Selamat Hari Ulang Tahun

Posted: Mei 19, 2014 in Pengetahuan

Oleh : Samuel Mulia

Dalam perjalanan ke Bandung, tiba-tiba saya teringat akan hari kelahiran saya. Gara-garanya pada bulan ini, beberapa teman, saudara, klien, dan adik kandung berulang tahun. Lumayan bertubi-tubi. Meski ayah sudah berstatus almarhum, tanggal terakhir di bulan ini senantiasa mengingatkan saya pada hari jadinya.

”Lebay”

Di hari semacam itu, saya mengirimkan ucapan selamat. Ucapannya kadang sederhana, tetapi acap kali dipenuhi perkataan yang super-lebay dan kadang terasa cliche dan tidak datang dari hati. Biasanya hal itu terjadi kalau kebetulan yang berulang tahun adalah klien, khususnya klien yang masuk ke dalam kategori pemberi pemasukan cukup besar dan besar sekali.

Saking lebay-nya, bahkan untuk ayah yang sudah almarhum saja, saya masih berdoa di hari jadinya itu, yang sejujurnya buat saya dan almarhum tak ada gunanya. Padahal di hari-hari biasa, saya tak sekali pun mendoakannya.

Dulu, di masa masih dianggap anak kecil dan remaja serta setengah dewasa, menanti datangnya hari jadi itu seperti seorang ibu yang menanti kelahiran anak tercintanya. Rasa senang yang benar-benar penuh. Apalagi, setiap tahun perayaannya bermacam-macam bentuknya.

Waktu masih anak kecil, saya tak berdaya apa-apa. Mungkin berbeda dengan anak kecil zaman sekarang. Saya pasrah, kalau ibu sudah mulai sibuk mengatur perayaan itu. Dari pakaian yang akan dikenakan, menu makanan, sampai siapa saja yang diundang.

Undangan yang hadir kebanyakan teman-teman saya, yang ibu mereka berteman dekat dengan ibu saya. Jadi sejujurnya, perayaan itu adalah perayaan sukarianya ibu saya. Macam arisanlah.

Tapi ya, mau diapakan lagi. Namanya juga masih kecil, ya…, pasrah saja. Saya pernah dikuliahi, sebaiknya saya harus seperti anak kecil dalam menjalani hidup. Mungkin itu diartikan kepasrahan seorang anak, bukan berperilaku seperti anak kecil. Terutama kalau berurusan dengan Yang Maha Kuasa.

Menanjak dan masuk ke dalam dunia remaja, saya baru mulai bisa memprotes ketika orangtua mulai memberi ide tertentu yang tak sesuai dengan ide yang ada di dalam kepala remaja ini. Hal yang seperti ini akan berakhir dengan munculnya kekesalan ke dua belah pihak. Maka, memang benar kalau katanya pasrah itu memberi banyak keuntungan, terutama belajar mengelola rasa kesal yang sangat.

Menjadi anak kecil

Pada saat menjalani kehidupan yang setengah dewasa, artinya secara hukum harus bertanggung jawab sendiri, tetapi masih mendapat bantuan dana dari orangtua, plus gaji yang ya… gitu deh itu, saya lumayan bisa berkuasa atas hari jadi itu, meski nasihat dari orangtua masih saja menggaung di kedua gendang telinga.

Pernah sekali waktu, saya merayakan hari jadi bersama beberapa teman di sebuah diskotek sampai subuh menjelang. Keesokan hari, ayah menanyakan bagaimana acaranya dan jam berapa saya kembali ke rumah. Setelah mendengar penjelasan saya, maka ada suara yang sedikit meninggi terdengar keluar dari mulut ayah.

”Lain kali, jangan ke disko-disko segala. Kamu pernah mikir gak, kalau minuman kamu bisa dimasukkan sesuatu yang berbahaya sama orang yang lagi iseng?” Tak berhenti sampai di situ, ia bertanya, siapa saja teman-teman yang pergi bersama saya.

Sekali waktu, salah satu dari teman itu datang ke rumah dan bertemu dengan ayah saya. Nasihat yang saya tulis di atas, juga disuarakan ke gendang telinga teman saya itu. Teman saya hanya bisa membalas, ”Ya Om…, ya Om…, ya Om.”

Menerima ucapan selamat hari ulang tahun adalah sesuatu yang menyenangkan, bersyukur masih bisa menikmati kehidupan sampai hari ini meski itu mengingatkan akan umur yang bertambah, kematian yang makin mendekat, tenaga yang makin pudar, dan ingatan yang mudah lupa serta penyakit yang mulai menunjukkan aksinya dan perasaan tidak aman dan kekhawatiran yang sering kali menyerang.

Kalau sudah begitu, ada rasa sedih yang tiba-tiba datang. Masa muda, terasa begitu cepatnya berlalu. Masa di mana seseorang memiliki kepenuhan dalam kekuatan raga, kepenuhan akan sikap yang positif, bahkan kadang seperti tak perlu membutuhkan orang lain. Hidup seperti begitu ringan dan mudahnya.

Maka sekarang ini, merayakan hari jadi buat saya adalah kembali seperti anak kecil lagi, memasrahkan hidup tanpa rasa takut, seperti ketika saya kecil dahulu. Tak perlu khawatir, pasti yakin saya akan terpelihara. Pasti yakin kalau orangtua akan membela saya, memberi saya makan dan sejuta bentuk pemeliharaan yang tak pernah berhenti dilakukan.

Sisa perjalanan ke tanah Priangan tinggal beberapa menit lagi dan di mobil yang membawa saya ke tempat itu, pak sopir menyalahkan musik, dan kok ya, yang terdengar lagu lawas, ”All by Myself”, dengan syairnya yang berbunyi seperti ini.

”When I was young I never needed anyone. And making love was just for fun. Those days are gone. Livin’ alone I think of all the friends I’ve known. When I dial the telephone, nobody’s home… Hard to be sure. Sometimes I feel so insecure….” ●

Sumber : KOMPAS,  18 Mei 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s