Anomali Industri Gula di Jawa Timur

Posted: Juni 12, 2014 in Pengetahuan

Demonstrasi terkait kebijakan baru musim giling yang melibatkan karyawan pabrik gula (PG) Kremboong dan PG Tulangan di Sidoarjo beberapa waktu lalu merupakan salah satu anomali yang terjadi akibat belum memadainya sistem tata kelola industri gula di Jawa Timur. Gejolak itu menjadi lonceng peringatan yang digaungkan pekerja di sektor perkebunan utamanya petani tebu di tengah upaya pemerintah untuk mencapai swasembada gula.

Pemerintah belum berpihak terhadap kesejahteraan petani. Indikatornya ditunjukkan oleh Nilai Tukar Petani (NTP) yang masih memprihatinkan. Jika diambil rata-rata, daya beli petani mengalami kemorosotan 0,06 persen dengan besaran indeks 101,80 di April 2014. Dari capaian

itu bisa dikatakan, hasil yang didapat para petani perkebunan tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Kondisi tersebut tidak terlepas dari murahnya harga gula yang ditetapkan pemerintah.

Kita masih ingat petani tebu harus merasakan pahitnya harga gula setelah Kementerian Perdagangan menetapkan HPP gula sebesar Rp 8.250 per kg. Penetapan HPP tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 25/M-DAG/PER/5/2014. Terbitnya Permendag mengenai penetapan HPP Gula Kristal Putih oleh Menteri Perdagangan ini mengacu kepada Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 527/MPP/Kep/9/2004. Penentuan HPP gula tersebut didapat dari penghitungan bahwa rata-rata Biaya Pokok Produksi (BPP) gula nasional Rp7.892/ per kg. Kemudian ditambahkan dengan keuntungan untuk petani yang hanya Rp 350 per kg.

Dalam menetapkan besaran HPP gula kristal putih, Kemendag memperhatikan usulan Menteri Pertanian selaku Dewan Gula Indonesia dan hasil rapat koordinasi antar instansi/lembaga serta asosiasi terkait. Namun petani menilai ketetapan itu belum sesuai dengan harapan mereka. Petani tebu menginginkan HPP sebesar Rp 9.500 per kg. Angka ini merupakan angka minimal seperti yang dihitung oleh tim independen bentukan Kementerian Pertanian (Kementan) yang beranggotakan para ahli dari beberapa lembaga pendidikan.

Imbas dari rendahnya HPP tersebut dikhawatirkan merugikan petani, karena ongkos produksi yang dikeluarkan lebih besar dari pada yang didapat sehingga mereka kehilangan gairah menanam tebu. Lebih mengkhawatirkan lagi apabila petani beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Jika pemerintah tidak mengambil langkah cepat dan tepat untuk membenahi industri gula dari hulu (on farm) hingga ke hilir (off farm), maka swasembada gula yang dicanangkan tahun ini sulit tercapai. Risiko terburuk yang akan dihadapi ialah bocornya gula rafinasi yang bisa mematikan pendapatan petani.

Impor gula kristal rafinasi (GKR) dimungkinkan selama hasil panen tebu pada musim giling belum mencukupi kebutuhan. Dengan jumlah penduduk 245.169.109, proyeksi kebutuhan gula nasional tahun ini mencapai 5,7 juta ton. Asumsinya gula kristal giling 2.956.000 to dan gula kristal rafinasi 2.744.000 ton (35 TH Dinas Perkebunan Jatim Menggapai Mimpi : 2012).

Sampai dengan 5 bulan pertama ini saja Perum Bulog yang diberi mandat impor gula sudah merealisasikannya 27.000 ton. Walau realisasinya terbilang jauh dari kuota sebanyak 328.000 ton, namun melihat tingkat timpangnya antara kebutuhan dan produksi yang ada Kemendag masih memungkinkan untuk memberi wewenang kepada Perum Bulog menambah impor gula.

Meski demikian, Jawa Timur yang dikenal sebagai lokomotif industri gula nasional dengan tegas menolak masuknya gula rafinasi sebagai upaya melindungi petani. Beragam cara terus dilakukan untuk meningkatkan produksi, termasuk menggairahkan kembali menanam tebu dengan memberikan bantuan traktor, benih, bongkar ratoon dan pupuk. Semua itu dilakukan untuk mencapai sasaran produksi gula konsumsi nasional 2.956.000 ton pada tahun ini, dimana Jatim mendapatkan target 1,6 juta ton GKP atau 55% dari sasaran GKP nasional.

Namun anomali cuaca jadi kendala serius bagi petani untuk meningkatkan rendemen. Dalam 2 tahun terakhir ini rata-rata rendemen cenderung turun. Rata-rata rendemen tahun 2012 mencapai 8,03 persen, pada 2013 rendemen jatuh ke angka 7,2 persen. Pada musim giling ini rendemen gula ditargetkan 8,2 persen dan hablur 6,2 ton per hektar. Produktvitivitas tebu ditargetkan 76,5 ton per hektar.

Selain anomali cuaca, petani masih dihadapkan dengan anomali biaya produksi. Lahan yang becek akibat tingginya intensitas hujan membuat biaya ongkos tebang tebu semakin mahal. Ditambah truk untuk mengangkut tebu tidak bisa masuk ke lahan sehingga terpaksa diangkut dengan kuli panggul yang menambah mahalnya ongkos produksi. Padahal jika kondisi normal biaya produksi tebu ditaksir Rp 8.100 per kg gula, namun faktanya biaya mencapai Rp 9.800 per kg gula.

Biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp 9.800 per kg tidak diimbangi dengan harga jual saat lelang yang ditetapkan pemerintah dengan HPP sebesar Rp 8.250 per kg. Ini cukup ironis mengingat industri gula merupakan industri berbasis rakyat dan memberikan efek berantai (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Sekitar 174 ribu hektar (88%) dari total areal tebu seluas 197 ribu ha di Jatim diusahakan langsung oleh petani, sementara hanya 23 ribu ha (12%) yang dikelola PG.

Tentu harapan masyarakat utamanya petani tidak ingin peristiwa di era 1995-2000 terulang kembali. Pada periode itu, kinerja komoditas tebu kurang baik. Semua indikator produksi mengalami kemerosotan. Akibatnya 2 pabrik gula tutup, yakni PG Krian milik PTPN X dan PG Olean milik PTPN XI. Harga gula sangat rendah, usaha tani terus merugi dan industri gula tidak efisien. Puncaknya pemerintah pusat ada keinginan menutup industri.

Untuk itu, pemerintah dan para stakeholder gula seperti petani, peneliti, dan perusahaan gula harus bersinergi dan terus berkoordinasi untuk menganalisa tiap permasalahan dan kendala yang dihadapi pergulaan nasional. Dengan demikian kebijakan yang diambil bisa tepat sasaran dan tidak merugikan salah satu pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s