Pejabat Kantor Pajak Field Trip ke Maspion II

Posted: Juni 12, 2014 in Bisnis dan Ekonomi

IMG_0377Dalam rangkaian sharing strategies antara Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jawa Timur I dengan Kanwil DJP Jakarta Pusat, pada Jumat, 14 Maret 2014, ratusan pejabat kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) mulai dari eselon III hingga eselon IV melakukan field trip ke PT Maspion II, Buduran Sidoarjo.

Kedatangan rombongan ini dipimpin oleh Dicky Hertanto selaku Kepala Kanwil DJP Jakarta Pusat. Peserta rombongan terdiri dari 57 orang dari Kanwil DJP Jatim I dan 71 orang dari Kanwil DJP Jakarta Pusat seperti Slamet Hertanto (Kepala KPP Madya Jakarta Pusat), Kepala Bidang Dukteton, dan beberapa pejabat eselon III dan eselon IV.

Field trip ini dilakukan agar peserta dapat melihat secara langsung proses bisnis di salah satu perusahaan yang berada di wilayah Maspion Unit II, yaitu PT Maxim Maspion. Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini diawali sesi audiensi mengenai sejarah Maspion Group, hingga jenis usahanya yang sampai sekarang masih menjadi produk unggulan bagi konsumen luar maupun dalam negeri. Lalu peserta mendapatkan penjelasan mengenai jalur produksi pengolahan dari bahan baku menjadi barang jadi.

PT Maspion dipandang memiliki kemampuan di bidang manufaktur serta pemasaran yang dapat memberikan tambahan pengetahuan kepada Dirjen Pajak sebagai aparat pajak mengenai proses bisnis pada industri manufaktur.

Seperti Maxim yang memiliki jaringan distribusi yang mapan dan luas baik domestik maupun internasional melalui distributor, agen, atau pengecer, serta perwakilan di kota-kota besar di Indonesia dan negara-negara berkembang. PT Maspion juga dinilai telah kuat dalam membangun aliansi strategis dengan mitra asing.

Asisten Direktur Maspion Unit II NjuwarnoYusilo dalam sambutannya di hadapan peserta yang hadir menyampaikan harapannya agar field trip ini bukan yang pertama dan terakhir. Artinya, ada pertemuan yang pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

“Ada pepatah yang mengatakan bahwa kalau tak kenal maka tak sayang. Makanya pertemuan ini semoga bukan yang terakhir. Tapi sekali lagi kami merasa terhormat atas kunjungan ini yang bersifat silaturahmi, ini sangat luar biasa persaudaraan kita,” ujarnya.

Pada sambutannya itu juga, Yusilo menjelaskan falsafah Maspion dari logo hingga ke nama. Menurutnya, logo Maspion berupa tiga daun, yang memiliki arti penting dalam pengembangan perusahaan.

Daun yang pertama menunjukkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) harus diutamakan. Kedua, Maspion menjadi perusahaan yang maju bukan karena berjalan sendiri, tetapi bersama mitra yang harus dijaga dengan baik. Terakhir, Maspion terus berusaha untuk menciptakan suasana yang baik.

Selain itu, Yusilo menerangkan secara internal ketiga daun itu mengandung pengertian bahwa Maspion merupakan perusahaan yang taat pada hukum, termasuk hukum perpajakan. Daun berikutnya bermakna tenggangrasa atau kemanusiaan.

“Kita boleh disiplin secara militer, tapi terhadap pekerja kita anggap itu saudara kita semua. Sehingga walaupun ada unjuk rasa yang rugi bukan mereka saja, kita juga rugi,” jelasnya.

Sementara daun ketiga menurut Yusilo ialah memberi makna ramah lingkungan. Artinya Maspion tetap menjaga lingkungan sekitarnya. Tak lepas juga yusilo menjelaskan akronim dari Maspion, yaitu Mari Mengajak Anda Selalu Percaya Industri Olahan Nasional.

Di Maspion II sendiri saat ini pekerjanya berjumlah sekitar 6.000 orang dengan 18 divisi atau pabrik. Dari jumlah itu, 6 pabrik memiliki badan hukum perseroan terbatas (PT), sisanya ikut holding di PT Maspion.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Humas and Property PT Maspion, Sugiyanto memberikan pengenalan tentang lini bisnis Maspion dari bisnis manufaktur, pendidikan, sampai pada perhotelan. Tak lupa juga di hadapan peserta field trip, beragam merk produk Maspion juga ia singgung. Sebab, banyak masyarakat tidak tahu bahwa merk dari produk yang mereka pakai sehari-hari merupakan produksi Maspion.

“Produk Maspion ini dikenal luas di masyarakat. Hanya merk-merk tertentu yang belum banyak dikenal, seperti Uchida. Selama ini orang mengira Uchida ini produk Jepang, padahal itu produk Maspion. Dan tidak kalah pentingnya bagi orang-orang muslim seringkali ketika pulang umrah mereka bawa oleh-oleh seperti teko warna-warni. Dengan bangganya dibawa dari Timur Tengah ke Indonesia, tapi itu buatan dalam negeri yaitu Maspion,” paparnya disambut tawa para peserta.

Sementara itu, Dicky Hartanto mengakui agenda kegiatannya ke Maspion untuk mencari tahu mengenai apa yang ada di Maspion. Dia dan peserta field trip lainnya hanya tahu Maspion sebagai perusahaan wajib pajak berskala nasional, bahkan internasional melalui media tanpa tahu secara langsung. “Makanya kita kesini mencari tahu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s