Agar Gaji tidak Sepuluh Koma

Posted: April 29, 2014 in Pengetahuan

Untuk Si Lajang

Jangan hanya kebutuhan pokok, komponen investasi dan modal kerja juga penting dialokasikan.

Kita kerap merasa gaji atau penghasilan yang kita peroleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Alhasil, kita acap kali merasa paling merana sedunia gara-gara gaji yang “hanya seiprit” itu.
Namun, percaya atau tidak, hampir semua orang, bahkan yang bergaji besar pun selalu merasa kurang.

“Saya pernah bertanya kepada orang yang bergaji Rp 5 juta, ia mengaku gajinya kurang. Nah saya juga sempat menananyakan hal yang sama kepada orang yang punya penghasilan Rp 50 juta. Ternyata jawabannya sama saja, gajinya kurang,”ujar motivator Hari “Soul” Putra.

Masalahnya, kita sering memaknai berbeda antara keinginan, kebutuhan, serta kewajiban. Sebaiknya ketiganya disesuaikan dengan gaji atau penghasilna yang kita dapatkan.

Ia menganalogikan dengan konsumsi madu. Jika sesuai dengan keinginan, tentu saja kita ingin mengonsumsi madu impor. Namun, bila kita menyadari dan berniat menyesuaikan dengan gaji, keinginan itu bisa diturunkan menjadi kebutuhan dengan mengonsumsi madu lokal saja. Bila tidak sanggup juga lantaran gaji pas-pasan, bisa melirik madu sachetan saja. Jadi berapapun gaji yang kita peroleh, semestinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bahkan kewajiban saja.

Formula 3-3-4
Secara spesifik, Hari mengungkap formulasi keuangan kita tidak selalu sekarat di tengah bulan. Ia menyodorkan formula 3-3-4 atau yang secara sederhana dijabarkan berupa pembagian penghasilan menjadi 30% untuk modal kerja, 30% dialokasikan untuk investasi, serta 40% sisanya digunakan untuk konsumsi atau pemenuhan kebutuhan hidup.

Mengapa ada modal kerja? Ini karena bagi mereka yang bekerja sebagai karyawan hanya bergantung pada gaji. Ketika terkena PHK atau terjadi masalah pada pekerjaan yang berujung pada terhentinya gaji, modal kerja inilah yang dapat diandalkan untuk melanjutkan hidup. Walupun gaji besar hingga Rp 100 juta, tapi ketika terkena PHK, selesai semuanya.

Maka, komponen modal kerja tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja. Secara rinci, Hari menyebutkan modal kerja itu dapat terbagi-bagi menjadi sejumlah komponen, di antaranya 2,5% untuk sedekah atau zakat, 5% untuk dana darurat, 17,5% untuk hobi, rekreasi, dan pengembangan diri.

Sedangkan komponen investasi yang 30% dapat dirinci menjadi 20% untuk membayar utang, dan sisanya disalurkan seutuhnya untuk investasi. “Tapi dengan catatan, tidak ada lagi utang baru.
Namun, bagaimana jika kita tidak sanggup memenuhi formula 3-3-4 itu? Hari menawarkan kompromi lain. Ia pun mengakui bahwa formula tersebut memang ideal.

Bila tidak mungkin memenuhi secara tepat formula itu, Hari menyatakan pentingnya perhitungan yang cermat demi masa depan keluarga, biasanya uang akan habis begitu saja. Maka yang terpenting adalah kalkulasi yang tepat untuk merencanakan keuangan dengan matang.

Sumber : Harian Republika (29/4/2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s