Suka Duka MAN Bangkalan Terapkan SKS

Posted: Februari 23, 2016 in Pendidikan

Proses belajar mengajar di MAN Bangkalan

Proses belajar mengajar di MAN Bangkalan

Hampir satu semester ini, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bangkalan telah menerapkan pelajaran dengan sistem kredit semester (SKS). Dasar yang dipakai pihak sekolah yaitu UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Banyak suka duka yang dialami guru selama penerapan sistem ini. Namun yang lebih utama, bahwa dalam sistem ini siswa tidak hanya ditonjolkan bagaimana kemampuan belajarnya, tapi juga meningkatkan kemampuan moral.

“Tugas kami tidak hanya mengajarkan ilmu tapi juga moral. Sehingga outputnya nanti siswa ilmunya tinggi moralnya juga bagus,” tegas Waka Kurikulum MAN Bangkalan, Hj. Aisyah Fidiyah, M.Pd.
Terkait dengan SKS, ia menjelaskan bahwa sistem tersebut sudah dimulai sejak tahun ajaran 2015/2016. Sistem ini bisa ditempuh dalam 4 semester dan 6 semester dengan kuota maksimal 20 siswa. Namun, untuk bisa mengambil SKS, siswa harus melalui beberapa syarat.

Khusus SKS 4 semester, syarat yang pertama tes intelligence quotient (IQ). Untuk bisa lolos, tingkat IQ siswa minimal 130. Persyaratan kedua sebelum tes IQ, rata-rata nilai rapor siswa harus 85 sebagai tes potensial akademik. Tes yang sama juga untuk SKS 6 semester. Yang membedakan ialah tingkat IQ tidak harus 130.

Aisyah menjelaskan, lembaga yang menguji merupakan lembaga independen yang didatangkan dari universitas, dan itupun harus memenuhi kualitas.

Begitu juga guru-guru yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Dikatakan Aisyah, bahwa guru itu adalah guru pilihan yang punya kemampuan untuk mendidik anak dengan telaten.

Selain itu, guru tersebut juga mampu beradaptasi dengan

kemampuan yang dimiliki anak didiknya. Sebab, porsi belajar antara SKS 4 semester dengan 6 semester berbeda meski mata pelajarannya sama.
Dalam SKS 4 semester, siswa menempuh 51 jam pelajaran dengan satu jam pelajaran selama 30 menit.

Sedangkan 6 semester lama waktu yang ditempuh 80 jam pelajaran dengan satu jam pelajaran 45 menit.
“Jadi SKS 4 semester lebih gemuk. Padahal jam pulang sekolahnya sama jam 15.00. Karena siswa yang menempuh 4 semester punya IQ lebih tinggi. Jadi agak cepat penyerapannya. Satu hari siswa 6 semester 10 jam, dan yang 4 semester 15 jam,” imbuhnya.

Sebenarnya sistem SKS bukan hal yang baru di MAN Bangkalan. Sebelumnya, MAN Bangkalan pernah menerapkan sistem akselerasi bagi siswanya yang memenuhi syarat. Kelas tersebut, kata Aisyah sudah meluluskan satu kali dengan total 20 siswa.

Berikutnya di tahun ajaran baru nanti, SKS akan diterapkan di kelas 2, dan tahun ajaran berikutnya lagi di kelas 3. “Sekarang masih kelas 1. Dan bagi siswa yang IPK-nya di bawah 3,40 harus remidi,” ujarnya.

Tantangan

Dalam menerapkan sistem ini bukan berarti tanpa hambatan. Sebagai contoh, pernah suatu hari orang tua siswa keberatan anaknya dimasukkan kedalam sistem akselerasi. Padadal, dari akademik, anak tersebut mampu.

Beruntung, pelan-pelan setelah dijelaskan tentang sistem tersebut dan dasar hukumnya, orangtua siswa tersebut mau menerima. Untuk itu, kedepan, Asiyah ingin sosialisasi terkait dengan akselerasi lebih gencar dilakukan.

Sekarang ini pihaknya merasa terbantu oleh adanya perkumpulan sekolah akselerasi se Jatim. Lewat mereka, pemahaman orangtua siswa terkait dengan SKS juga terbuka.
“Tiap 2 bulan sekali ada pertemuan dengan perkumpulan sekolah akselerasi, dan MAN Bangkalan pernah jadi tuan rumahnya. Anggotanya ada 24 se Jatim, baik dari sekolah negeri dan swasta,” jelasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s