”Bully”

Posted: Juli 3, 2014 in Pengetahuan

Oleh : Samuel Mulai

Saya bersama empat teman dekat seang menyantap makan malam. Masih dalam keadaan menikmati sajian di meja makan, seorang teman yang adalah seorang ibu dengan satu anak mulai bercerita bahwa anaknya sering di-bully di sekolah.

Singkat cerita, ia melaporkan kejadian itu ke sekolah dan sempat memarahi salah seorang anak yang mem-bully anaknya dan nyaris beradu mulut dengan si ibu pem-bully. Yang miris bukanlah cerita itu, tapi ucapannya yang membuat bakmi goreng yang nikmat tersendat di leher. “Ngeliat anakku dikerjain gitu, rasanya aku ini gagal sebagai seorang ibu. Sedih aku.”

Flamboyan

Maka seorang teman mulai bercerita bahwa kejadian macam itu juga dirasakan saat kami berdua menjalani masa sekolah. Kok ya, kejadian yang kami alami benar-banar sama di zaman yang berbeda. Saya sekarang berusia setengah abad, ia berusia dua puluh tujuh tahun.

Kami berdua merupakan anak laki yang tumbuh tak seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya. Kami dianggap terlalu flamboyan sebagai anak laki-laki. Maka, saya sungguh yakin Anda sudah bisa membayangkan bagaimana pem-bullyan itu terjadi setiap hari, yang mengakibatkan orangtua kami menyuruh untuk kami belajar bela diri. Dalam kasus saya, ayah menyuruh saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan naik gunung dan semua kegiatan yang normal dilakukan anak laki-laki.

Saya menulis dari kacamata seorang anak yang menjadi korban,. Saya tak bisa membayangkan kalau saya menulis dari anak yang jagonya mem-bully. Yang rasa percaya dirinya sudah ada sejak masa sekolah sehingga menguasai dan mengerjai orang lain merupakan sebuah kesenangan tersendiri.

Saya menulis dari kacamata seorang anak yang sangat yakin orangtuanya merasa malu seperti perasaan teman wanita saya di atas. Mungkin tanpa disadari, rasa malu yang harus ditanggung itu dimuntahkan dalam memaksa anak laki-laki flamboyannya untuk melakukan aktivitas agar rasa berkurang dan hilang sama sekali.

Saya tak bisa membayangkan orangtua yang anaknya memang jago mem-bully. Saya hanya berasumsi saja, mereka bisa jadi bangga bahwa anaknya menjadi pemberani, bisa menguasap hidup seseorang, bisa menjadi pemimpin sebuah grup pem-bully. Maka, ketika nyaris adu mulut terjadi antara teman saya di atas dan ibu anak yang mem-bully, saya bisa membayangkan ada dua ibu sedang memasang badan untuk membela anaknya.

Pemberani

Yang satu membela anaknya yang menjadi korban, yang satu membela karena bangga anaknya bisa menjadi ‘pemberani’. Dan menurut asumsi saya, tanpa disadari, pembelaan yang akan dilakukan itu bukan merupakan sebuah pembelaan terhadap anak mereka, tetapi terhadap rasa malu yang harus dihadapi sebagai orangtua.

Yang satu malu anaknya kok lemah, yang satu malu kok anaknya jadi tidak baik. Karena anak baik dan tidak baik, itu sebuah cermin dari bagaimana orangtuanya mendidik mereka. Itu hanya asumsi saya, karena baik atau tidak baik pun bisa jadi sangat subyektif. Buat orangtua yang anaknya jago mempedaya teman bisa jadi mereka menilai itu adalah baik. Baik untuk melatih keberanian, melatih untuk menguasai. Karena keberanian sangat dibutuhkan ketika menjalani hidup ini, bukan?

Tetapi di luar itu, saya tertarik dengan dua hal. Pertama, apakah isi doa yang dipanjatkan untuk anaknya setiap hari. Apakah ada perbedaan isi doa orangtua saya yang anaknya menjadi korban dan orantua teman saya yang anaknya menjadi pemberani? Apa yang sebenarnya membuat orangtua itu bangga terhadap anaknya? Jadi anak superpandai, anak saleh, anak pem-bully yang bisa dilihat sebagai anak pemberani, atau bangga untuk hal-hal lain?

Kedua permohonan doa macam apa yang dinaikkan orangtua supaya mereka menjadi orangtua yang baik? Tentu kalau menggunakan kacamata orangtua yang malu karena anaknya di-bully, kira-kira saya bisa membayangkan karena selama ini saya jadi korban.

Yang menarik adalah permohonan apa yang dinaikkan dalam dia kalau saya punya anak yang jagonya membuat anak orang lain menangis dan menderita setiap hari? Apakah isi doa yang saya panjatkan sebagai orangtua berterima kasih bahwa anak saya jadi pemberani atau saya mengubah dia saya agar anak saya diubah menjadi anak saleh?

Ketia setiap anak dimintai kesan-kesannya selama menjalani masa pendidikan, anak teman saya itu menulis begini, “Saya tidak suka karena saya selalu di-bully. Teman saya memarahi anaknya menulis demikian.

Saya mengatakan, seharusnya ia bangga bahwa ia adalah anak yang sungguh pemberani. Karena di masa saya mengalami itu semua saya tak berani mengungkapkan isi hati saya yang sebenarnya. Maka., malam itu, saya belajar dari seorang pemberani.

Pemberani tidaklah semata-mata bisa menguasai sesamanya, bisa membuat orang lain menderita. Pemberani itu juga sebuah sebutan untuk mereka yang bisa dengan gamblang menceritakan kejujuran. Dan itu bukan sebuah kegagalan dalam mendidik anak. Itu sebuah kesuksesan besar mendidik anak bisa menjadi jujur.

*Dimuat dalam parodi Harian Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s