistik adalah pelaporan tentang fakta dan peristiwa. Tidak boleh ada yang fiktif dalam pelaporan berita. Mungkin saja feature humanistis ditulis dengan gaya bahasa literary journalism. Namun, yang ‘nyeni’ dan ‘fictionized’ cuma bahasanya, cara penyampaiannya (delivery), sedangkan content/isinya tetap harus berdasarkan fakta dan peristiwa. Bahkan, karya feature tidak hidup tanpa wawancara narasumber, orang yang benar-benar nyata ada di pusat fakta atau peristiwa yang dituliskan. Tidak ada yang fiktif dalam berita. Bila ada yang fiktif, itu tergolong berita palsu, kabar bohong, yang dapat berlanjut ke persoalan fitnah dan pencemaran nama baik.

(2) Fiksi, di lain pihak, adalah kisah khayalan, rekaan, bukan sebenarnya. Selain bahasanya lebih indah dan lebih bebas (bisa pakai metaphor, analogi, hiperbola), isinya pun bebas. Kisah yang ditulis boleh seperti kehidupan nyata (realistis), bisa juga jungkir balik (dekonstruksi), atau aneh-aneh (absurd).

Tokoh-tokoh dalam karya Dee (Dewi Lestari), misalnya, tergolong unik/tidak biasa: kopi (Filosofi Kopi), kecoa (Roco de Coro), adonan roti (Madre). Sitok Srengenge pernah menulis cerpen dengan tokoh Sang Kala (waktu). Pendeknya, kita dapat berbuat apa saja dengan tulisan kita. Namun, keunggulan fiksi yang jarang disadari dan dengan demikian jarang digeluti/dieksplorasi oleh para penulis adalah bahwa fiksi bisa saja menuliskan kisah-kisah nyata.

Karya para pengarang Rusia yang banyak mengkritik atau menyindir kaum borjuis, pastilah berdasarkan kisah nyata di Rusia pada masa itu. Seno Gumiro Ajie Darma juga menulis banyak sekali kisah-kisah yang sebenarnya faktual. Dengan hanya mengaburkan setting dan mengubah identitas karakter/tokoh, kisah nyata itu disulap menjadi kisah fiktif yang memukau. Sesungguhnya, kisah apa yang dapat lebih memukau daripada kisah manusia yang nyata?

(3) Sebagai wartawan majalah Jakarta-Jakarta, Seno banyak berkelana meliput ke berbagai tempat dan peristiwa. Namun, pada era tertentu (Orde Baru) ada hal-hal yang tak dapat diungkapkan lewat karya jurnalistiknya. Ada kabar-kabar yang dianggap tabu untuk disiarkan, dikuatirkan dapat memicu perpecahan atau konflik yang lebih besar.

Seorang pengarang akan stress bila tak diizinkan mengungkapkan pikiran atau pandangannya. Maka Seno mengungkapkan apa yang dilihatnya, disaksikannya, dan tak dapat dilaporkan dalam karya jurnalistik, dalam beberapa cerita pendek.

Pengalaman Seno tentu tak jauh beda dengan pengalaman Mochtar Lubis, pendiri dan Pemred Harian Indonesia Raya yang menulis novel Harimau-Harimau. Juga, Ernest Hemmigway pemenang Hadiah Nobel Sastra yang banyak novelnya berlatar belakang peperangan (Hemmingway pernah menjadi sopir ambulance, kemudian wartawan, di medan perang).

(4) Tahun 1990an saya menulis ceren Ibu Kandung, mempertanyakan ‘siapa yang paling berhak disebut ibu kandung oleh manusia hasil rekayasa bayi tabung’. Pada tahun 1990an itu, proses bayi tabung masih sesuatu yang baru. Sebagai jurnalis saya tidak punya kompetensi untuk mempertanyakan dampak psikologis bayi tabung, tapi benak saya terusik. Bagaimana kalau anak hasil bayi tabung itu ternyata memiliki ibu yang menyumbangkan benihnya, kemudian ibu yang mengandung benih itu (karena ibu pertama tidak bisa mengandung), kemudian ada ibu yang mengasuhnya hingga dewasa –ibu lain lagi, karena bayi itu kemudian diperjualbelikan.

Ketika manusia bayi tabung ini dewasa, dia akan bertanya “Siapa ibu kandung saya?” Apakah ibu yang mengandung? Atau ibu yang menjadi asal usul gen-nya? Atau ibu yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang dari lahir hingga dewasa? Ini akan menjadi problem psikologis yang hebat, terutama bila si manusia tabung ini sukses, kaya, terkenal, lalu ketiga ibu mendatanginya, menuntut hak untuk diakui. Khayalan yang ‘menyeramkan’ menurut saya ini, sedikit suspense, hanya bisa diutarakan lewat karya fiksi.

