Stop Radikalisme Agama!

Posted: Februari 23, 2016 in Pengetahuan

Ahrori Dhofir*

Harus diakui dengan jujur, ada sebagian kelompok umat Islam yang melakukan tindakan teror atas nama agama. Aksi teror ini tentu bukannya tanpa alasan pembenar. Seringkali faktor ketidakadilan global terhadap umat Islam menjadi pemicu aksi-aksi terorisme global. Meski aksi-aksi ini mendapat perlawanan keras dari otoritas keamanan, tetap saja aksi-aksi teror ini terjadi dibeberapa tempat. Seakan menjadi tontonan yang turun-temurun. Sungguh mengerikan!

Dinegara kita, aksi teror ini belum bisa dikatakan berhenti. Beberapa peristiwa peledakan bom oleh kalangan teroris masih saja terdengar dibeberapa tempat. Yang terbaru adalah, aksi peledakan bom yang terjadi di Gedung Sarinah, Thamrin, Jakarta pusat pada 14 Januari 2016. Sontak seluruh mata dunia tertuju pada kita, Indonesia.

Sebuah insiden yang ‘menakutkan’ dan membuat situasi menjadi

genting. Ini bukan kali pertama terjadi di negara kita, namun sudah berulangkali. Pasca insiden pengeboman tersebut banyak komentar dari para tokoh, baik yang menghujat sampai yang membongkar kedok para terorisme dan motifnya.
Disusul kemudian gerakan “kami tidak takut” yang dengan tegas menyatakan bahwa warga indonesi siap melawan aksi teror dan berbagai ancaman dari kelompok radikal. Lalu bagaimana sebenarnya aksi tersebut dalam perspektif Islam?

Mula-mula mari kita renungkan arti ayat ini “Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi maka seakan-akan ia tela membunuh manusia seluruhnya….”(QS. Al-Maidah {5} 32)

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kamu. Dan, barang siapa berbuat demikian dengan melanggar dan dianiaya maka kami kelaak akan memasukkannya kedalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisa’ {4} 29-30)

Dua fragmen ayat diatas memberi pemahaman kepada kita betapa kita dilarang untuk membunuh orang lain dan juga melarang kita untuk melakukan aksi bunuh diri. Dalam konteks ini ada baiknya bagi kita untuk selalu mewaspadai akan sebuah paham yang mengajak kita untuk melakukan aksi-aksi keji yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Kaitannya dengan aksi bom dan aksi teror lainnya adalah, bahwa dengan alasan yang tidak dibenarkan oleh agama (selain Qishas) membunuh orang lain atau diri sendiri tidak mendapat legitimasi dari Islam. Artinya, Islam secara tegas melarang tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh kelompok yang konon, mempunyai ide pendirian Negara Islam, sehingga dengan alasan mendirikan Negara Islam mereka kerap melakukan tindakan konyol dengan banyak menelan korban, bukan hanya non Muslim tapi warga Muslim dan warga sipil yang tidak tahu apa-apa.

Dari sini ada baiknya jika kita harus waspada dengan kemunculan generasi baru yang berasal dari kalangan yang berpaham radikal. Ada beberapa hal yang semestinya harus kita lakukan untuk menanggulangi akan kemunculan dan perekrutan yang dilakukan oleh kelompok radikal.

Pertama, memberi pemahaman kepada para murid atau siswa lewat konsep Islam Rahmatan lil Alamin. Dengan demikian para pelajar sedapat mungkin bisa mencerna dengan baik tentang konsep Islam yang ideal sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Muhammad.

Kedua, adalah menarik apa yang disampaikan oleh Kemendikbud, Anis Baswedan. Menurutnya para siswa atau murid harus diberi pemahaman tentang sesuatu yang rasional dan realistis. Hal itu akan membuat siswa akan lebih berfikir cerdas dan obejektif ketika diajak oleh seseorang yang berpaham radikal dengan pemikiran yang jernih. Ketika ajakan itu tidak rasiaonal maka tidak gampang mengikuti ajakan orang lain.

Ketiga, harus menyadari bahwa usia pelajar adalah target yang harus kita akui, yang dilakukan oleh kelompok –kelompok radikal untuk dijadikan sasaran pengkaderan untuk terus mengeksiskan misinya.
Oleh karena itu, adalah sebuah keniscayaan apabila kita harus tetap eksis terhadap ajaran agama Islam yang berlandaskan thariqah (melalui metode) Ahlussunah waljamaah. Hak itu dilakukan untuk tidak terjebak terhadap paham-paham yang memancing kita mempunyai pemikiran-pemikiran tidak sejalan dengan apa yang telah ditentukan oleh pembawa syariat yakni nabi Muhammad.

Dalam Nahdlatul Ulama (NU) sendiri, larangan atas terorisme sudah mengakar sejak didalam prinsip-prinsip dasarnya yakni, tawasuth (moderat) tawazun (seimbang) tasamuh (toleran). Hal ini terkait dengan metode dakwah yang digariskan al-Quran, yakni Bil Hikmah Wal Mauidzatil Hasanh Wajadilhum Billatu Hiya Ahsan.
Dakwah dengan hikmah dan debat argumentatif yang baik ini mengajarkan dihindarinya kekerasan didalam dakwah, sebab ia akan menimbulkan bahaya bagi umat. Maka sangat tepat apa yang disampaikan oleh KH. Ahmad Shiddiq, tokoh NU, bahwa Islam harus menghindari penggunaan kekerasan didalam berdakwah untuk “menutup jalan menuju bahaya”.

*) Wakil Sekretaris PCNU Bangkalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s