SDN Tangjung Jati I Tampilkan Ponokawan Sebagai Ciri Khas

Posted: Februari 24, 2016 in Pendidikan

Siswa SDN Tanjung Jati I berperan sebagai anggota Ponokawan

Siswa SDN Tanjung Jati I berperan sebagai anggota Ponokawan

Siapa yang tidak kenal Semar ? Paling tidak, orang tahu bahwa semar adalah pimpinan rombongan empat sekawan ”Ponokawan”. Ponokawan muncul sebagai pereda bagi keadaan dunia (wayang).

Semar dengan ketiga anggota lainnya, Gareng, Petruk, dan Bagong, dengan penampilan aneh, sepintas tugas mereka hanya sebatas pada melucu dan mengurangi ketegangan para penonton yang sudah memuncak di tengah malam.

Namun, peran dari anggota Ponokawan bakal berbeda saat Anda melihat penampilan sejumlah siswa SDN Tanjung Jati I, Kamal, Bangkalan, di Polsek Kamal pada 11 Januari 2016 kemarin.

Saat dihelat lomba sholawat tingkat SD se Kecamatan Kamal, sejumlah siswa SDN Tanjung Jati I berperan sebagai anggota Ponokawan yang mengiringi penyanyi dalam perhelatan tersebut. Tidak hanya itu, di sejumlah kegiatan siswa, karakter Ponokawan tak pernah alpa. Bahkan, pada

25 Januari 2016 siang, sekira 20 siswa diundang untuk iring-iringan pesta pernikahan salah seorang warga di sekitar sekolah.

“Kesenian Ponokawan sudah lama kita lestarikan di sekolah ini. Setiap kegiatan kami pasti ikut dengan menyertakan kesenian tersebut,” kata Kepala Sekolah SDN Tanjung I, Kamal Bangkalan, Choirul Maghfur, Senin (25/1).

Ponokawan yang terdiri dari kata Pono “visi yang jelas, pendamping berarti pintar” dan Kawan, yang berarti “pintar dengan visi yang jelas, dapat memberikan nasihat yang bijaksana.” menjadi identitas di SDN Tanjung Jati I.

“Yang menjadi ciri khas di SDN disini Ponokawan. Karena disini sebagian besar pendatang dari Jawa. Orangtua siswa dari Jawa itu banyak yang bekerja di tempat pemotongan besi kapal,” ujarnya.

Terlepas dari itu, SDN Tanjung Jati I juga patut berbangga. Sebab, tiap tahun terjadi peningkatan jumlah siswa. Pada tahun ajaran 2014/2015, jumlah siswa baru sebanyak 22 siswa. Lalu di tahun ajaran berikutnya pada 2015/2016, jumlah siswa baru meningkat menjadi 42 siswa.

“Kita promosi, melakukan pentas seni, semua kegiatan kami ikuti, dan yang penting berbaur dengan masyarakat,” ujarnya.

Namun ada satu hal yang membuat dilema guru, yaitu suara bising yang ditimbulkan dari tempat pemotongan besi kapal. “Suara itu mengganggu, tapi mau bagaimana lagi itu mata pencaharian orangtua siswa. Tapi pada saat ujian, kami minta kepada pengelola agar kegiatan dihentikan sementara sampai ujian selesai.,” katanya. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s