Ini Judulnya Literasi (World Book Day)

Posted: April 23, 2014 in Pendidikan

“Mulai sekarang tidak ada anak pintar atau bodoh, yang ada hanya anak rajin atau malas. Mengerti !!”

Ribuan anak yang memadati Taman Surya Surabaya pada Minggu (20/4/2014) pagi menyambut penuh semangat penegasan dari Tri Rismaharini tersebut. Walikota Surabaya ini seakan menggugah tidur panjang anak-anak yang malas bangun untuk sekadar menoleh terhadap buku-buku yang berserakan di rak-rak perpustakaan yang tersebar di Surabaya, mulai dari Perpustakaan Kota yang berada di Balai Pemuda hingga perpustakaan yang dimiliki RW (rukun warga).

“Percuma banyak perpustakaan kalau tidak ada pengunjungnya,”bisik teman saya yang juga hadir di acara tersebut. Karenanya, untuk menumbuhkan minat baca masyarakat–utamanya anak-anak–Pemkot Surabaya mengeluarkan berbagai amunisi. Salah satunya ialah Tari Buku yang dikreasi oleh Tri Broto Wibisono dalam rangka menyambut Hari Buku se-Dunia (world book day). Kegiatan yang diikuti ribuan siswa sekolah dasar (SD) ini berhasil menghibur para penonton sekaligus memecahkan rekor MURI. Tidak hanya itu, penghargaan lain juga diterima Kota Surabaya di saat bersamaan. Diantaranya ialah penobatan sebagai kota dengan perpustakaan terbaik se-Indonesia.

Tentu sebagai orang awam, saya sangat menyangsikan penghargaan tersebut. Barangkali ada beberapa teman saya juga memiliki kesamaan pemikiran. Penghargaan tersebut parameternya apa? Ini pertanyaan yang selalu bergelayut dalam benak saya.

Di tengah seabrek kesibukan sebagai “kuli” di perusahan swasta, saya tak henti-hentinya mencari tahu apa saja parameter dan indikator yang digunakan oleh si pemberi penghargaan, sehingga kota pahlawan terpilih sebagai kota dengan perpustakaan terbaik. Saya hanya mendapatkan informasi secuil, itupun dari beberapa eferensi yang belum divalidasi kebenarannya.

Jika Pemkot menyebut parameternya ialah banyaknya perpustakaan yang didirikan termasuk juga perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat, ini bisa diterima. Namun, penilaian lain muncul jika parameternya ialah jumlah warga yang memanfaatkan perpustakaan tersebut sebagai sarana untuk mencari ilmu dan menambah pengetahuan.

Dalam sehari, bisa dihitung berapa jumlah pengunjung perpustakaan yang biasanya nangkring di dekat balai RW. Atau berapa banyak “kutu buku” itu menghabiskan waktunya di perpustakaan yang sudah disediakan berbagai macam fasilitas.

Saya yakin, grafik pengunjung nyaris mencapai titik puncak di hari-hari tertentu saja. Alasannya sama ; malas. Seperti yang Risma tegaskan di atas, bahwa hanya ada hanya anak rajin dan malas. Dan kondisi lingkungan bisa mempengaruhi tingkat kemalasan anak.

Barangkali, Pemkot dalam hal ini Badan Perpustakaan dan Kearsipan perlu melakukan suatu tindakan (action) tidak hanya menambah jumlah perpustakaan dan fasilitasnya, melainkan pula melakukan survei tentang indeks membaca berdasarkan usia dan tingkat pedidikannya. Upaya ini terbilang sederhana, tapi diharapkan mampu mengetahui faktor-faktor apa yang jadi pemicu masyarakat malas membaca. Kemudian hasil survey bisa dijadikan pedoman bagi institusi terkait dalam mengambil kebijakan demi meningkatkan minat baca.

Di hari buku sedunia yang dirayakan tiap tanggal 23 April ini, harapannya di kota pahlawan ini muncul pejuang-pejuang literasi yang “blusukan” ke kampung-kampung untuk menggalakkan “Gemar Membaca”.

Namun bagi orang yang peduli pada dunia literasi, dia takkan merayakan hari buku sedunia tiap 23 April. Tiap hari, dalam kalendernya tercantum hari buku sedunia, dimana dia terus memacu langkahnya menghasilkan karya-karya baru, menumbuhkan semangat baca dengan asas MLM (multi level marketing) membaca. Dari membaca dia akan berilmu.

Seseorang yang sudah sakau mencari ilmu dengan membaca, dia akan lupa bahwa bacaannya sudah berjuta-juta lembar. Pecinta ilmu akan memprioritaskan apapun untuk memuaskan dahaga kelimuannya. Seperti seorang syek yang rela melepas sebagian pakaiannya untuk membeli buku yang dipandangnya berharga. Sebab pada saat itu dia tidak memiliki uang.

Atau Abul Hasan al-Fali, salah saeorang nahwu dari Baghdad, Irak pernah memiliki kitab Al-Jamharah karya Ibnu Duraid. Akbat terdesak kebutuhan dia menjual kitab itu sehaga 60 dinar. Kehilangan kitab itu membuatnya berduka hingga ajal menjemputnya.

Ada ungkapan, seseorang tak bisa menjadi pecinta ilmu sebelum buku atau kitabnya lebih berharga daripada bajunya. Konon ungkapan itu ditujukan kepada seorang yang duduk di atas bukunya dikarenakan pakaiannya takut terkena debu.

Bahkan dalam kecintaannya terhadap ilmu, Imam Ibnu Qayyim menyatakan “Adapun pecinta ilmu, kecintaannya pada ilmu melebihi kecintaan seseorang kepada kekasih. Dan banyak diantara mereka tidak tergoda melihat manusia tercantik di dunia sekali pun.”

Atau Muhammad bin Marwan Ad-Dimasyqi yang mengatakan, “Sungguh, aku lebih memilih ditemani tinta sepanjang hari daripada seorang kawan. Aku lebih suka seikat kertas daripada sekarung tepung. Tamparan ulama di pipiku lebih terasa nikmnat daripada minuman lezat.”

Sungguh, betapa membaca dan berkarya itu sangat sakral. Ilmu yang didapat dari membaca dan berkarya akan memperkuat peradaban. Sehingga akal semakin sehat dan mengurangi dari perbuatan maksiat.

*Sampai disini dulu tulisan ini. Jempolku terasa kaku kebanyakan ngetik di keypad blackberry. (ditulis sambil nge-the di warung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s