MI Miftahul Ulum : Latih Siswa Belajar Entrepreneur

Posted: Februari 24, 2016 in Pendidikan

Pendidikan tidak hanya berorientasi kepada pencapaian aspek kognitif semata, tetapi aspek psikomotorik pun perlu dikembangkan agar bisa berkembang secara optimal. Salah satu cara untuk mengembangkan aspek psikomotorik siswa dalam pembelajaran adalah melalui pembelajaran aplikatif.

Pembelajaran tidak selamanya dilakukan di dalam ruangan empat persegi, tetapi pembelajaran pun bisa dilakukan di luar kelas dengan menggunakan metode learning by doing.

Metode itu telah diterapkan oleh MI Miftahul Ulum Ds Pettong Tengah, Kec Tanah Merah, Bangkalan. Hoiron mengatakan, pihak sekolah mengajarkan kepada siswa jiwa entrepreneur sejak

dini, dengan harapan ketika dewasa nanti mereka menjadi entrepreneur hebat.

Adapun cara Hoiron untuk mendidik anak menjadi entrepreneur yakni dengan mempraktekkan membuat tempe. Bahan biasanya dijadikan lauk ini lalu dijual di kampung sekitar sekolah.

Menurut Hoiron, satu potong tempe dijual dengan harga Rp 1000. Harga yang cukup murah bukan? Namun Hoiron menegaskan bahwa pembelajaran membuat tempe itu bukan semata-mata mencari untung.
“Lebih dari itu, dari prose situ siswa jadi bisa mandiri dan ilmu manajemennya di asah sejak dini,” lanjut Hoiron.

Setiap hari, para siswa menghabiskan 10 kilogram kedelai untuk dibuat tempe. Praktik itu mulai diberlakukan sejak 3 bulan yang lalu. Kini, baik siswa maupun pihak sekolah mendapatkan faedah yang bagus terkait penerapan itu.

Sebab, Hoiron mengatakan hasil penjualan tempe digunakan untuk menambah beban operasional sekolah seperti membeli alat-alat penunjang proses belajar mengajar. Sebab, bantuan yang diterima sekolah cukup minim.

“Dengan minimnya fasilitas kita coba membuat terobosan ini. Kami kekurangan gedung, bangku juga terbatas. Saat proses belajar mengajar dari 20 siswa, kami lesehan dan tidak ada sarana penunjang seperti komputer,” jelasnya.

Minimnya fasilitas itu berbanding terbalik dengan prestasi yang diraih siswa. Belum lama ini, siswa MI di bawah asuhan Hoiron menyabet juara baca kitab kuning se kabupaten.

“Yang menang Istianah siswi kelas 5. Itu diikuti 160 madrasah se Kabupetan Bangkalan. Tahun ini kami jadi rumah lomba yang digelar 3 Maret. Pesertanya 53 madrasah,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s