SDLB Negeri Bangkalan : Ukir Prestasi di Tengah Keterbatasan Fisik

Posted: Februari 24, 2016 in Pendidikan

Siswa SDLB Socah saat ikut lomba

Siswa SDLB Socah saat ikut lomba

Pendidikan menjadi faktor utama yang mampu mengantarkan sebuah negara menuju gerbang kemajuan. Untuk mewujudkannya, akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan harus terbuka seluas-luasnya tanpa diskriminasi, termasuk bagi mereka, Anak dengan Disabilitas (AdD).

Selama ini, SLB (Sekolah Luar Biasa) menjadi ruang belajar bagi para AdD. Di SLB, anak-anak diberi fasilitas sesuai dengan keterbatasan mereka, mulai dari guru, cara berkomunikasi, konstruksi gedung disesuaikan.

Sekolah luar biasa diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan

khusus (ABK) seperti tunanetra, tunagrahita, tunarungu, tunadaksa atau bahkan dengan kecacatan ganda. Sekolah ini dimulai dari sekolah dasar sampai tingkatan sekolah menengah atas yang dibentuk menyediakan sarana pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas.

Di Desa Socah, Kecamatan Socah terdapat sekolah yang sengaja menfasilitasi para anak-anak berkebutuhan khusus atau Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Murid-murid yang ada di SDLB ini bukan hanya berasal dari Kecamatan Socah, akan tetapi ada dari Klampis, Burneh dan Tanah Merah. Yang semuanya memang diantar oleh orang tuanya. Di sekolah ini, memang tidak sama dalam menjalani proses belajarnya.
Karena kondisi anak tidak bisa disamakan dengan yang umum.

Sekolah yang berdiri pada tahun 1998 hingga saat ini masih eksis mendidik anak-anak AdD. Memang tidaklah mudah, tapi demi kemajuan generasi penerus bangsa para guru di SDLB tersebut terus bekerja dengan maksimal.

Tenaga pendidik disekolah ini memang harus memunyai latar belakang dan kamampuan khusus dari background pendidikan yang luar biasa pula. Sebut saja Mujib. Pria asli Nganjuk ini sudah bertahun-tahun mengabdikan diri di SDLB Negeri Keleyan, Socah, Bangkalan.

“Upaya optimal terus kami lakukan demi perkembangan anak didik. Meski anak-anak yang kami didik berbeda dengan pada umumnya, namun hal itu bukan suatu kendala,” kata Mujib.

Jenjang di SDLB sama dengan sekolah dasar pada umumnya. Yang membedakan ialah kondisi siswanya. Di SDLN Negeri Keleyan, Mujib berkata, bahwa rata-rata siswanya mengalami keterbatasan fisik seperti tuna grahitam tuna daksa, tuna rungu, sampai autis.

Namun sekolah tersebut tidak menerima siswa cacat ganda karena membutuhkan perlakuan khusus. Karena tenaga pengajar yang dimiliki SDLB Negeri Keleyan masih terbatas.

Tenaga disini cuma 6 guru. Secara praktik kita menyesuaikan kebutuhan siswa. Semisal di kelas 4 ada guru yang melebihi beban siswa, maka kita pindah beberapa siswa untuk dididik guru yang memiliki beban sedikit,” katanya.

Idealnya, guru pengajar disesuaikan dengan siswanya. Misal siswa tuna rungu, maka guru yang mengejar harus tuna rungu. Begitu juga dengan tuna netra, yang khusus mengajar tuna netra.

Hanya saja, walaupun memiliki keterbatasan fisik bukan berarti para siswa nol prestasi. Di beberapa perlombaan, siswa SDLB Negeri Keleyan pernah menyabet prestasi tingkat provinsi, bahkan pernah berlaga di tingkat nasional.

Tahun 2015 kemarin, siswa SDLB Negeri Keleyan mewakili Bangkalan dalam loma OSN. Dalam ajang ini, menjadi juara Harapan II. Siswa di sekolah tersebut juga pernah dikirim ke Palembang.
“Kami juga jadi juara Harapan I lomba IT ditingkat provinsi. Dan kami selalu ikut serta dalam kegiatan tahunan di tingkat regional sampai nasional,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s