Miris, Guru Madrasah Digaji Rp 100 Ribu Per Bulan

Posted: Februari 24, 2016 in Pendidikan

“Banyak madrasah bertahan selama bertahun-tahun hanya modal nekat. Seakan-akan dianggap mendapat bantuan dana banyak, padahal bantuan dari pemerintah setahun sekali dengan nilai per murid hanya Rp 15 ribu, dan tingkatan berikutnya Rp 25 ribu per murid.”

Begitulah ungkapan dari seorang kepala madrasah diniyah bernama Moh Mahrus Ali, Senin (25/1) malam. Apa yang diungkapkan Kepala Madrasah Diniyah Raudlatul Ulum, Desa Keleyan Socah, Kabupaten Bangkalan, ini cukup beralasan.

Sejak berdiri tahun 1972 hingga mendapatkan izin dari Kemenag pada tahun 1982, beragam kendala yang dialami madrasah itu, terutama soal dana. Jadi tidak heran, jika tidak sampai setahun ada guru yang keluar masuk karena honor yang diterima dari madrasah tersebut tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.
Dari pengakuan Mahrus, honor guru yang mengajar di madrasahnya hanya Rp 100 ribu per bulan dengan 3 hari mengajar selama seminggu.

“Makanya mendatangkan guru bantu dari Ponpes Sidogiri

untuk meningkatkan proses belajar belagar di madrasah ini. Guru yang ada tidak bertahan karena faktor ekonomi. Kemampuan kami hanya bisa bayar Rp 100 ribu per bulan,” jelasnya.

Di Madrasah Raudlatul Ulum, kini hanya tersisa 18 guru dengan komposisi guru ibtidaiyah sebanyak 12 guru dan tsanawiyah 6 guru. Untuk menopang operasional, terpaksa pihak madrasah mengenakan SPP kepada siswa Rp 10 ribu per bulan, tapi khusus anak tidak mampu dan anak yatim dibebaskan membayar SPP.

Melihat kondisi demikian, Mahrus ingin mengelus dada. Ia menganggap, madrasah bukan hanya lembaga pendidikan yang jadi pelengkap saja. Pendidikan di madrasah untuk mencerdaskan anak bangsa,.bahkan jebolan madrasah ada yang diposisi pejabat dan pebisnis.

“Yang kami sayangkan masih ada yang menilai madrasah sebagai pelengkap saja ibarat les. Pahdal di Madura, madrasah ada lebih dulu dari pada sekolah Inpres. Namun madrasah masih dibedakan dengan sekolah dasar. Belum ada insentif meski sudah terdaftar di Kemenag. Adanya bantuan, itupun setahun sekali bahkan sampai 3 tahun sekali. Kita pendiri madrasah ini hanya Lillahi ta’ala. Murni mengabdi tanpa pamrih,” bebernya.

“Dan majunya karena bantuan sosial masyarakat terhadap kami. Tapi ketika ada bantuan dari pemerintah walau hanya sedikit, dampaknya bantuan sosial masyarakat itu mulai luntur bahkan tidak ada karena masyarakat beranggapan sudah dibantu pemerintah,” imbuhnya.

Dia berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa menambah dana operasional madrasah, dan juga melakukan pendataan ulang. Dan kembali menegaskan agar guru madrasah diberi insentif oleh pemerintah khususnya Kemenag.

Minta Jam Ajar SD dan Les Disesuaikan

Secara umum, tujuan madrasah ialah mendidik kader-kader agama dan bangsa yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, mulia akhlaqnya, optimal kapasitas intelektualnya, bugar badannya, sistematis fikroh/pola pikirannya, cekatan cara kerjanya serta tinggi kepedulian sosialnya.

Karena peran madrasah sangat penting, maka Kepala Madrasah Diniyah Raudlatul Ulum, Desa Keleyan Socah, Moh Mahrus Ali meminta agar Dinas Pendidikan Bangkalan atau Kementerian Pendidikan mengatur jadwal jam mengajar SD. Tujuannya agar jadwal masuk di madrasah tidak tersita oleh jam mengajar SD.

“Jam mengajar madrasah banyak termakan oleh pelajaran umum. Artinya kami minta jam mengajar SD dikurangi jangan terlalu siang agar tidak mengganggu jam madrasah,” pintanya.

Dia menyebutkan, jam mengajar madrasah dimulai dari 13.30 sampai jam 17.00. Sementara, ada jam mengajar seperti les privat yang dilakukan dengan waktu yang sama.

“Kami minta jam les dimajukan. Jadwal les jangan bentrok agar disesuaikan dengan jam mengajar ngaji. Itu harus diatur oleh Disdik. Yang perlu dipertanyakan les itu legal atau tidak, khawatir ada ajaran liberal sehingga tidak terkontrol. Atau perlu lapor ke UPT bahwa ini les, karena musholla juga harus daftar ke Kemenkumham, TPQ harus Kemenkumham, jadi les harus berbadan hukum,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s