(5) Menurut teori Readers’ Response, karya sastra terlepas dari induknya (pengarangnya) begitu dia dilahirkan dan diluncurkan. Interpretasi sepenuhnya hak pembaca. Ketika saya menulis “Perempuan Suamiku”, “ Wanita Kedua”, “Dia Ingin Dimadu”, tak sedikit yang mengomentari dan mengira bahwa saya pro-poligami. Bahkan ada yang mengecam dan mencaci. Padahal dalam fiksi yang mengisahkan kehidupan perkawinan, suami-istri, poligami, itu saya hanya mendudukkan pengertian poligami pada proporsi sesuai maksud AlQuran. Saya melakukan itu karena teralu banyak orang –Muslim maupun non Muslim- yang keliru memaknai poligami.

Bila laki-laki, itu dianggap privilege; bila perempuan, itu dianggap penindasan. Padahal konsep AlQuran, poligami adalah solusi dalam perkawinan. Ini bukan larangan dan bukan anjuran. Bila saya menuliskannya dalam bentuk artikel opini, saya tidak cukup berkompeten (saya bukan dai). Untuk ditulis dalam laporan jurnalistik juga susah, karena jarang ada pelaku poligami yang bersedia diwawancarai. Salah satu cerpen saya tentang poligami sesungguhnya berdasarkan kisah nyata seorang teman, yang kalau menjadi laporan jurnalistik dia akan sangat keberatan. Ketika saya “fictionize” (di-fiksi-kan), dia tidak keberatan karena pembaca akan menganggap itu bukan kisah nyata.

(6) Apakah pembaca fiksi akan menganggap semua kisah dalam fiksi adalah khayalan semata? Tidak juga. Sebagian besar pembaca menyadari bahwa kisah fiksi juga berdasarkan hal-hal nyata. Setidaknya, itu refleksi pengalaman hidup dan pengalaman pergaulan pengarangnya. Bahkan, itu bisa merupakan refleksi kehidupan masyarakat di setting termaksud –baik yang normatif maupun yang anomali. Orang-orang Bloomington, seaneh apapun Budi Darma mendeskripsikannya, sebagian besar dari kita percaya bahwa itulah tipe manusia-manusia yang ditemui Budi Darma di Bloomington.

Cerpen-cerpen Ayu Maesa Djenar yang bersetting dunia gemerlap jelas-jelas merefleksikan gaya hidupnya. Novel-novel Marga T merefleksikan kehidupannya sehari-hari di dunia kedokteran, mengisahkan kisah-kisah pasiennya.

(7) Dengan demikian, jelaskah sudah, bahwa fiksi dapat menjadi jalan lain menuju atau mengungkapkan kebenaran. Fiksi adalah alat paling ampuh untuk menyampaikan pesan, sebab meskipun pembaca menganggap itu cuma khayalan pengarang, jauh di lubuk hatinya dia mempercayai bahwa itu benar-benar nyata. Berapa ratus ribu perempuan Indonesia mengalami perubahan cara pandang dan gaya hidup setelah membaca Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia? Berapa juta orang Indonesia langsung memperbaiki sikap kepada ibundanya setelah mendengarkan pusi Zawawi Imron “Ibuku”? Kita juga menghayati perjuangan rakyat Palestina dari novel Rinai karya Sinta Yudisia, seolah-olah kita berada di sana dan sedang menyaksikan berlangsungnya sejarah bangsa Palestina. Betapapun Sinta berusaha mem-fiktif-kan kisahnya, kita percaya itu benar-benar terjadi, dan kita tergerak untuk melakukan sesuatu: menolong, atau setidaknya mendoakan.

Di bawah ini sebuah puisi saya yang merekam peristiwa konflik Dayak-Madura tahun 2000-2002. Kisah ini terilhami penuturan rekan-rekan wartawan di wilayah konflik (saat saya melakukan pelatihan Peace Journalism tahun 2000-2002 di beberapa wilayah konflik di Indonesia). Sebagian peserta (wartawan) mengalami trauma karena harus menyaksikan sadisme yang luar biasa. Mudah-mudahan puisi ini menggugah kesadaran kita untuk berbangsa dan menghapus sekat-sekat kesukuan.

*Rangkuman Materi Sirikit Syah dalam Acara Milad FLP ke-17 di Surabaya. Acara diselenggarakan di Aula Fakultas Hukum Unair, Surabaya

Sirikit Syah. Penulis dan mantan wartawan.
http://www.sirikitsyah.wordpress.com
http://www.sirikit-schoolofwriting.com
@sirikitsyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s