Pencuri yang bertaqwa

Posted: Oktober 20, 2014 in Pengetahuan

Ada seorang pemuda yg bertaqwa tetapi sangat lugu. Dia belajar pada seorang syeikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syeikh menasehatinya agar semua murid bertaqwa. Tak boleh menjadi beban orang lain alias harus bekerja sendiri dengan tekun. Orang alim yg menadahkan tangannya kpd orang-orang berharta tak ada kebaikan dalam dirinya. Syeikh juga menasehati agar murid-muridnya bekerja sesuai dengan pekerjaan ayahnya masing-masing dan selalu dalam taqwa kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tsb.

Maka pergilah pemuda itu kepada ibunya seraya bertanya pada ibunya, “apakah pekerjaan bapak bu?”, bapaknya sudah meninggal dan ibunya tidak berkenan menceritakannya, namun karena anaknya terus mendesak, akhirnya ibunya takluk dengan nada jengkel si ibu berkata, “ayahmu itu dulu adalah seorang pencuri!!”.

Meski dengan perasaaan yang haru biru, pemuda itu menjelaskan niatnya ke ibu, “yang mulia syeikh kami telah mengatakan kepada seluruh murid agar bekerja seperti pekerjaan ayah masing-masing dengan penuh ketaqwaan kpd Allah didalam menjalankan pekerjaan tsb.” Ibunya menyela: “Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketaqwaan?” Kemudian pemuda lugu dan polos itu dengan bersemangat sekali menjawab: “Ya, begitu kata syeikh kami”

Lalu pemuda ini pergi kepada semua orang yg mempunyai keahlian di dalam curi mencuri, sehingga dia dapat mengetahui banyak sekali teknik mencuri. Dia menyiapkan alat2 mencuri dan siap menjalankan profesi ayahnya sesuai perintah sang syeikh. Setelah sholat isyak diapun mulai mempersiapkan rencananya dengan matang sambil menunggu semua orang tidur. Sasaran pertama adalah tetangganya. Saat mulai masuk rumah dia ingat pesan syeikh agar selalu bertaqwa, padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk taqwa. Ia urung menjalan niatnya dan rumah itu ditinggalkannya. Iapun membidik rumah orang lain dan ketika memasuki rumah tsb, ia sadar rumah tsb milik anak yatim, sedangkan mengambil milik anak yatim tidaklah termasuk ketaqwaan.

Gagal mencuri di kedua rumah tersebut ia mulai putus asa dalam mencari sasaran berikutnya. Tapi kakinya terus bergerak menuju sebuah sasaran, rumah yg sangat megah milik seorang konglomerat kota itu. Disini dia mulai mendapat firasat agar benar2 mencoba keahlian turun temurun yang diwariskan kepadanya. Sang pemuda dengan gaya pencuri yang profesional dan sangat tenang meriksa ruang demi ruang, yang kemudian menggiringnya ke kamar tempat penyimpanan emas dan harta karun lainnya. Namun selalu terngiang pesan syeikhnya agar bertaqwa, dan dalam batinya masak ada taqwa dalam diri seorang pencuri. Di tengah kebimbangan, pemuda ini mulai menduga jangan-jangan konglomerat ini belum bayar zakat. Ia mulai mencari-cari buku catatan konglomerat tsb dan setelah dia menghitung dengan sangat teliti, ia temukan bahwa pedagang kaya itu tidak membayar zakat selama 6 tahun. Di saat keputusan makin kuat untuk mengambil bagian dari zakat yang tak dikeluarkan sang tuan rumah, terdengar sayup2 azan subuh. Ia pun tertegun sejenak dan memutuskan untuk menyelesaikan niatnya usai salat subuh.

Maka beranjaklah untuk mencari kamar mandi utk wudhu. Betapa terkejutnya sang tuan rumah dan isteri memergoki seseorang yang tak dikenal sedang berwudu. Lebih terkejut lagi melihat semua harta, dinar dan emas sedang berada di atas meja besar. Apalagi menyaksikan semua alat-alat permalingan seperti kunci palsu, obeng, linggis, golok serta harta yg sudah dipisahkan dan buku catatan perdagangannya. Dengan keheranan konglomerat itu bertanya, “apa gerangan yg akan engkau lakukan disini?”, maka pemuda itu menjawab, “sholat dulu baru bertanya, ayo lekas nanti habis waktu shubuhnya”. Dan konglomerat itu setuju serta menyuruh pemuda jadi imam khawatir akan ditikam pemuda itu. Begitu shalat selesai demikian juga beberapa dzikir dan wirid dibaca oleh pemuda itu, sang konglomerat tidak sabar, segera menanyakanya, “siapa kau dan apa urusanmu?”, pemuda itu menjawab, “saya ini pencuri”.

“Lalu apa yg kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?”, pemuda itu menjawab: “aku menghitung zakat yg belum kau bayar selama 6 tahun. Sekarang sudah saya pisahkan harta itu agar engkau memberikan kepada orang yg berhak”.

Si tuan rumah itu hampir dibuat gila oleh penjelasan pemuda itu karena keheranan begitu luar biasa telitinya hingga sangat detail hitungan-hitungan hartanya itu, akhirnya konglomerat itu bertanya lagi, “apakah kamu ini gila? Dan apa sebenarnya urusanmu ini?”

Pemuda itu akhirnya menceritakan dengan saksama alur cerita urut-urutan sampai dia memasuki rumah konglomerat untuk mencuri itu.

Dan setelah tuan rumah itu paham maksud si pemuda, sadarlah dia bahwa pemuda ini adalah orang baik dengan perilaku yang mengagumkan, paras tampan, hati bersih dan kecerdasan yang mengagumkan, ketaqwaannya. Si tuan rumah menemui istrinya utk merundingkan sesuatu. Setelah berkonsultasi kepada istrinya akhirnya konglomerat itu menemui lagi pemuda itu dan menawarinya agar ia mau menikahi putri semata wayang. Ia juga meminta agar si pemuda bersedia jadi juru hitung perniagaannya dan memboyong ibunya agar tinggal dirumah mewah itu juga.

Ketika dia menceritakan apa yang terjadi kepada ibunya, ibunya menangis tersedu-sedu. Teringat apa yang terjadi 22 tahun silam, saat masih mengandung si pemuda. Ayahnya yang dipepet hutang dahulu mendatangi rumah yang sama. Belum sampai menjalankan niat ia sudah kepergok dan akhirnya dihakimi warga sampai meninggal dunia tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Mungkin ayahmu memang ingin mengantarmu ke sana dengan taruhan nyawanya. Berangkatlah kalau itu sudah jadi keputusanmu, ujar ibunya dengan suara yang tersendat-sendat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s